Pesta Perak Imamat Romo Laurentius Rakidi, Romo Guido Suprapto, dan Romo Antonius Sugianto: Tuhan Mencintai Kami

Tugas seorang imam itu berat, yaitu menghadirkan Yesus bagi Gereja.

0 219

Katolikana.com—“Kami bersyukur atas rahmat dan penyertaan Tuhan yang diberikan kepada kami bertiga sehingga bisa menjalani hidup sebagai imam yang sudah berlangsung selama 25 tahun.”

Hal ini diungkapkan oleh Romo Laurentius Rakidi dalam sambutannya pada perayaan Ekaristi Syukur 25 tahun Imamatnya bersama Romo Guido Suprapto, dan Romo Antonius Sugianto.

Perayaan Syukur para imam diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal) yang ditahbiskan oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ di Paroki St. Maria Assumpta Mojosari, BK 9 Belitang pada 27 Januari 1999 ini dilaksanakan di Aula Gratia, Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (27/1/2024).

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, hadir memimpin Perayaan Ekaristi didampingi Uskup Emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan belasan imam konselebran.

Para pestawan, (Kiri-Kanan), Romo Guido Suprapto, Romo Antonius Sugianto dan Romo Laurentius Rakidi.

Imam yang saat ini berkarya sebagai Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Direktur Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo Palembang ini juga membagikan pengalaman perjalanan imamat yang diolah dalam hari-hari triduum menjelang puncak Pesta Perak.

“Kami masing-masing menyadari dan mensharingkan bahwa ternyata dalam melaksanakan apa yang seharusnya menjadi tuntutan-tuntutan sebagai seorang imam, kami belum bisa melaksanakannya dengan sempurna. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam upaya untuk mewujudkan hidup sebagai imam, sebagai gembala yang baik,” ungkap Romo Rakidi.

Lebih lanjut, dalam perayaan sederhana yang dihadiri oleh keluarga besar Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo dan sejumlah tamu undangan ini, Romo Rakidi juga menambahkan landasan utama yang menjadi pijakan sehingga dapat bertahan dan menjalani hidup imamat sampai 25 tahun.

“Kami terus berusaha untuk mencari dan menemukan landasan utama sehingga dapat menjalani perutusan sebagai imam hingga saat ini. Bagi kami landasan itu adalah keyakinan bahwa Tuhan mencintai kami. Kendati kami orang berdosa yang rapuh, kami tetap dicintai oleh Tuhan. Selanjutnya, hal utama yang membuat kami kuat dalam menjalani hidup imamat adalah Ekaristi, di sana kami menimba daya kekuatan Ilahi,” tegasnya.

Para pestawan bersama Uskup dan para imam konselebran.

Gereja Membutuhkan Imam

Mgr. Yohanes dalam homilinya mengajak semua yang hadir untuk mengingat Pesan Paus Benediktus XVI yang menegaskan bahwa semakin modern dunia, semakin membutuhkan imam untuk membawa dunia dengan segala isinya yang disayangi oleh Allah.

“Masih ada banyak tempat yang belum mendapatkan imam. Memang seminaris kita cukup jumlahnya, tetapi berapa nanti sampai ke ujung dan berapa imam-imam kita yang tetap akan sehat untuk ke depan. Maka, Gereja di manapun selalu membutuhkan imam. Kapan saja dan di mana saja Gereja selalu membutuhkan imam, pun kalau jaman ini semakin modern, semakin memawarkan berbagai kemudahan, pesona, dan godaan,” tegasnya.

“Semoga kita para imam, di mana pun menghidupi imamat kita dengan kesetiaan yang terus dipelihara, diperjuangkan setiap hari. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Marilah kita setia pada hidup yang sudah dianugerahkan kepada kita,” harap Bapa Uskup.

Para pestawan memotong tumpeng sebagai ungkapan syukur 25 tahun imamat.

Gereja yang Stabil

Hal senada juga disampaikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Dalam sambutannya, Uskup Emeritus menegaskan pentingnya kehadiran imam diosesan di tengah Gereja.

“Kita harus sadar bahwa suatu Gereja atau keuskupan itu membutuhkan kestabilan, tetapi kalau mampunyai imamnya sendiri. Jadi imam diosesan adalah orang yang rela memberikan diri untuk umat, untuk Gereja di keuskupan, untuk keadaan apapun di keuskupan. Itu yang membuat stabil. Bukan berarti bahwa imam kongregasi tidak begitu, juga harus begitu, hanya mereka mempunyai suatu semangat berbeda tetapi imam diosesan itu penting untuk kestabilan sebuah Gereja,” ungkap Mgr. Sudarso.

Bapa Uskup juga menegaskan bahwa imamat lahir ketika Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para muridNya dan dalam perjamuan itu Yesus memberikan kenangan abadi. Menurut Bapa Uskup tugas imam itu berat, yaitu menghadirkan Yesus bagi Gereja.

“Tugas seorang imam itu berat, yaitu menghadirkan Yesus bagi Gereja. Hal yang penting bagi seorang imam adalah bagaimana merenungkan, bagaimana tumbuh, berkembang dalam hidup ketika menjalankan tugasnya sebagai imam. Apalagi ketika kita menyadari dalam diri umat Tuhan juga bekerja, karena di dalamnya Roh Tuhan juga hadir,” tegas Bapa Uskup. (*)

Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang, saat ini berkarya di Seminari Menengah St. Paulus Palembang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.