Joko Pinurbo dan Tantangan Menciptakan Kejernihan

Nanti yang akan melanjutkan setelah saya siapa?

0 111

Oleh Labeta, penikmat puisi, mantan penyiar Radio Katolikana.

Katolikana.com—Sabtu (27/4/2024), Indonesia meratap kehilangan salah satu putra terbaiknya dalam jagad sastra, Joko Pinurbo, dalam usia 61 tahun. Joko Pinurbo berpesan agar makin banyak orang muda Katolik tertarik di dunia sastra.

Philipus Joko Pinurbo, atau akrabnya disapa Pak Jokpin, menemukan panggilan sejatinya dalam dunia sastra ketika menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan.

Berawal dari sering membaca buku-buku sastra di perpustakaan seminari, dia pertama kali mencoba menulis artikel mengenai tata bahasa di Harian Kompas. Sejak saat itu, cintanya pada sastra, khususnya puisi, mengalir begitu deras.

Kiasan dan Majas

Jokpin dikenal akan keahlian uniknya dalam memanfaatkan kiasan dan majas. Menurut Jokpin, puisi dibekali berbagai peralatan bahasa, salah satunya kiasan dan majas.

Dia sering menggunakan kiasan ini untuk mengungkapkan istilah yang sebetulnya tabu tetapi menjadi lebih sublim, sehingga pembaca lebih bisa menyelami substansi.

“Salah satu seni menulis puisi itu menciptakan sensasi, tetapi bukan sensasi yang dangkal. Sensasi yang diciptakan, itu sensasi yang bisa mengubah persepsi publik yang sudah terbiasa dengan ungkapan-ungkapan tertentu lalu diberi ungkapan yang berbeda. Meski kadang menimbulkan perbedaan pemahaman, seperti puisi Celana Ibu, kadang disalahartikan dan dianggap sebagai penghinaan,” ujar Jokpin.

Menurut Jokpin, kecintaan terhadap sastra atau kegemaran menulis akan tumbuh jika seseorang punya kebiasaan membaca yang cukup.

Awalnya Joko Pinurbo juga jatuh cinta karena membaca di SMA, lalu lama-lama tertarik untuk menulis.

“Kalau menulis tanpa membaca, kita akan tahu teknik menulis itu dari mana? Kan pasti tahu dari karya-karya yang dibacanya,” ujarnya.

Menurut Jokpin, jika Anda ingin menjadi penulis puisi, ada beberapa pengarang yang wajib dibaca.

Dia menyebut sejumlah nama, antara lain: Chairil Anwar, W. S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, M. Aan Mansyur, Sindhunata, Adimas Immanuel (pernah membuat buku puisi berdasarkan Kitab Suci), Mario F. Lawi (luar biasa, dia bisa menggali narasi-narasi kitab suci secara aktual).

“Mereka semua awalnya orang-orang yang gila baca dari usia yang sangat muda, kemudian tumbuh menjadi penulis,” kata Jokpin.

“Jika mau jadi penulis, jangan belajar menulis dahulu, tapi membaca dahulu. Pertama-tama banyak membaca, lalu nanti akan menemukan sendiri versi dan gaya menulis yang baik itu seperti apa,” ujar Jokpin.

Kadang orang mengaku tertarik menulis lalu ikut pelatihan menulis padahal membacanya saja belum banyak. Daripada repot-repot ikut pelatihan menulis, lebih baik banyak membaca. Nanti akan dengan sendirinya bisa belajar menulis,” tambahnya.

Tata Bahasa Sebelum Puisi

Pentingnya memahami tata bahasa sebelum menulis puisi menjadi landasan kokoh bagi Joko Pinurbo dalam mengekspresikan dirinya.

Menurut dia, karena alat yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, maka dia mempelajari tata bahasa Indonesia.

“Syukurlah, Ketika di SMA, saya mempunyai guru bahasa Indonesia yang keras dalam hal disiplin terhadap tata Bahasa Indonesia,” ujar Jokpin.

“Sebelum orang menulis berbagai karya sastra, dia harus bia menulis dengan kalimat dengan SPOK yang jelas, karena kita bermain dengan logika tingkat tinggi,” papar Jokpin.

“Nah, kalau orang tidak menguasai, maka puisinya tidak bisa dinikmati. Saya termasuk orang yang fanatik terhadap gramatika dan tata bahasa, supaya bisa menyampaikan pikiran-pikiran secara tertib dan agar bisa dinikmati oleh kalangan luas. Jadi basisnya dari pengetahuan dan tata bahasa,” tambahnya.

Puisi di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan tantangan baru bagi penulis, termasuk para penyair seperti Joko Pinurbo.

‘Sekarang kita dimanjakan oleh teknologi informasi dan komunikasi yang bisa semakin memudahkan orang untuk berkreasi secara cepat. Tantangannya yaitu menghindari bagaimana tidak menciptakan karya-karya yang sifatnya instan karena tuntutan teknologi informasi dan komunikasi,” ujar Jokpin.

“Di satu pihak kita dimudahkan dengan berbagai fasilitas, tetapi untuk proses kreatif tantangannya yaitu bisa mengatasi sifat-sifat instan dari media digital yang sering bikin kita ketagihan untuk cepat-cepat menghasilkan karya,” paparnya.

Menurut Jokpin, zaman dulu tantangannya lebih ke situasi zaman, kondisi bangsa, dan sebagainya. Sekarang perkembangan teknologi informasi komunikasi itu telah mengubah banyak hal, mengubah gaya hidup masyarakat di berbagai penjuru dunia, di mana pun. Dan itu juga bisa semakin mengaburkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Tantangan saat ini bagaimana bisa menciptakan kejernihan dan juga jembatan yang bening terhadap berbagai nilai kehidupan di tengah zaman yang diwarnai oleh kebisingan dan keriwehan oleh media sosial. Tantangan terbesar adalah mengatasi sifat instan dalam berkarya,” tegasnya.

Jokpin mengaku, di sisi lain, kemajuan media sosial merupakan alat promosi dan distribusi karya sastra, sehingga buku-bukunya dicetak ulang. Dia juga pernah menggunakan Twitter untuk mengunggah puisi pendek yang akhirnya dijadikan buku.

Kebebasan Penyair

Dalam merangkai kata-kata, Joko Pinurbo memahami bahwa kebebasan berekspresi haruslah diiringi dengan tanggung jawab.

Menurut Jokpin, sebelum digunakan oleh penulis, kata apa pun bersifat netral. Penggunaan kata-kata ini sebetulnya tergantung konteks.

“Kata-kata itu netral. Penulis lah yang bisa membuat kata-kata itu memiliki konotasi yang sifatnya positif maupun negatif. Kebebasan berekspresi itu tetap, tetapi kita hidup di masyarakat yang memiliki sensitivitas tertentu..

“Terus teras saja dalam puisi-puisi saya itu berkali-kali menggunakan kata ASU dan itu tidak pernah dipersoalkan orang. Karena apa? Karena memang konteksnya sesuai. Jadi menurut saya, kalau kita menggunakan kata-kata ini harus juga sesuai konteks, supaya tidak melanggar batas-batas sensitivitas masyarakat,” ujar Jokpin.

“Saya sering kok menggunakan kata-kata yang sering dianggap kontroversial. Memang tidak ada kebebasan yang sifatnya mutlak. Artinya kebebasan yang sifatnya egoistis,” kata Jokpin.

“Sebebas-bebasnya saya menggunakan kata-kata, saya juga tetap mempertimbangkan batas-batas sensitivitas masyarakat agar karya saya tidak terkenal karena menimbulkan kontroversi. Seperti ketika saya menulis puisi menggunakan kata ASU,” tandasnya.

Pesan dan Warisan

Joko Pinurbo meninggalkan pesan untuk generasi penerus, terutama muda-mudi Katolik, agar lebih banyak yang menggeluti dunia sastra. Jokpin melihat kurang sekali yang terjun dalam dunia sastra Indonesia ini.

“Misalnya, dalam penulisan puisi ini saya bingung, ini nanti yang akan melanjutkan setelah saya siapa. Menurut saya sastra ini kan sebuah media untuk mengembangkan penghayatan kita juga terhadap nilai-nilai kemanusiaan, termasuk menyebarluaskan sabda Tuhan dengan cara tertentu,” ujar Jokpin.

“Saya berharap semakin banyak anak muda Katolik yang tertarik terhadap penulisan sastra. Jadilah kreator bukan hanya menjadi konsumen!” tegasnya.

Senyum dan Kata

Karya-karya Joko Pinurbo dikenal masyarakat sebagai karya yang cerdas dan sederhana. Puisinya lugas, satire tetapi menggelitik. Larik puisinya sederhana namun sarat makna perenungan yang mendalam. Joko Pinurbo telah mewarnai dunia perpuisian Indonesia.

Karya-karya Joko Pinurbo sering kali bernuansa ironi dan satire yang mengundang pembaca untuk merenung dan tersenyum dalam satu waktu yang bersamaan.

Puisi-puisinya yang terkenal seperti “Kamar Puisi”, “Celana”, dan “Sajak Kopi” tidak hanya memikat hati pembaca di Indonesia, tetapi juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, menunjukkan pengaruh dan pentingnya karya Jokpin dalam sastra global.

Kepergian Joko Pinurbo tentunya meninggalkan kesedihan mendalam dalam dunia sastra Indonesia. Namun, warisan kata-katanya yang penuh warna dan bernas akan terus hidup dan menginspirasi generasi yang akan datang.

Sebagai sastrawan yang selalu dikenang dengan senyum dan kata-katanya yang penuh makna, Joko Pinurbo tidak hanya mencetak sejarah dengan karyanya, tetapi juga dengan cara dia membawa puisi lebih dekat ke hati masyarakat luas.

Selamat jalan, Joko Pinurbo. Semoga puisimu akan terus mengalir, membawa makna dan inspirasi bagi banyak orang.(*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.