IKHRAR Kevikepan Surakarta gelar Temu Orang Tua Terpanggil.
Surakarta, Katolikana.com – Panggilan tumbuh dari keluarga. Gereja menyadari bahwa panggilan merupakan karya kasih Allah yang tumbuh dari iman, doa, cinta dan perjuangan keluarga.
Ikatan Karya dan Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR) Kevikepan Surakarta menggelar Temu Orang Tua Terpanggil Bersama Biarawan-Biarawati Se-Kevikepan Surakarta dan Pemerhati Panggilan Hidup Religius serta Tim Panggilan Paroki se-Kevikepan Surakarta di Aula SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta, Sabtu (10/1/2026), pukul 09.30 WIB.
Lebih dari 350 orang hadir dalam Perayaan Ekaristi ini. Tema yang diangkat: “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga sebagai Rumah Pertama Panggilan Hidup Bakti”
Perayaan Ekaristi dilaksanakan secara konselebrasi dengan selebran utama: Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS) Romo FX. Sugiyana, Pr ; konselebran Vikaris Episkopal Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr dan Moderator IKHRAR Kevikepan Surakarta Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF.
Semangat perjumpaan
Makna dan semangat perjumpaan disampaikan Ketua Kerasulan Panggilan Kevikepan Surakarta, Suster Rini, BKK. Ia mengungkapkan bahwa pertemuan selain mengikuti perayaan Ekaristi juga bertemu untuk lebih saling mengenal, berbagi dan meneguhkan satu sama lain.
Selain itu untuk membangun jejaring dalam keluarga besar orang tua terpanggil, saudara-saudari biarawan biarawati, para pemerhati panggilan dan tim panggilan paroki.
Intensi misa mohon kesetiaan panggilan dan mohon tumbuhnya benih-benih baru panggilan.
Bersyukur atas rahmat panggilan
Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF menyampaikan bahwa Temu Keluarga Terpanggil yang diprakarsai IKHRAR hendak bersyukur atas rahmat panggilan yang tumbuh dalam keluarga serta bersyukur atas pendampingan Tuhan pada tahun lalu.
Bersuka cita dalam perayaan natal dan berbagi pengalaman iman, saling meneguhkan sebagai keluarga dalam wawan hati.
Memohon berkat di tahun 2026 agar keluarga-keluarga yang telah diselamatkan Tuhan mampu berbagi berkat untuk orang lain dan menjadi keluarga yang mendukung kesetian panggilan.
Doa rahim panggilan
Vikaris KAS Romo FX Sugiyana, Pr mengungkapkan dalam homili, bahwa doa merupakan rahim panggilan dan pagar bagi panggilan.
Ada begitu banyak doa yang diungkapkan pada Tuhan. Diantara doa-doa, banyak yang terkabul. Salah satu doa yang dihunjukkan oleh orang tua doa untuk menjadi imam, bruder atau suster bagi putra-putrinya.
Panggilan merupakan buah-buah dari doa.
Setelah menjadi imam, bruder dan suster doa-doa itu perlu didoakan tiada henti.
Inspirasi dari bacaan pertama (1 Yohanes 5:14-21) meneguhkan doa sebagai bagian sentral keluarga dan para rohaniwan rohaniwati.
Bacaan Injil Yohanes 3:22-30 mengungkapkan pengalaman Yesus bahwa selain membabtis Yesus memiliki banyak tantangan.
Hidup kaum biarawan dan biarawati juga banyak tantangan. Maka membutuhkan banyak doa.
Doa merupakan rahim panggilan. Keluarga-keluarga yang memiliki ujub doa untuk tumbuhnya panggilan disana benih-benih panggilan itu lahir.
Doa orang tua, saudara-saudari yang mendukung doa untuk panggilan akan menumbuhkan panggilan dalam diri anak.
Selain doa kerelaan dari keluarga mendukung panggilan yang dijawab oleh anak-anak merupakan dukungan terjadinya panggilan khusus untuk menjadi imam, bruder dan suster
“Doa orang tua, doa keluarga merupakan rahim yang melahirkan panggilan,” kata Vikjen KAS Romo FX Sugiyana, Pr.
Doa menjadi pagar panggilan
“Doa juga melindungi dan menjaga rohaniwan rohaniwati yang menjalani panggilan dari segala tantangan dan godaan serta segala persoalan yang ada. Doa bapak ibu dan saudara saudari menjadi dukungan moral bagi yang terpanggil secara khusus menjadi imam, bruder dan suster,” kata Romo FX Sugiyana melanjutkan.
Keragu-raguan, kegersangan, kekeringan, kelelahan rohani seringkali dialami oleh para terpanggil. Maka doa-doa menjadi peneguh dan kekuatan yang sungguh dibutuhkan. Doa menjadi pagar panggilan hidup.
Doa menjadi peneguh kesetiaan. Jika bisa saat menghadap Tuhan tetap dalam panggilan yang dijalani. Bukan sebagai “mantan” yang terpanggil. Setia sampai akhir dalam panggilan hidup yang Tuhan percayakan ini.
Doa energi rohani
“Panggilan merupakan proses yang sangat panjang. Seumur hidup. Dinamika kehidupan banyak dialami.
Pergumulan-pergumulan dialami. Kesetiaan diuji betul oleh berbagai pengalaman-pengalaman.
Jika keluarga berjuang dalam kesetiaan sebagai suami istri, para terpanggil berjuang dalam kesetiaan menjadi imam, bruder dan suster.
Maka kekuatan kami hanya pada doa. Doa dari terpanggil, doa dari orang tua, doa dari keluarga dan doa dari banyak orang, dari lingkungan dan paguyuban serta kerabat,” ungkap Romo FX Sugiyana.
“Doa-doa itulah yang menjadi energi rohani untuk setia walaupun menghadapi pergumulan-pergumulan,” ungkap Romo FX Sugiyana mengakhiri homili.
Wawanhati
Usai perayaan ekaristi dilanjutkan wawanhati dengan Vikjen KAS. Wawan hati dipandu Bruder Ignatius Andri Pratomo FIC asal Paroki Hati Kudus Sukoharjo yang saat ini bertugas di SMP Pangudi Luhur Sukaraja, OKU Timur Sumatera Selatan. Wong Solo pulang kampung.
Vikjen KAS Romo FX Sugiyana, Pr membagikan kisah panggilan yang dijalani dan mengaitkan konteks tema natal Allah hadir menyelamatkan keluarga dalam sikap syukur dan menghidupi doa keluarga.
Perayaan ekaristi didukung koor putra-putri dari Panti Asuhan Karuna Putra dan Panti Asuhan Karuna Putri Gentan Baki Sukoharjo.
Sukacita bernyanyi bersama
Selain itu pada “Temu Keluarga Terpanggil” dimeriahkan hiburan Sinden Mimin dan Apri. Kedua pesinden pria yang memiliki “warna suara wanita” dan mengenakan kebaya dan kain berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Mimin dan Apri merupakan seniman langgam sinden, yang hadir dengan “guyonan” di panggung.
Kedua pesinden mampu menghibur hadirin dengan gerak tubuh yang mengundang tawa, melakukan dialog yang lucu serta mampu mengajak hadirin menyanyikan lagu rohani bersama.
Lagu rohani yang dibawakan bersama diantaranya Waktu Tuhan Pasti Yang Terbaik dan Allah Peduli.
Saat menyanyikan lagu ini para romo, suster, bruder, dan hadirin ikut bernyanyi karena dua lagu ini merupakan lagu yang ‘familier’ di ruang pendengaran umat Katolik. (*)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta