Belajar Hening Sejak Dini: Catatan Kecil dari Stasi Serba Jadi

Katolikana.com – Di sebuah rumah umat yang sederhana, anak-anak duduk rapi dalam suasana hening. Di depan mereka, simbol-simbol iman tertata dengan hormat. Tidak ada kemegahan, tetapi ada kesungguhan. Dari ruang kecil inilah proses pembentukan iman anak-anak Stasi Serba Jadi tumbuh secara perlahan namun nyata.

Stasi Serba Jadi berada di wilayah Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat, Keuskupan Agung Medan. Di stasi ini, formasio liturgi tidak berhenti pada perayaan di gereja, tetapi berakar dari kehidupan keluarga dan lingkungan. Sudut doa di rumah menjadi ruang pertama anak belajar membuat tanda salib dengan benar, menundukkan kepala saat doa, serta membiasakan diri dalam keheningan.

Pembiasaan sederhana ini memberi dampak konkret. Anak-anak tidak lagi sekadar hadir dalam doa lingkungan atau perayaan Ekaristi, tetapi mulai menunjukkan sikap liturgis: duduk tenang, mengikuti tata gerak dengan tertib, dan menghormati simbol-simbol suci. Sikap tersebut bukan muncul secara instan, melainkan buah dari pembinaan yang dijalankan secara konsisten.

Konsili Vatikan II melalui Sacrosanctum Concilium menegaskan bahwa liturgi adalah “puncak dan sumber kehidupan Gereja” (SC 10). Sebagai sumber kehidupan iman, liturgi perlu diperkenalkan sejak dini agar membentuk seluruh cara hidup umat. Dalam konteks Stasi Serba Jadi, keluarga dan komunitas menjadi perantara yang menghadirkan sumber itu dalam keseharian anak.

Refleksi ini diperdalam oleh Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik Desiderio Desideravi, yang menegaskan bahwa liturgi membentuk disposisi batin umat beriman (DD 20). Liturgi bukan sekadar memahami ritus, tetapi mengalami misteri keselamatan yang dirayakan. Melalui pengalaman konkret berdoa dan berpartisipasi, anak-anak dibentuk untuk memiliki sikap hormat, sadar, dan penuh perhatian terhadap kehadiran Allah.

Dalam doa lingkungan, anak-anak belajar bahwa iman tidak dijalani sendiri. Mereka melihat dan meniru sikap orang dewasa dalam mendengarkan Sabda Tuhan serta mengikuti tata perayaan. Dari proses tersebut, tumbuh kesadaran bahwa liturgi bukan kegiatan seremonial belaka, melainkan perjumpaan dengan Allah yang hidup di tengah umat-Nya.

Pengalaman Stasi Serba Jadi menunjukkan bahwa formasio liturgi yang sederhana namun konsisten—di rumah, lingkungan, dan gereja—mampu membentuk iman anak secara nyata. Dari kebiasaan kecil seperti duduk hening dan membuat tanda salib dengan sungguh, lahir generasi yang perlahan belajar mencintai liturgi sebagai bagian dari hidupnya.

Maria Rosari Br Saragih, Tanjung Selamat, Medan

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Comments (0)
Add Comment