Pesan Paus Leo XIV pada Hari Orang Sakit Sedunia: Mencintai dengan Menanggung Penderitaan Orang Lain

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ke-34 tahun 2026 akan diperingati 11 Februari 2026.

Vatican, Katolikana.com – Paus Leo XIV menyampaikan pesannya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-34, dan mengajak umat beriman untuk merenungkan belas kasih orang Samaria dan bagaimana kita pun dapat menawarkan kasih dengan menanggung penderitaan orang lain.

Dilansir dari Vatican.News, Selasa (20/1/2026), dalam pesannya yang ditandatangani pada 13 Januari 2026 dan dirilis pada hari Selasa (20/1/2026), Paus Leo XIV mengajak refleksi ulang tentang sosok ‘Orang Samaria yang Baik Hati’ menjelang peringatan yang akan dirayakan secara khidmat bulan depan di Chiclayo, Peru.

Ia mencatat bahwa gambaran ini “selalu relevan dan penting untuk menemukan kembali keindahan amal dan dimensi sosial dari belas kasihan” dan membantu lebih lanjut “mengarahkan perhatian kita kepada orang-orang yang membutuhkan dan semua orang yang menderita, terutama orang sakit.”

Bacaan Injil menurut Santo Lukas, Yesus menjawab seorang ahli Taurat, yang memintanya untuk mengidentifikasi sesama yang harus dikasihinya, dengan kisah ini.

Seorang pria yang bepergian dari Yerusalem ke Yerikho diserang oleh perampok dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat.

Sementara seorang imam dan seorang Lewi melewatinya, seorang Samaria mengasihaninya, membalut lukanya, membawanya ke penginapan dan merawatnya.

Tiga karunia perjumpaan
Paus Leo XIV mengatakan bahwa ia telah memilih untuk merenungkan bagian Alkitab ini melalui kaca mata Ensiklik Fratelli tutti tahun 2020 karya mendiang Paus Fransiskus tentang persaudaraan manusia dan persahabatan sosial.

Di sana, belas kasihan dan kemurahan hati terhadap mereka yang membutuhkan tidak hanya direduksi menjadi upaya individu semata, tetapi diwujudkan melalui hubungan: dengan saudara-saudari kita yang membutuhkan pertolongan, dengan mereka yang merawat penderita dan, pada akhirnya, dengan Tuhan yang memberi kita kasih-Nya, ungkap Paus Leo XIV.

Paus kemudian membagi pesannya menjadi tiga bagian tentang karunia perjumpaan: “Sukacita menawarkan kedekatan dan kehadiran”; “Misi bersama untuk merawat orang sakit”; dan, “Selalu didorong oleh kasih kepada Tuhan, untuk berjumpa dengan diri kita sendiri dan sesama kita.”

Sukacita menawarkan kedekatan

“Dalam perumpamaan itu, ketika orang Samaria melihat orang yang terluka, ia tidak ‘melewatinya begitu saja.’

Sebaliknya, ia memandanginya dengan tatapan terbuka dan penuh perhatian – tatapan Yesus – yang mendorongnya untuk bertindak.”

Dengan mengingat hal ini, Paus Leo menekankan bahwa kasih bukanlah pasif, tetapi ia keluar untuk menemui sesama.

Menjadi sesama tidak ditentukan oleh kedekatan fisik atau sosial, tetapi oleh keputusan untuk mengasihi. Inilah sebabnya mengapa orang Kristen menjadi sesama bagi mereka yang menderita, mengikuti teladan Kristus, orang Samaria ilahi sejati yang mendekati umat manusia yang terluka.

“Karunia perjumpaan mengalir dari persatuan kita dengan Yesus Kristus,” katanya, menekankan, “Kita mengenali Dia sebagai Orang Samaria yang Baik Hati, yang telah membawa kita pada keselamatan abadi, dan kita menghadirkan Dia setiap kali kita mengulurkan tangan kepada saudara atau saudari yang terluka.”

Sambil mengakui bahwa kita hidup “terbenam dalam budaya kecepatan, kesegeraan, dan tergesa-gesa—budaya pengabaian dan ketidakpedulian yang mencegah kita untuk berhenti sejenak dan mendekat untuk mengakui kebutuhan dan penderitaan yang mengelilingi kita,” Paus Leo mengamati bahwa justru dalam skenario yang sibuk inilah kita dapat menemukan sukacita dari membantu orang lain.

Misi bersama untuk merawat orang sakit

Paus Leo XIV kemudian membahas tentang belas kasih sebagai emosi mendalam yang mendorong kita untuk bertindak, yang “muncul dari dalam dan mengarah tertuju pada respons, yang berkomitmen terhadap penderitaan orang lain.”

“Dalam pengalaman saya sebagai misionaris dan Uskup di Peru, saya secara pribadi telah menyaksikan banyak orang yang menunjukkan belas kasih dan kasih sayang dalam semangat orang Samaria dan pemilik penginapan,” ujar Paus.

“Hal itu terlihat pada anggota keluarga, tetangga, petugas kesehatan, mereka yang terlibat dalam pelayanan pastoral bagi orang sakit, dan banyak orang lain yang berhenti di sepanjang jalan untuk mendekat, menyembuhkan, mendukung, dan menemani mereka yang membutuhkan,” tambahnya.

“Dengan menawarkan apa yang mereka miliki,” kata Paus, “mereka memberikan dimensi sosial pada belas kasih, dan pengalaman ini, yang terjadi dalam jaringan hubungan, melampaui sekadar komitmen individu.”

Paus Leo XIV menyatakan bahwa karena alasan ini, dalam Anjuran Apostolik Dilexi Te baru-baru ini, ia menyebut perawatan orang sakit bukan hanya sebagai “bagian penting” dari misi Gereja, tetapi sebagai “tindakan gerejawi” yang autentik.

Lebih lanjut, Bapa Suci mengingatkan bahwa beliau pernah mengutip ungkapan yang disampaikan Santo Siprianus yang menggambarkan “bagaimana dimensi merawat orang sakit berfungsi sebagai ukuran kesehatan suatu masyarakat.”

“Menjadi satu dalam Hyang Esa” berarti benar-benar mengakui bahwa kita adalah anggota dari satu Tubuh yang membawa belas kasihan Tuhan kepada penderitaan semua orang, masing-masing sesuai dengan panggilan kita sendiri.

Kasih Tuhan pendorong bertemu diri sendiri dan sesama

Merenungkan perintah Tuhan “Engkau harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu, dan sesamamu seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27), kita mengakui keutamaan kasih kepada Tuhan dan konsekuensi langsungnya bagi setiap dimensi kasih dan hubungan manusia.

“Kasih kepada sesama kita,” kata Paus, “adalah bukti nyata keaslian kasih kita kepada Tuhan.”

Bapa Suci menambahkan bahwa “melayani sesama berarti mengasihi Tuhan melalui perbuatan.”

Dalam hal ini, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Paus Benediktus XVI mengamati “sebagai makhluk spiritual, manusia didefinisikan melalui hubungan antar pribadi” dan “bukan dengan isolasi manusia menetapkan nilainya, tetapi dengan menempatkan dirinya dalam hubungan dengan orang lain dan dengan Tuhan.”

Berdoa memohon semangat seperti “Orang Samaria”

Bapa Suci menegaskan bahwa “obat sejati untuk luka umat manusia adalah gaya hidup yang didasarkan pada kasih persaudaraan, yang berakar pada kasih kepada Tuhan,” saat ia mengungkapkan harapannya “agar gaya hidup Kristen kita selalu mencerminkan semangat persaudaraan, “ Orang Samaria” ini.”

Paus mengajak umat beriman untuk bergabung dengannya dengan berdoa kepada Bunda Maria, Penyembuh Orang Sakit, untuk membantu semua yang menderita dan membutuhkan belas kasihan, penghiburan, dan telinga yang mendengarkan, dengan doa kuno berikut, yang sering diucapkan dalam keluarga untuk mereka yang sedang menderita penyakit dan dalam kesakitan.

“Bunda yang manis, janganlah Engkau berpisah dariku. Janganlah Engkau memalingkan pandangan-Mu dariku. Berjalanlah bersamaku setiap saat dan jangan pernah meninggalkanku sendirian. Engkau yang selalu melindungiku sebagai seorang Ibu sejati, hantarkanlah permohonanku agar memperoleh bagiku berkat dari Bapa, Putra dan Roh Kudus.”

Akhirnya, Paus Leo XIV menyimpulkan dengan memberikan Berkat Apostolik kepada semua orang yang sakit, kepada keluarga mereka, dan kepada mereka yang merawat penderita, baik petugas kesehatan maupun pekerja pastoral, dan secara khusus kepada semua yang berpartisipasi dalam Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ini. (*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Hari Orang Sakit SeduniaPaus Leo XIV
Comments (0)
Add Comment