Keluarga Kosmologis, Refleksi Awal Tahun 2026

Katolikana.com—Kita telah melawati tahun 2025 dengan berbagai kejadian dan tantangan. Namun tahun baru 2026 cukup berbeda karena ada dua peristiwa krusial.

Pertama, momentum menjelang Tahun Baru kali ini, diwarnai dengan bencana ekologis, banjir bandang yang menimpa wilayah utama pulau Sumatera.

Persoalan ini kian runyam akibat munculnya polemik akibat permasalahan penanggulangan bencana banjir bandang di Sumatera yang dinilai belum proporsional.

Melalui rilis berita, reels, maupun status di media sosial, aktivis kemanusiaan dan lingkungan hidup dari berbagai organisasi non pemerintah memaparkan penanggulangan bencana yang belum menyentuh persoalan dan kebutuhan rakyat.

Sasaran utama sorotan adalah keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan jaringan listrik pun akses jalan yang masih belum diperbaiki secara optimal. Terakhir terdapat permasalahan lain seperti politisasi kondisi bencana untuk kepentingan politik wakil rakyat tertentu.

Selain itu, terdapat juga masalah korupsi dana bencana di tubuh Dinas Sosial Kabupaten Samosi, Sumatera Utara dengan total kerugian mencacapi 516,2 juta. Kondisi ini menuai banyak kontroversi dan kritikan dari berbagai pihak tentang perencanaan dan kinerja dari pemerintah atau pun politikus negara atas persoalan ini.

Kedua, tema perayaan Natal tahun 2025 yang diusung oleh PGI dan KWI yakni “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga” merefleksikan keluarga sebagai tempat hadirnya utama kehadiran Tuhan.

Tema ini menekankan kehadiran Tuhan ini sebagai basis iman dan kasih dalam menghadapi berbagai tantangan seperti persoalan krisis keluarga modern, relasi sosial antara tantangan individualis dan konsumerisme.

Tema ini berusaha menjawab situasi distorsi sosial akibat perkembangan zaman, juga untuk anak-anak dan generasi muda akibat kehadiran AI atau kecerdasan buatan.

Kedua hal ini memberikan makna penting sebagai pelajaran untuk langkah bangsa Indonesia ke depan.

Negara Sebagai Penguat Moral Rakyat

Dalam proses penanggulangan bencana di Sumatera, terlihat bahwa tanggungjawab dan kerja-kerja penanggulangan bencana dijalankan oleh institusi dan aparat negara Republik Indonesia. Negara yang berlandaskan prinsip dan konsep moral dan teologis kehadiran Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Pancasila.

Sebagai institusi berlandaskan konsep moral dan teologis, publik paling kurang mengharapkan bahwa kinerja negara semestinya juga berpegang pada spirit sebagai institusi moral yang membantu dan menolong sesamanya yang menderita. Di sini negara mestinya membantu menguatkan moral warganya.

Penguatan moral ini sesuai gambaran Plato dalam karyanya Republik. Plato menegaskan bahwa negara tidak hanya bertanggungjawab mengatur warganya secara sosial dan politik.

Negara juga bertanggungjawab mendidik dan menguatkan moral rakyat untuk hidup baik dan adil. Kekuatan moral itu mestinya juga nyata dalam kerja negara yang merepresentasikan bahwa ada negara yang masih peduli pada penderitaan warganya.

Secara teologis, lewat negara, warga melihat dan merasakan perpanjangan tangan Tuhan Yang Maha Esa dalam membantu dan tidak meninggalkan korban Bencana yang susah dan menderita.

Maka hal yang disayangkan adalah ketika kinerja negara sepertinya masih jauh dari harapan. Penanganan masalah secara teknis ternyata meninggalkan persoalan kinerja yang belum menyentuh, politisasi bantuan, bahkan sampai korupsi dana bencana mengaburkan harapan itu.

Pidato Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dengan seruan “We shall fight on the beaches” untuk terus bertahan dan berjuang meski pun dalam keadaan yang sangat buruk setelah pasukan dipukul mundur di Dunkirk, Juni 1940, dapat menjadi bukti bahwa penguatan moral amat penting bagi bangsa yang sedang mengalami kondisi buruk.

Keluarga Kosmologis

Kedua, keyakinan tentang teologis tentang kehadiran Tuhan Yang Maha Esa mesti direalisasikan secara praktis dalam kehidupan setiap hari. Bahwa langkah pemerintah untuk mengatasi permasalahan pemulihan bencana tidak cukup hanya sampai pada kerja teknis.

Langkah dan pekerjaan itu mestinya diperkuat dengan ide teologis dan sosial-ekologis. Ide ini berangkat dari preposisi fundamental bahwa semua entitas di dunia adalah kreasi dari Tuhan dan terhubung secara sosial ekologis.

Di sini, baik itu manusia, alam, lingkungan merupakan ciptaan yang terhubung dalam satu lingkaran interaksi sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Data dari WAHLI antara 2016-2025 menunjukan bahwa deforestasi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencapai 1,4 juta hektar.  Maka konklusi rigid yang bisa ditarik tentu bencana yang terjadi di Sumatera akibat kesalahan penggunaan sumber daya alam dan pengelolaan hutan oleh manusia.

Namun konsep moral dan teologis yang sejalan dengan tema Natal 2025 di Indonesia dapat menjadi titik berangkat. Tuhan tidak hanya ada bagi keluarga inti yakni bapak, ibu dan anak. Keberadaan Tuhan semestinya dipahami melampaui ide dasar keluarga inti, yakni keluarga kosmologis.

Keluarga kosmologis merupakan ide bahwa keluarga tidak hanya meliputi manusia, tetapi keluarga kosmologis melebar pada pemahaman bahwa hutan, komponen ekologi dan lingkungan yang ada di sekitar manusia merupakan bagian dari keluarga besar.

Konsep ini bisa dikaitkan dengan konsep “democracy of things” dari filsuf dan sosiolog Perancis, Bruno Latour.

Di dalam bukunya Politics of Nature: How to Bring the Sciences into Democracy, Latour menjelaskan konsep bahwa semua entitas (termasuk benda, organisme, dan teknologi) diberikan suara dalam proses politik.

Jika secara politik entitas ini memilik hak politik maka semua organisme di dalam sistem ekologi, pohon, hewan dan berbagai tumbuhan memiliki hak yang sama dengan manusia untuk hidup dalam berbagai keputusan politik (Latour, 2004)

Karena memiliki hak untuk hidup, maka seharusnya secara sosial dan ekonomis, alam tidak lagi dipandang secara instrumental ekonomis sebagai sumber hidup yang mesti dikeruk habis. Alam mestinya dipandang layaknya keluarga, yang setara dengan manusia, untuk saling mendukung.

Relasi antara manusia, alam dan ekosistem di dalamnya adalah satu kesatuan yang saling menopang dan mempengaruhi. Dengan begitu, semestinya logika kapitalis dan ekonomis tidak seharusnya menjadi dasar utama dalam menggunakan alam.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memang membutuhkan berbagai sumber daya dari alam untuk bertahan hidup. Namun itu tidak berarti bahwa upaya itu menjadi dasar untuk memenuhi hasrat egois konsumeristis manusia yang tidak pernah puas.

Hasrat ini kelihatan dalam naluri untuk menguasai segala sesuatu yang ada di alam dan tidak pernah mengambil secukupnya untuk kebutuhan hidup. Hasrat inilah yang menjadi sumber kerusakan hutan, musnah nya ekosistem, pemanasan global, perubahan cuaca dan akhirnya berbagai bencana seperti banjir bandang di Sumatera.

Kontribusi Keluarga Kosmologis

Di titik ini, konsep mengenai keluarga kosmologis berdasarkan tema Natal 2025 merupakan kontribusi nyata bagi arah kehidupan bangsa ini selanjutnya.

Keluarga kosmologi bukan hanya secara sosial dan politik memberikan arah tanggungjawab pada manusia, tetapi menempatkan refleksi yang lebih mendalam untuk refleksi langkah yang akan diambil di tahun yang baru ini.

Berbasiskan konsep keluarga kosmologis ini, langkah-langkah strategis dapat diambil oleh negara dan pemerintah untuk penanggulangan bencana tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan dan perbaikan teknis infrastruktur. Implementasi kebijakan dan realisasi program juga mesti dilakukan secara lebih luas.

Tindakan pemulihan pasca bencana bukan saja secara humanis atau menyangkut aspek teknis. Proses ini mesti juga dibawa pada tataran yang lebih tinggi yakni menyangkut ide dan konsep teologis bahwa terdapat pertautan kosmologis antara manusia dan alam.

Implementasi kinerja negara atau pemerintah, tidak hanya sebatas memberikan bantuan untuk pemulihan bencana, seperti bantuan kebutuhan dasar dan akses. Penanggulangan bencana sebaiknya mesti bisa melihat lebih jauh bagaimana memulihkan relasi antara manusia dan alam sebagai keluarga kosmologis.

Pemulihan mesti dilandasi prinsip dan mekanisme yang bukan hanya untuk menyelamatkan manusia. Mekanisme perbaikan alam juga penting diperhatikan sebagai bagian integral/keluarga umat manusia. Alam yang mempunyai hak politis yang setara untuk terus hidup.

Mekanisme kerja, perbaikan ekologis dengan konsep keluarga kosmologis dapat menjadi alternatif untuk menjamin tidak terulang lagi kejadian yang sama pada tahun baru ini. Refleksi awal tahun 2026 ini diharapkan bisa membawa manusia dan alam dalam lingkaran keluarga yang saling menjaga dan saling menopang. (*)

Pengajar STPM St Ursula, Ende

keluargaKosmologis
Comments (0)
Add Comment