Surakarta, Katolikana.com—Bangsa Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional ke-78 pada Sabtu (12/7/2025). Ini adalah momentum untuk merefleksikan kembali jati diri koperasi sebagai tulang punggung perekonomian rakyat.
Mengusung tema “Koperasi Maju, Indonesia Adil dan Makmur”, peringatan ini menjadi ajakan bersama untuk meneguhkan kembali semangat gotong royong dan keadilan sosial di tengah tantangan zaman.
Dalam sejarah bangsa, koperasi bukan sekadar bentuk usaha, melainkan gerakan sosial dan budaya ekonomi yang berpijak pada nilai kekeluargaan. Dr. Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, meletakkan koperasi sebagai landasan utama dalam membangun ekonomi nasional yang berkeadilan.
Semangat ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia disusun atas usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. Hari ini, semangat itu hidup kembali melalui berbagai upaya penguatan koperasi di seluruh Indonesia.
Koperasi di Tengah Tantangan
Data dari Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menunjukkan bahwa mayoritas koperasi di Indonesia masih berkutat di sektor simpan pinjam.
Keragaman usaha koperasi belum berkembang secara signifikan, menjadi tantangan yang kini coba dijawab melalui Program Koperasi Merah Putih, yang rencananya akan diluncurkan pada 19 Juli 2025 di Klaten, Jawa Tengah.
Targetnya, terbentuk 80.000 koperasi baru di Indonesia yang lebih adaptif dan menjawab kebutuhan zaman.
Namun, tantangan mendasar tetap ada. Menurut Said Abdullah, Pengawas Dekopin, ada sejumlah persoalan yang perlu dijawab insan koperasi:
- Citra koperasi yang sempat tercoreng karena praktik fraud di masa lalu
- Tata kelola yang belum profesional dan akuntabel
- Akses teknologi dan pasar yang terbatas
- Rendahnya literasi digital dan keuangan anggota
- Volume usaha koperasi yang hanya menyumbang 0,97% dari PDB nasional, dibandingkan UMKM yang mencapai 63%
“Koperasi harus menjadi sarana pendidikan rakyat dan wahana berhimpun, bukan sekadar entitas ekonomi, tetapi ruang komunal yang mendorong perubahan sosial,” tegas Said.
Ekonomi Fransiskus
Peringatan Hari Koperasi tahun ini secara menarik bertepatan dengan refleksi umat Katolik atas gerakan Ekonomi Fransiskus—sebuah inisiatif global yang dicetuskan oleh Paus Fransiskus pada 2019.
Gerakan ini mengajak generasi muda, ekonom, dan wirausahawan di seluruh dunia untuk membangun sistem ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan inklusif, berakar pada nilai solidaritas, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ekonomi Fransiskus menjadi panggilan moral untuk keluar dari model ekonomi yang eksploitatif dan eksklusif, menuju ekonomi yang berpusat pada martabat manusia dan kebaikan bersama.
Di sinilah titik temu antara koperasi dan Ekonomi Fransiskus menjadi jelas. Demokrasi ekonomi yang dihidupi dalam koperasi—berbasis keterbukaan, akuntabilitas, partisipasi, dan tanggung jawab—selaras dengan semangat Injili dan ajaran sosial Gereja.
Credit Union dan Gereja
Di berbagai keuskupan di Indonesia, Komisi PSE (Pelayanan Sosial Ekonomi) telah lama menjadi garda depan dalam membangun ekonomi rakyat. Melalui pengembangan Credit Union (CU) dan penguatan UMKM, Gereja Katolik turut mewujudkan prinsip subsidiaritas dan solidaritas sosial.
Di Keuskupan Agung Semarang, jejaring digital UMKM seperti SEGAYUB dan pelatihan rutin bagi pelaku usaha menjadi bukti nyata gerakan pemberdayaan umat. Credit Union juga menjadi kanal konkret mewujudkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) dalam kehidupan umat.
Dalam Seminar Nasional PUSKOPCUINA, Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan bahwa Credit Union adalah wujud nyata dari Ajaran Sosial Gereja. Gereja mau terlibat dalam prakarsa pemberdayaan masyarakat akar rumput, termasuk ekonomi kerakyatan, pelestarian lingkungan, dan pertanian organik.
Tantangan dan Jalan Pembaruan
Tidak dimungkiri, masih banyak koperasi yang menghadapi kesulitan struktural: manajemen yang lemah, kurangnya transparansi, dan keterbatasan inovasi. Namun upaya pembenahan terus dilakukan, baik melalui pembinaan dari Dinas Koperasi, maupun penerapan standar tata kelola yang lebih baik seperti sertifikasi pengurus, implementasi SOP koperasi, dan sistem pelacakan riwayat kredit melalui SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan).
Dalam pelatihan yang digelar di PLUT Surakarta (1–3 Juli 2025), berbagai koperasi dilatih untuk memperbaiki sistem, membangun integritas, dan memperkuat semangat pelayanan kepada anggota.
Koperasi sebagai Jalan Murid-Murid Kristus
Hari Koperasi bukan sekadar seremoni, melainkan momen untuk kembali pada akar spiritual dan sosial gerakan ini. Dalam terang iman Katolik, koperasi bukan hanya soal untung rugi, tetapi tentang menyemai keadilan, solidaritas, dan martabat manusia.
Kiranya, melalui semangat Ekonomi Fransiskus, gerakan koperasi dapat menjadi bagian dari jalan para murid Kristus yang setia mewartakan Injil melalui kehidupan sehari-hari—di ladang usaha, di komunitas basis, dan dalam pelayanan kepada yang paling kecil. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta