Kuota Doa yang Tak Pernah Habis
Doa tak pernah sia-sia. Dari mainan ketiga yang tertunda, kita belajar: Tuhan menjawab sesuai kebutuhan, cara, dan waktu-Nya.

Oleh Stanley E. E. Tjoa

Katolikana.com – Ada sebuah kisah sederhana tentang seorang anak kecil yang takut meminta kepada Tuhan. Ketakutan itu lahir dari sebuah kesalahpahaman: ia mengira doa memiliki batas kuota. Ia berpikir bahwa setiap manusia hanya memiliki sejumlah kesempatan tertentu untuk dikabulkan.

Dulu, ia begitu percaya. Ia meminta mainan pertama, Tuhan memberikannya. Ia meminta mainan kedua, doa itu kembali terkabul. Namun ketika ia meminta mainan ketiga, tak ada tanda, tak ada jawaban. Sejak saat itu ia mulai ragu. Benaknya dihantui oleh perasaan: mungkin “jatah doa” miliknya sudah habis. Maka ia berhenti berdoa, berhenti meminta.

Hidup yang Awalnya Penuh Syukur

Waktu berjalan. Anak kecil itu tumbuh dengan sederhana. Ia bergabung dengan sebuah kelompok bermain yang menyenangkan. Tanpa ada pembanding, ia sangat puas dengan tempatnya. Hari-harinya diisi dengan tawa, permainan, dan rasa syukur. Ia tidak meminta apa-apa, tidak juga merasa kurang.

Kebahagiaannya begitu besar hingga ia mengajak teman karibnya bergabung. Pada awalnya, mereka bermain bersama dengan sukacita. Tetapi perlahan teman karibnya mulai resah. Baginya, kelompok bermain itu terlalu sederhana. Tidak rapi, tidak bersih, tidak penuh warna. Lama-kelamaan, ia merasa tidak bahagia.

Melihat itu, anak kecil pun ikut sedih. Ia tahu teman karibnya penting. Maka, untuk pertama kalinya ia memberanikan diri menepis ketakutan lamanya. Ia kembali berdoa.

“Tuhan, semoga saya dapat membuat teman karib saya bahagia.”

Namun doa itu dijawab dengan cara yang mengejutkan: keduanya perlahan berpisah. Mereka tidak lagi bermain bersama. Anak kecil itu bertanya-tanya, “Mengapa justru begini? Bukankah saya meminta agar teman saya bahagia?”

Dari Syukur ke Keluhan

Sejak berpisah, anak kecil itu mulai melihat kelompok bermainnya dengan kacamata berbeda. Ia mulai memandang dengan mata temannya. Tempat itu tampak tidak lagi indah. Ia pun ikut merasa tidak puas. Tidak sebersyukur dulu. Tidak seceria dulu.

Lalu ia berdoa lagi:
“Tuhan, mungkin saya tidak tahu diri. Banyak anak lain ingin masuk kelompok ini, tapi saya justru tidak mensyukurinya. Namun hari-hari terasa begitu berat. Berilah saya kelompok bermain baru—yang lebih baik—supaya saya bisa kembali bersyukur.”

Beberapa waktu kemudian, sebuah undangan datang. Ada kelompok bermain baru yang lebih rapi, lebih bersih, lebih berwarna. Anak kecil itu girang. “Inilah jawaban doa saya,” pikirnya. Ia segera bersiap untuk pindah.

Panggilan yang Menghentikan Langkah

Namun, di tengah persiapan, teman-teman lama menegurnya.
“Kenapa kamu tidak terlihat bahagia? Bukankah kamu akan pergi ke tempat yang lebih rapi, lebih bersih, dan lebih warna-warni?”

Ia terdiam. Pertanyaan itu menusuk. Benarkah ini yang ia cari?

Lalu teman-teman itu menyerahkan hadiah perpisahan: mainan ketiga yang dulu pernah ia minta bertahun-tahun lalu. Mainan yang ia kira tidak pernah akan dikabulkan.

Saat itu ia tak mampu berdiri lagi. Ia jatuh berlutut, menangis. Doa yang dulu ia kira ditolak ternyata tetap dijawab—hanya saja dengan cara dan waktu Tuhan.

Pelajaran dari Kisah Ini

Dari kisah alegoris ini, ada beberapa pelajaran iman yang bisa kita renungkan:

  1. Tuhan mengabulkan doa sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan.
    Anak kecil meminta kelompok bermain baru agar ia bisa bersyukur. Namun Tuhan memberinya alasan untuk memperbarui pandangan terhadap kelompok lamanya. Tuhan tahu, yang ia butuhkan bukan tempat baru, melainkan hati baru.
  2. Tuhan mengabulkan doa dengan cara-Nya sendiri.
    Ia meminta agar teman karibnya bahagia. Jawaban Tuhan datang lewat perpisahan. Kadang sesuatu yang tampak berlawanan dengan doa kita justru menjadi jalan terbaik menurut hikmat-Nya.
  3. Tuhan mengabulkan doa sesuai waktu-Nya.
    Mainan ketiga yang lama dinanti akhirnya diberikan—bukan saat ia memintanya, tetapi saat ia siap menerimanya. Waktu Tuhan selalu berbeda dengan waktu manusia.
  4. Firman Tuhan meneguhkan:
    “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7-8). Ayat ini menepis anggapan bahwa doa memiliki “kuota.” Tidak ada doa yang sia-sia, sebab setiap doa didengarkan.

Doa yang Mengubah Pandangan

Kisah anak kecil ini hanyalah alegori dari pengalaman nyata penulis—tentang kehidupan pribadi maupun profesional. Tentang pergulatan iman dalam berdoa, tentang rasa takut, kecewa, lalu belajar kembali percaya.

Doa bukan sekadar permintaan yang harus dituruti. Doa adalah perjumpaan dengan Tuhan yang mengenal kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Ia tidak selalu memberi yang kita inginkan, tetapi selalu memberi yang kita butuhkan.

Mungkin kita, seperti anak kecil itu, pernah merasa kuota doa sudah habis. Namun kisah ini mengingatkan: tidak ada batas bagi kasih Tuhan. Ia selalu mendengarkan.

Ia menjawab dengan cara-Nya, dengan waktu-Nya. Yang dituntut dari kita hanyalah hati yang percaya, syukur yang tulus, dan kesediaan untuk belajar melihat hidup dengan mata-Nya. (*)

Penulis: Stanley E. E. Tjoa, seorang karyawan swasta, sedang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Comments (0)
Add Comment