Katolikana.com—Akhir-akhir ini media sosial dihebohkan kisah aktris cantik bernama Aurelie Moeremans. Dalam tulisan berjudul Broken Strings, Aurelie bercerita bahwa dia merupakan korban child grooming atau pelecehan terhadap anak di bawah umur.
Di usianya yang menginjak remaja, Aurelie dihadapkan dengan kenyataan pahit: dia dijebak oleh pria yang jauh lebih tua dan melakukan manipulasi.
Saat itu, Aurelie tidak punya kuasa untuk melawan. Dia menjadi korban karena ketimpangan kuasa dan waktu itu juga dia baru merintis karier sebagai seorang aktris.
Puncaknya, ketika dia harus mengirimkan foto tidak pantas kepada sang pria sebagai bukti cinta dan dijebak dalam pernikahan palsu. Ada beberapa poin menarik yang tentu bisa kita jadikan pelajaran untuk kita sendiri maupun generasi mendatang.
Tangki cinta yang cukup
Kisah Aurelie seperti kotak pandora yang menyingkap berbagai hal di masa lalu. Aurelie tumbuh dalam keluarga yang terlihat “sehat” tapi sebetulnya sang ayah boleh dibilang berkontribusi dalam karakter dia yang sulit melawan. Dalam novel diceritakan sang ayah lebih banyak mengancam ketimbang memahami apa yang dirasakan.
Kita belajar bahwa membuat anak untuk bisa menghormati orang tua itu tidak butuh ancaman, justru harusnya kita menanamkan rasa aman bagi anak. Apabila sang anak merasakan aman dan nyaman di dalam rumah, dia tidak mungkin mencari sumber cinta di luar sana.
Para orang tua, tolong didik anak kalian juga untuk tidak mudah terjebak cinta palsu. Sadarlah jika ada orang yang jauh lebih tua mengaku mereka mencintai anak kalian, itu adalah hal yang salah. Anak tidak boleh terjebak dalam cinta palsu.
Memiliki integritas
Yang tak kalah menyedihkan, salah satu gereja Katolik di Keuskupan Bogor justru mengesahkan pernikahan Aurelie dan sang pelaku pelecehan tanpa mencari tahu lebih lanjut.
Gereja diharapkan lebih ketat baik dari sisi pastor, sekretariat, dan para saksi, mengingat administratif gereja Katolik itu sangat rapi karena semua terintegrasi sampai ke Vatikan.
Saya berharap tidak ada lagi pihak yang hanya ingin keuntungan semata tapi rela mengorbankan nama baik dan masa depan orang lain hanya demi kenikmatan sesaat.
Selain dalam pernikahan palsu, sisi integritas dapat kita pelajari saat Aurelie menolak masuk ke partai politik lewat jalur pemalsuan latar belakang pendidikan. Ini menunjukkan nilai dia sebagai seorang perempuan yang tidak tergiur bujuk rayu duniawi.
Empati
Disebutkan dalam tulisan bahwa ibu dari Joshua Suherman menolong Aurelie agar tidak terjebak dalam hubungan yang sangat toxic ini. Ibu Joshua melihat di lokasi shooting jika Aurelie tidak dalam kondisi baik. Dia memilih peduli daripada mendiamkan atau pura-pura tidak tahu.
Ini menjadi bukti bahwa sesama perempuan seharusnya saling menolong satu sama lain, bukan saling menjatuhkan atau saling menghina. Ibu Joshua juga berjasa besar dalam kelangsungan hidup Aurelie.
Tidak bisa dibayangkan jika dia tidak menolong Aurelie yang sudah dalam kondisi lebam untuk ikut dia dan bisa bebas dari jerat pria tersebut, mungkin dia akan makin terpuruk dan bisa jadi sakit mental yang semakin parah.
Pesan untuk perempuan
Sayangilah diri kalian dengan penuh. Beranilah bersikap jika ada pria yang berlaku tidak baik kepadamu. Pada akhirnya, harga diri kalian jauh lebih penting daripada menjalin hubungan dengan pria yang tidak memiliki karakter yang baik.
Seberapa rusak kalian, seberapa hancur kalian, ingatlah bahwa Tuhan menyayangi kalian dengan sepenuh hati. Tuhan tidak ingin melihat kalian hancur.
Terima kasih Aurelie untuk tulisanmu dan kamu membagikan secara gratis. Tulisan ini sangat pantas dijadikan buku dan dapat diangkat menjadi film dokumenter.
Aurelie ingin agar tidak ada Aurelie lain di masa depan. Dia berharap agar banyak orang di luar sana memiliki keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri dan secara tidak langsung agar menjadi pribadi yang memiliki empati atas apa yang dialami oleh orang lain.
Sejujurnya, satu bagian artikel ini tidak cukup untuk menjelaskan apa hal positif dan pembelajaran yang kita dapat dari “Broken Strings”.
Saya berharap di masa depan banyak orang tua yang mau memvalidasi perasaan anak, memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak, dan mau mendengarkan apa yang menjadi keinginan anak. Anak berhak mendapatkan cinta yang cukup dari orang tuanya.
Bagi kamu yang tidak punya sosok ayah alias fatherless, saya ingin berpesan jangan sampai kamu terjebak pada cinta yang salah. Cinta sejatinya memberikan kedamaian dan kebebasan.
Bagi para perempuan, kamu pantas bahagia dan pantas mendapatkan cinta yang tulus, rasa hormat dari pasangan, dan kedamaian dalam hubungan.
Tuhan selalu mencintai kita, maka kitalah yang harus mencintai diri kita dulu sebelum mencintai orang lain agar kita tidak salah memilih cinta. (*)
Lahir di Bandung, domisili Jakarta. Pemerhati pendidikan, isu sosial, dan psikologi umum. No IG, prefer genuine relationship. Let’s make Indonesia greater than before!