Dari Meja Cukai Menuju Meja Perjamuan dan Perutusan

Refleksi Bacaan Injil Sabtu (17/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.

Romo Albert Herwanta, O. Carm misionaris di Hong Kong (Foto Ist.)

Katolikana.com – Kisah panggilan Matius dalam Markus 2:13-17 adalah sebuah gambaran lengkap dan revolusioner tentang cara Tuhan memanggil manusia. Narasi ini tidak berhenti pada saat Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” tetapi berkembang dalam tiga tahap yang saling berhubungan: panggilan, komunitas, dan misi.

Pertobatan, perjamuan bersama dalam persekutuan dan perutusan.

Pertama, panggilan datang secara langsung dan tanpa syarat. Yesus melihat Lewi (Matius) duduk di rumah cukai—seorang yang dianggap pengkhianat dan najis secara sosial karena bekerja untuk penjajah Romawi.

Di tengah aktivitasnya yang biasa, Yesus memanggilnya. Ini menunjukkan bahwa panggilan Tuhan datang bukan karena kelayakan kita, tetapi karena kasih karunia-Nya.

Dia datang justru kepada mereka yang sadar akan keterbatasan dan dosanya.

Kedua, panggilan diwujudnyatakan dalam komunitas dan perjamuan. Yesus tidak hanya memanggil Matius untuk berjalan sendirian, tetapi Dia langsung “makan bersama” di rumah Matius dengan banyak pemungut cukai dan orang berdosa lainnya.

Dalam budaya Timur Tengah, makan bersama adalah lambang penerimaan penuh, persekutuan, dan perdamaian. Dengan duduk semeja, Yesus menghancurkan tembok pemisah sosial dan religius.

Panggilan Tuhan selalu bersifat komunal; kita dipanggil ke dalam persekutuan dengan Dia dan dengan saudara-saudara seiman, termasuk mereka yang dianggap “tidak layak” oleh dunia.

Ketiga, panggilan itu mengungkapkan hakikat misi Yesus. Ketika orang Farisi mempertanyakan tindakan-Nya, Yesus menyatakan inti misi-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa” (Markus 2:17).

Dipanggil untuk menyucikan diri
Pernyataan ini adalah inti dari renungan ini. Allah memanggil kita bukan karena kita sudah suci, tetapi justru untuk menyucikan kita.

Panggilan-Nya adalah undangan untuk menyadari dosa kita dan datang kepada-Nya, sang Tabib Ilahi.

Relevansinya bagi hidup Kristen saat ini sangat mendasar.

Gereja dipanggil untuk meneladani pola pikir dan sikap hidup Yesus ini:
Pertama, kita mesti berani memberitakan panggilan Tuhan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang masa lalu.

Kasih dan panggilan Tuhan itu bersifat universal.

Kedua, hendaknya kita menjadi komunitas yang inklusif dan penuh penerimaan, seperti meja perjamuan di rumah Matius, di mana setiap orang yang bertobat disambut. Gereja tidak hanya memanggil, melainkan juga menyediakan mekanisme untuk menerima kembali kaum pendosa lewat Sakramen Tobat.

Ketiga, kita perlu selalu mengingat bahwa misi kita di dunia adalah misi penyembuhan dan pemulihan, menjangkau mereka yang tersingkirkan dan terhilang dengan kasih Kristus.

Diutus membawa ke meja perjamuan
Kita sendiri, yang telah dipanggil dari “rumah cukai” dosa kita, kini diutus untuk membawa undangan itu ke “meja makan” yang Tuhan sediakan bagi semua orang.

Konteks relevansi saat ini Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi dan perutusan setelah Ekaristi menjadi kesatuan sikap beriman yang senantiasa perlu dihidupi.

Apakah kita mengikuti teladan Yesus: mewartakan kasih Tuhan dan memanggil mereka yang belum mengenal Dia untuk datang kepada-Nya? Apakah kita telah ikut serta membangun komunitas yang inklusif yang dijiwai kasih universal?

Sabtu, 17 Januari 2026
Peringatan Santo Antonius, Abas
HWDSF

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Comments (0)
Add Comment