Belajar dari Kontroversi Unggahan Erina Gudono

Reaksi netizen yang marah terhadap unggahan tersebut mencerminkan ketidakpuasan terhadap ketimpangan sosial.

Katolikana.com—Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh unggahan Erina Gudono, menantu presiden Indonesia yang tengah melakukan perjalanan menuju Amerika Serikat untuk melanjutkan studi magister di salah satu universitas ternama.

Unggahan tersebut menjadi viral ketika netizen menyadari bahwa jendela pesawat yang tampak dalam foto bukanlah jendela pesawat komersial biasa, melainkan jet pribadi.

Dugaan awal warganet tentang penggunaan pesawat jet pribadi tersebut memicu spekulasi dan kontroversi lebih lanjut, yang kemudian mengarah pada pemberitaan bahwa jet pribadi tersebut adalah bentuk gratifikasi dari sebuah perusahaan Singapura.

Tak hanya berhenti di situ, Erina Gudono juga membagikan foto-foto yang menunjukkan kemewahan lainnya, seperti pembelian perlengkapan bayi dengan harga sekitar 20 juta rupiah dan mengomentari betapa mahalnya roti seharga 400 ribu rupiah.

Aksi ini membuat warganet semakin berang, terutama mengingat kondisi Indonesia saat ini yang masih dipenuhi dengan ketimpangan ekonomi yang mencolok antara si kaya dan si miskin.

Di saat banyak warga Indonesia berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, sang menantu justru dengan santai mendokumentasikan gaya hidup mewahnya.

Hal ini membuat warganet menjulukinya sebagai ‘Marie Antoinette modern’, sebuah referensi yang merujuk pada ratu Perancis yang terkenal dengan ketidakpekaannya terhadap penderitaan rakyat jelata.

Ketimpangan Nyata

Reaksi netizen yang marah terhadap unggahan tersebut mencerminkan ketidakpuasan yang lebih dalam terhadap ketimpangan sosial di Indonesia. Di satu sisi, ada mereka yang dapat menikmati kekayaan dan privilese yang memungkinkan mereka untuk terbang dengan jet pribadi dan berbelanja barang-barang mahal tanpa perlu khawatir tentang tagihan.

Di sisi lain, ada guru-guru honorer yang berjuang untuk bertahan hidup dengan gaji yang bahkan tidak mencapai 400 ribu rupiah per bulan.

Ketimpangan ini menciptakan jurang yang lebar antara mereka yang beruntung dan mereka yang kurang beruntung, dan unggahan sang menantu presiden hanya memperbesar jurang tersebut.

Ketimpangan sosial ini juga menjadi cerminan ketidakadilan sistemik di masyarakat. Ketika orang-orang di ring 1 pemerintahan, seperti menantu presiden, bisa menikmati kehidupan yang begitu mewah, rakyat biasa justru terjebak dalam siklus kemiskinan yang sulit untuk dipecahkan.

Hal ini tidak hanya menimbulkan rasa frustrasi, tetapi juga mempertegas perasaan ketidakadilan di antara masyarakat yang merasa bahwa kebijakan-kebijakan yang ada tidak berpihak pada mereka.

Reaksi Netizen

Di tengah maraknya kritik terhadap gaya hidup mewah sang menantu, ada pula netizen yang menyerang aspek-aspek pribadi yang sebenarnya tidak relevan dengan isu ketimpangan sosial yang sedang dibahas.

Beberapa netizen bahkan sampai mengomentari bau badan dan kesalahan penulisan kata “semester” menjadi “semister” dalam unggahan tersebut.

Serangan-serangan personal semacam ini sebenarnya tidak membantu dalam mengarahkan diskusi ke arah yang lebih konstruktif.

Sebaliknya, serangan ini justru mengalihkan perhatian dari isu utama, yaitu ketimpangan sosial dan tanggung jawab moral pejabat publik serta keluarganya untuk hidup lebih sederhana dan lebih peka terhadap kondisi masyarakat.

Sebagai masyarakat, kita tentu boleh merasa marah dan kecewa terhadap ketidakadilan. Namun, kita juga perlu mengingat pentingnya menjaga fokus pada substansi masalah.

Dengan mengomentari hal-hal personal, kita justru berisiko kehilangan kesempatan untuk mendorong perubahan yang lebih besar.

Bijaklah dalam berkomentar, seperti diajarkan dalam Amsal 13:20: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Mari kita menjadi netizen yang bijak, yang fokus pada isu-isu yang benar-benar penting dan menginspirasi orang lain untuk bersikap lebih bijaksana.

Komitmen Keadilan

Sebagai menantu presiden, Erina memiliki posisi strategis untuk memengaruhi perubahan di masyarakat. Di tengah kritik yang mengarah padanya, ini adalah momen yang tepat bagi Erina untuk menunjukkan komitmen terhadap keadilan sosial.

Sebagai seorang yang tengah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, tentu ia memiliki kesempatan untuk belajar banyak tentang kebijakan publik dan keadilan sosial.

Dengan segala sumber daya dan privilese yang dimilikinya, Erina dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas.

Momen ini bisa menjadi titik balik bagi Erina untuk lebih memahami tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia yang kurang beruntung.

Kesempatan ini untuk menjadi contoh yang baik bahwa kekayaan dan privilese dapat digunakan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang.

Tanggung Jawab Kita

Kita juga harus melihat diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. Di tengah ketimpangan sosial yang ada, kita perlu bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau mereka yang berada di lingkaran kekuasaan, tetapi juga tugas kita semua sebagai warga negara.

Sebagai umat Katolik, kita diajarkan untuk hidup dalam keadilan dan kasih. Kita diajarkan untuk tidak hanya memperhatikan diri kita sendiri, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan orang lain, terutama mereka yang paling membutuhkan.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk selalu mengingat bahwa setiap tindakan kita, baik besar maupun kecil, dapat memberikan dampak pada orang lain. (*)

Lahir di Bandung, domisili Jakarta. Pemerhati pendidikan, isu sosial, dan psikologi umum. No IG, prefer genuine relationship. Let’s make Indonesia greater than before!

Erina Gudonoviral
Comments (0)
Add Comment