Perkawinan: Ziarah Cinta Menuju Kesempurnaan
Catatan atas Perjalanan Hidup Perkawinan Kristiani

Oleh Albertus Muda

Katolikana.com—Perjalanan hidup berkeluarga tak ubahnya sebuah pelayaran panjang di samudra luas. Ombak yang datang silih berganti membuat bahtera rumah tangga kadang teduh, kadang bergejolak.

Ada pasangan yang tiba di pelabuhan harapan dengan sukacita, ada pula yang tertatih, bahkan karam di tengah jalan. Jika bahtera perkawinan kita masih terus berlayar, meski dihantam badai, itulah rahmat besar yang patut selalu disyukuri.

Rapuh Namun Berharga

Perkawinan, terutama pada usia muda, ibarat perahu kayu. Ia mudah rapuh bila tak dirawat. Kebocoran kecil—perselisihan sepele, kesalahpahaman, atau kekecewaan yang tidak dibicarakan—dapat menjadi lubang besar yang perlahan menghanyutkan segalanya.

Karena itu, merawat perkawinan bukan sekadar soal lahiriah yang terlihat orang, melainkan juga membenahi fondasi batin: komunikasi, pengertian, dan komitmen untuk terus setia.

Dalam perspektif iman, perkawinan adalah ziarah rohani yang tak pernah selesai. Pasangan suami istri dipanggil untuk saling mengenal lebih dalam setiap hari, bahkan setelah puluhan tahun hidup bersama.

Keterbatasan dan kelemahan pasangan bukan alasan untuk menjauh, melainkan undangan untuk mengubah kekurangan menjadi kekuatan bersama. Perkawinan sejatinya adalah bengkel cinta yang tak pernah tutup, tempat setiap pribadi ditempa, diperbarui, dan dipoles.

Komunikasi: Kunci Harmoni

Tantangan terbesar rumah tangga kerap terletak pada komunikasi. Sebuah pepatah lama berkata: enam bulan pertama, suami bicara istri mendengar; enam bulan berikutnya, istri bicara suami mendengar; enam bulan ketiga, keduanya bicara, tetangga yang mendengar.

Ungkapan ini memang bernuansa jenaka, tetapi sarat makna. Tanpa keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan, hubungan rumah tangga mudah kehilangan harmoni.

Di zaman modern, banyak keluarga terjebak dalam pencitraan semu: tampak rukun di luar, tetapi retak di dalam. Tidak sedikit pasangan berpisah bukan karena masalah besar, melainkan karena gagal menyediakan ruang dialog, mendengarkan dengan hati, dan berani mengakui luka.

Sering kali musuh terbesar perkawinan bukan datang dari luar, melainkan dari keengganan pasangan untuk jujur pada diri sendiri.

Keluarga: Surga Kecil di Bumi

Keluarga sejatinya adalah surga kecil di bumi. Namun surga ini bukanlah hadiah instan, melainkan buah kerja keras, kesabaran, dan keberanian menghidupi hal-hal sederhana.

Lagu legendaris Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto dengan indah menegaskan bahwa keluarga adalah harta paling berharga, istana paling indah, puisi paling bermakna, dan mutiara tiada tara.

Tetapi mutiara tidak terbentuk dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang, penuh tekanan, bahkan menyakitkan, di dalam cangkang kerang.

Begitu pula rumah tangga: kesetiaan dan ketabahan melewati suka-duka justru membentuk kecantikan sejati. Kesalahan dan kelemahan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah, melainkan ujian bagi komitmen cinta.

Proses Pemurnian dan Pengudusan

Perkawinan Kristiani bukanlah perjalanan menuju titik tanpa cela, melainkan proses pemurnian yang terus-menerus.

Pasangan suami istri dipanggil bukan hanya untuk hidup bersama, melainkan untuk saling menguduskan. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbarui cinta, memperdalam kesetiaan, dan memelihara komitmen.

Rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah perkawinan mestinya senantiasa dipelihara. Dukungan orang tua, sahabat, dan komunitas menjadi energi tambahan agar bahtera rumah tangga tetap kuat menghadapi badai.

Pada akhirnya, suka-duka perkawinan mesti dirangkul sebagai guru yang menempa dan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih matang dalam kasih.

Menuju Pelabuhan Terakhir

Perjalanan perkawinan akan menemukan muaranya ketika kita sampai di pelabuhan terakhir: perjumpaan dengan Sang Kasih yang sempurna.

Karena itu, setiap pasangan dipanggil untuk terus berlayar bersama, setia mendayung meski gelombang mengguncang, sambil percaya bahwa badai tak akan pernah lebih besar dari cinta yang dipelihara dengan setia.

Perkawinan adalah ziarah menuju kesempurnaan—bukan tentang seberapa sempurna kita sebagai manusia, tetapi tentang seberapa setia kita bertumbuh menuju kesempurnaan itu bersama pasangan dan Tuhan. (*)

Penulis: Albertus Muda, Guru ASN SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lewoleba-Lembata

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Perkawinan
Comments (0)
Add Comment