Merombok, Katolikana.com— Perjalanan iman umat Katolik di Stasi Merombok memasuki babak baru setelah stasi tersebut diresmikan menjadi paroki definitif pada Misa Kudus yang digelar Minggu (18/1/2026) di Merombok.
Misa peresmian dipimpin Rm. Yuvensius Rugi, Pr. (Vikaris Episkopal Labuan Bajo) dan didampingi oleh Romo Antonius Sanor, Pr. sebagai pastor paroki terpilih.
Sejumlah imam Keuskupan Labuan Bajo turut berkonselebrasi, antara lain Rm. Martin Wiliam, Pr. (Ekonom Keuskupan), Rm. Yohanes F. Selman, Pr., serta para imam lainnya.
Dalam suasana liturgi yang khidmat sekaligus penuh sukacita, umat Merombok menyambut peresmian paroki ini sebagai buah dari peziarahan panjang: kesetiaan, pengorbanan, dan kerja sama umat yang bertahun-tahun membangun kehidupan menggereja dari tingkat stasi.
Momen ini menandai tonggak penting dalam sejarah Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo. Perubahan status ini tidak hanya dipahami sebagai penataan kelembagaan, melainkan juga sebagai tanda kedewasaan rohani umat—sekaligus ujian nyata bagi kesatuan, tanggung jawab, dan semangat pelayanan.
Peresmian itu merupakan tindak lanjut dari keputusan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, yang lebih dahulu menetapkan Stasi Merombok menjadi paroki definitif dalam rangkaian perayaan tutup tahun di Gereja Stasi Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Rabu (31/12/2025), di Merombok.
Menjadi pembawa terang
Dalam homilinya, Rm. Yuvensius Rugi, Pr. menegaskan bahwa hidup orang beriman mesti bertumbuh dan berbuah.
Pertumbuhan yang dimaksud, kata dia, terutama pertumbuhan rohani: semakin dekat hubungan dengan Tuhan, semakin mendalam pemahaman akan sabda-Nya, dan semakin nyata karakter Kristus terwujud dalam hidup sehari-hari.
Romo Yuvensius kemudian mengajak umat merenungkan beberapa arah pertumbuhan iman yang relevan dengan peresmian Paroki Merombok.
Mengacu pada seruan Kitab Nabi Yesaya tentang panggilan menjadi terang, Romo Yuvensius menekankan bahwa iman yang bertumbuh akan memancarkan buah-buah yang baik: mencintai, bukan membenci; damai, bukan konflik; memaafkan, bukan balas dendam; rendah hati, bukan keangkuhan; saling mendukung, bukan menjatuhkan.
“Menjadi terang bagi sesama tidak ada biayanya. Semua orang bisa melakukannya,” pesannya, mengajak umat untuk “saling mencahayai” satu sama lain.
Menghadirkan damai sejahtera
Romo Yuvensius juga mengangkat pesan Rasul Paulus kepada jemaat untuk hidup dalam damai sejahtera. Damai, menurutnya, tidak datang begitu saja, tetapi diciptakan lewat kesaksian hidup yang berkenan kepada Allah dan sesama. Damai lahir dari kasih Tuhan yang mengubah hati manusia.
Karena itu, umat diajak melekat pada sumber damai sejati, yakni Tuhan sendiri, agar damai tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya hidup di lingkungan paroki.
Bersandar pada ajaran Injil Yohanes tentang ranting dan pokok anggur, Romo Yuvensius menegaskan bahwa kedekatan dengan Tuhan adalah syarat untuk menghasilkan buah. “Ranting yang tidak tinggal pada pokok anggur tidak akan mampu menghasilkan buah,” ujarnya.
Tinggal dalam Tuhan berarti hidup dalam kehadiran-Nya setiap hari: mengandalkan Tuhan dalam keputusan, memperbarui iman lewat doa, pembacaan Kitab Suci, dan persekutuan dengan sesama.
Persekutuan sinergis sebagai arah pastoral
Romo Yuvensius juga mengaitkan peresmian paroki dengan hasil Sidang Pastoral Post Natal 2026, yang menetapkan arah pastoral: Persekutuan Sinergis.
Tema ini mengingatkan bahwa gerak bersama adalah fondasi perjalanan Gereja, dengan inspirasi teologis dari Allah Tritunggal yang hidup dalam relasi, bukan menyendiri.
Sinergi, lanjutnya, hanya mungkin terjadi ketika ego pribadi dikalahkan oleh kepentingan perutusan; kuasa diubah menjadi pelayanan; dan jabatan dipahami sebagai amanah, bukan keistimewaan.
“Kita tidak kekurangan kegiatan, tetapi kadang kekurangan keterhubungan,” kata Romo Yuvensius, seraya mengajak umat menumbuhkan kolaborasi dan saling menopang agar Paroki Merombok benar-benar menjadi persekutuan yang hidup.
Tahun Persekutuan Sinergis
Masih dalam rangkaian peresmian Paroki Santa Theresia Kanak-kanak Yesus Merombok, juga dilangsungkan launching Tahun Persekutuan Sinergis untuk tingkat paroki.
Kegiatan ini dibuka oleh Romo Antonius Sanor, Pr., selaku pastor paroki terpilih, sebagai tanda komitmen awal untuk menata kehidupan menggereja dengan semangat berjalan bersama.
Bertumbuh dari stasi menjadi paroki, Merombok menempuh peziarahan panjang yang mengajarkan satu hal penting: Gereja bukan terutama tentang bangunan atau struktur, tetapi tentang persekutuan umat yang berjalan bersama dalam Kristus.
Karena itu, kesatuan menjadi fondasi utama agar Paroki Merombok sungguh menjadi Gereja yang hidup: berakar dalam iman, terbuka bagi pelayanan kasih, dan menghadirkan berkat bagi sesama.
Umat pun diharapkan ambil bagian secara aktif, dewasa, dan bertanggung jawab dalam seluruh dinamika paroki yang baru. Dengan peresmian ini, Paroki Merombok tercatat sebagai paroki ke-27 di Keuskupan Labuan Bajo. (*)
Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.