Lembaga Pendidikan Katolik dan Perutusan di Bidang Politik dan Demokrasi di Indonesia

Pendidik pertama-tama adalah seorang saksi. Ia hanya menjadi guru sejauh ia menjadi saksi.

0 30

Katolikana.com—Dinamika politik menjelang Pemilu 2024 memunculkan suara-suara kritis dari lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, terhadap proses demokrasi bangsa akhir-akhir ini.

Sejumlah dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi Katolik terlibat dalam seruan moral dan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan darurat demokrasi.

Melihat fakta ini, apakah lembaga pendidikan Katolik perlu terlibat dalam dinamika politik Pemilu? Bagaimana posisi lembaga pendidikan Katolik sebagai utusan untuk merasul di tengah dunia?

Karya Perutusan

Pada masa awal penjelajahan dunia untuk kolonialisasi, para penjelajah dari Eropa mengelilingi dunia dengan tiga tujuan utama, yakni mencari emas, menyebarkan agama dan mencari kemengangan atau nama baik (gold, gospel and glory) (Amalia, 2013).

Salah satu strategi untuk menunjang penyebaran agama, maka misi-misi Eropa membangun berbagai fasilitas penunjang hidup untuk bidang kesehatan, pendidikan maupun ekonomi.

Di daratan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur misalnya, banyak sekolah dibangun oleh misi Eropa untuk memperkuat penyebaran agama di wilayah itu.

Dalam pembangunan sekolah-sekolah ini, semangat Injili yakni untuk menyebarkan kabar gembira dan membangun Kerajaan Allah di dunia, dengan menciptakan kesejahteraan. Hal ini dilakasanakan dalam semangat menjalankan karya perutusan sebagaimana pesan-pesan perutusan dalam Injil.

Lembaga pendidikan Katolik pun terus berkembang seiring waktu. Tak sedikit tantangan muncul di dalam dinamika pendidikan Katolik sebagai utusan. Tidak terkecuali, tantangan datang dari dinamika situasi politik dan demokrasi di Indonesia dari masa ke masa, dari rezim ke rezim.

Sebenarnya, tantangan orang Katolik sebagai utusan bukan merupakan hal yang baru. Hampir semua cerita di dalam Injil merupakan cerita perutusan dengan berbagai tantangannya.

Perutusan itu diberikan Tuhan kepada umat-Nya. Kita bisa melihat itu sejak perutusan Adam untuk menjaga taman Eden (bdk. Kej, 2:5), perutusan Abraham ke Kanaan sebagai tanah terjanji (Kej. 12:1).

Ada juga perutusan para nabi seperti Elia kepada seorang janda Di Sarfat saat langit tertutup tanpa hujan akibat bangsa Israel yang melanggar perintah Tuhan (bdk. 1 Raj, 17:9). Tuhan juga Elisa yang menyembuhkan Naaman seorang asing (2 Raj 5).

Musa diutus oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudaka Mesir (Kel, 3: 1). Daud pun mengalami pengurapan Samuel dan diutus untuk menjadi Raja Israel (2 Sam, 12).

Puncaknya, Allah pun mengutus Yesus, Putranya sendiri  sebagai Sabda Yang menjadi Daging, Mesias yang menjadi manusia dan turun ke dunia.

Perutusan Allah itu pun terjadi dalam ragam bentuk, baik Allah datang melalui mimpi, bertemu malaikat, dipanggil oleh Tuhan lewat semak yang terbakar, atau mendengarkan pesan Allah melalui nabi terdahulu.

Ragam perutusan itu tentu bergantung pada dari kondisi dan situasi orang-orang yang selalu berbeda dari masa ke masa dan dari zaman ke zaman. Namun satu yang sama dari semua itu adalah perutusan itu memiliki misi yang sama, yakni misi untuk menyelamatkan umat manusia.

Yesus mengutus para murid juga untuk membawa keselamatan (Markus, 6:7-13). Mereka diutus untuk mengajak orang bertobat, membantu dan menyembuhkan yang sakit. Tindakan-tindakan ini merupakan bentuk dari pewartaan kerajaan Allah untuk keselamatan manusia.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah: perutusan Yesus itu bukan tanpa syarat dan tanpa tantangan, karena para murid hanya diizinkan membawa tongkat, alas kaki, dan baju secukupnya.

Fakta ini menunjukan bahwa perutusan Yesus tidak mudah untuk dijalankan, termasuk dalam perutusan-perutusan karya misi dalam bidang pendidikan, termasuk dalam situsi dan dinamika politik seperti sekarang ini.

Sekolah Katolik dan perutusan.

Sekolah Katolik dan Perutusan

Hari-hari ini, banyak kegiatan awal tahun yang di buat di sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi. Tentunya kegiatan belajar dan mengajar tidak dibuat tanpa tujuan, baik itu kegiatan akademik, maupun non akademik, yang bersifat rohani maupun jasmani.

Di awal 2024 ini muncul berbagai dinamika di tanah air, baik dinamika kontestasi calon wakil rakyat dan calon presiden atau pun wakil presiden serta naik-turunnya demokrasi.

Pada kesempatan ini lembaga pendidikan Katolik diajak berefleksi lebih jauh, berpikir lebih dalam, serta mengimplementasikan dengan lebih sungguh karya perutusan demi keselamatan manusia.

Pertama, fakta menunjukan bahwa lembaga pendidikan Katolik tidak bisa terlepas dari kehidupan dan konteks kekuasaan politik. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berimplikasi pada lembaga pendidikan Katolik.

Kedua, penting untuk diingat bahwa memilih calon pemimpin atau calon wakil rakyat yang punya sikap konformitas terhadap lembaga pendidikan agama adalah bentuk untuk merawat etika dan tanggung jawab terhadap umat manusia.

Sebagaimana kita tahu, pendidikan Katolik senantiasa mengajarkan nilai-nilai etika dan moral seperti respek, rendah hati, jujur, tanggungjawab serta cinta terhadap manusia dan alam.

Ketiga, dengan memilih pemimpin yang bisa memastikan keberlanjutan model pendidikan dengan penanaman nilai, secara tidak langsung akan menjadi utusan yang meneruskan nilai-nilai pendidikan etika dan moral yang telah dikembangkan oleh lembaga pendidikan Katolik.

Mengulangi pesan Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Bruder-Bruder De la Salle, 21 Mei 2023, bahwa sekolah katolik tidak boleh hanya nama, tetapi juga di dalam fakta.

Terkhusus untuk pendidik Paus menegaskan bahwa pendidik atau guru pertama-tama adalah seorang saksi, dan ia hanya menjadi guru sejauh ia menjadi saksi.

Salah satu hipotesis yang bisa dibangun adalah bahwa setiap jalan yang ditempuh dan setiap kejadian yang dialami lembaga pendidikan Katolik, tentu tidak terjadi begitu saja.

Setiap situasi yang terjadi, termasuk pergolakan politik dan demokrasi di Indonesia, merupakan bagian dalam rancangan yang telah diberikan oleh Yang Kuasa.

Lembaga pendidikan Katolik tentu memiliki misi dan tujuan sebagai utusan Tuhan, termasuk menjadi utusan dalam demokrasi di Indonesia demi membawa kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. (*)

 

Pengajar STPM St Ursula, Ende

Leave A Reply

Your email address will not be published.