Kerajaan Allah di Tengah Kelaparan Manusia

Belas Kasih, Iman, dan Tanggung Jawab Sosial

Oleh T.H. Hari Sucahyo

Katolikana.com—Ada satu kalimat dalam Markus 6:34–44 yang selalu mengganggu kenyamanan iman saya: “Kamu harus memberi mereka makan.”

Kalimat itu bukan sekadar perintah bagi para murid dua ribu tahun lalu. Itu adalah cermin yang memantulkan wajah Gereja hari ini—juga wajah saya sendiri—ketika berhadapan dengan kelaparan manusia, baik kelaparan roti maupun kelaparan makna.

Kita mengenal kisah ini sebagai “mukjizat penggandaan roti”. Tetapi Injil Markus menuliskannya bukan terutama agar kita terpukau pada kemampuan Yesus “menciptakan makanan”, melainkan agar kita belajar cara Kerajaan Allah bekerja: Kerajaan Allah hadir ketika belas kasih bertemu tanggung jawab, ketika iman melampaui perhitungan, ketika yang sedikit diserahkan dan dibagikan.

Belas kasih bukan sekadar rasa iba

Kisah itu dibuka dengan satu gerakan batin: Yesus melihat orang banyak dan “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan”, sebab mereka “seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”

Markus sedang mengatakan sesuatu yang tajam: kelaparan manusia bukan hanya urusan perut; ada kelaparan yang lebih dalam, yaitu kelaparan karena kehilangan arah, kehilangan penuntun, kehilangan pemimpin yang sungguh peduli.

Belas kasih Yesus tidak berhenti pada simpati. Ia bukan sekadar “terharu”. Belas kasih-Nya adalah bentuk kehadiran Allah yang memihak manusia yang rapuh—yang lapar, tersesat, dan mudah dimanipulasi.

Itulah sebabnya tindakan pertama Yesus bukan langsung memberi makan, melainkan mengajar mereka banyak hal. Di sini saya melihat satu pelajaran penting: bagi Yesus, manusia perlu firman dan makanan, perlu arah dan pemeliharaan. Injil menolak dikotomi palsu antara rohani dan jasmani.

Logika murid: suruh mereka pergi

Ketika hari mulai malam dan orang banyak belum makan, para murid menawarkan solusi yang paling realistis: “Suruhlah mereka pergi.” Ini logika yang sangat manusiawi. Kita sering mengulang kalimat itu dalam bentuk yang lebih halus: “Bukan tugas kita.” “Anggaran tidak ada.” “Itu urusan pemerintah.” “Kita tidak punya kapasitas.” “Orang-orang harus cari sendiri.”

Masalahnya, solusi itu mengandung satu bahaya rohani: menormalisasi pelepasan tanggung jawab. “Suruh mereka pergi” terdengar efisien, tetapi dalam logika Injil, itu juga bisa berarti: “Jangan ganggu kita. Jangan bawa beban dunia ke dalam komunitas iman.”

Lalu Yesus memotong semua kalkulasi itu dengan kalimat yang membuat murid-murid kelabakan: “Kamu harus memberi mereka makan.” Di sinilah Injil menjadi tidak romantis. Kerajaan Allah bukan hanya tentang doa yang indah, melainkan tentang tanggung jawab yang konkret.

Iman dimulai ketika perhitungan tidak cukup

Murid-murid panik karena mereka menghitung. Lima roti dan dua ikan tidak masuk akal untuk ribuan orang. Tetapi Yesus justru memulai mukjizat dari situ: dari apa yang kecil dan tampak memalukan. Ia tidak meminta sesuatu yang spektakuler; Ia meminta apa yang ada.

Bagi saya, inilah inti spiritualitas tanggung jawab sosial: bukan menunggu “cukup”, melainkan berani menyerahkan “sedikit”. Banyak orang tidak pernah memulai berbagi karena menunggu menjadi besar. Padahal Injil menunjukkan: yang sedikit, ketika diserahkan, bisa menjadi ruang kerja Allah.

Pemecahan roti: liturgi yang turun ke tanah

Ada detail yang kuat: orang banyak disuruh duduk berkelompok di rumput hijau. Ini bukan sekadar pengaturan logistik. Ini gambaran gembala yang menuntun kawanan ke padang rumput. Lalu Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya. Ini terdengar sangat ekaristis: pola yang kelak kita kenal di perjamuan terakhir—dan terus kita rayakan di altar.

Namun Injil juga memberi peringatan halus: Ekaristi yang sejati selalu menuntun pada pembagian. Roti yang dipecah di tangan Kristus tidak berhenti sebagai simbol di kapel; roti itu harus sampai ke tangan orang banyak. Karena itu Markus menegaskan: murid-muridlah yang membagikan.

Di sini saya ingin menyampaikan satu kalimat yang mungkin keras, tetapi perlu: iman yang hanya berhenti di altar, tanpa bergerak menjadi solidaritas, berisiko menjadi ritual yang steril.

Kerja sama anugerah dan tanggung jawab

Mukjizat itu terjadi bukan tanpa partisipasi manusia. Yesus memberkati, tetapi murid-murid membagikan. Ini dinamika yang sering hilang dalam kehidupan iman kita. Ada orang yang jatuh pada ekstrem pertama: semua diserahkan pada “mukjizat Tuhan” sambil menunggu. Ada pula yang jatuh pada ekstrem kedua: semua diurus dengan logika proyek, seolah Tuhan tidak perlu.

Injil Markus menunjukkan jalan ketiga: anugerah Allah bekerja melalui kesetiaan manusia. Kerajaan Allah bukan panggung bagi kepahlawanan kita, tetapi juga bukan alasan untuk pasif. Kita dipanggil menjadi saluran, bukan pusat.

Dua belas bakul: kelimpahan yang lahir dari berbagi

Semua makan sampai kenyang, dan masih tersisa dua belas bakul. Angka dua belas menyiratkan kepenuhan umat Allah. Pesannya jelas: dalam Kerajaan Allah, kelimpahan bukan hasil penimbunan, melainkan buah dari berbagi.

Ini koreksi bagi ketakutan yang sering mengendalikan keputusan sosial kita: takut kekurangan, takut rugi, takut habis. Markus seperti berkata: ketakutan itu tidak kompatibel dengan logika Kerajaan. Berbagi tidak mengurangi; berbagi menyingkapkan kelimpahan yang sudah disediakan Allah, tetapi baru tampak ketika roti dipecah.

Saat Gereja tergoda berkata: “suruh mereka pergi”

Bagi saya, implikasi paling tajam dari perikop ini bukan pada “mukjizatnya”, melainkan pada koreksi Yesus terhadap cara berpikir murid-murid. Setiap zaman punya bentuk kelaparannya sendiri: kemiskinan struktural, ketidakadilan akses pendidikan, kerentanan buruh, pengangguran muda, krisis ekologis, konflik sosial, luka psikologis, sampai kelaparan makna karena budaya serba instan.

Di titik inilah Gereja sering tergoda untuk tetap aman di wilayah “pengajaran” tanpa menyentuh “pemeliharaan.” Padahal Yesus melakukan keduanya sekaligus. Ketika Gereja nyaman berkata, “Itu bukan urusan kita,” Injil menjawab: “Kamu harus memberi mereka makan.” Ini bukan tuntutan untuk selalu mampu. Ini panggilan untuk tidak lari.

Lima roti dan dua ikan kita hari ini

Jika lima roti dan dua ikan melambangkan apa yang kecil, maka pertanyaannya menjadi sangat personal: apa “lima roti dan dua ikan” kita hari ini?

Mungkin itu waktu yang bisa kita sisihkan untuk mendampingi yang rapuh. Mungkin itu kemampuan profesional yang bisa dipakai untuk pemberdayaan. Mungkin itu uang yang tidak seberapa, tetapi bisa menjadi langkah pertama. Mungkin itu keberanian bersuara ketika martabat manusia diinjak. Mungkin itu kebiasaan sederhana: tidak membuang makanan, tidak menumpuk, tidak mempermainkan harga, tidak menutup mata.

Mukjizat tidak selalu spektakuler. Sering kali mukjizat adalah proses panjang ketika orang-orang beriman setia berbagi—dan dalam kesetiaan itulah Kerajaan Allah mulai terasa nyata.

Kerajaan Allah yang membumi

Markus 6:34–44 menegaskan bahwa Kerajaan Allah hadir di tengah kelaparan manusia melalui belas kasih yang melihat, iman yang menyerahkan, dan tanggung jawab yang membagikan. Yesus tidak memisahkan rohani dan jasmani. Ia mengajar, lalu memberi makan. Ia menyentuh hati, lalu menyentuh perut. Ia membangkitkan iman, lalu membangkitkan solidaritas.

Pada akhirnya, perikop ini mengundang kita untuk mengenal Yesus lebih dalam: Gembala yang penuh belas kasih—dan sekaligus Tuhan yang tidak membiarkan murid-murid-Nya menjadi penonton atas penderitaan.

Di hadapan kelaparan manusia, Kerajaan Allah tidak dimulai dari banyaknya sumber daya, melainkan dari satu keberanian sederhana: memecah roti dan membagikannya. (*)

Penulis: T.H. Hari Sucahyo, penulis umat Gereja Santo Athanasius Agung, Paroki Karangpanas Semarang.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Lima roti
Comments (0)
Add Comment