Refleksi bacaan Senin (26/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.
Katolikana.com – Peringatan Santo Timotius dan Titus serta bacaan liturgi pada hari ini memberikan pelajaran penting tentang pentahbisan seorang uskup.
Gereja mempraktikkan tradisi itu sejak zaman para rasul. Jika memilih Surat Paulus kepada Timotius (2 Timotius 1:1-8) atau kepada Titus (Titus 1:1-5) dalam misa hari ini, kita menemukan fakta bahwa Paulus mentahbiskan orang menjadi uskup (penatua yang mengatur dan menggembalakan jemaat).
Praktik ini menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan dalam Gereja itu terjadi melalui penumpangan tangan para rasul. Itu menjadi tanda turunnya Roh Kudus atas orang yang ditahbiskan.
Melihat iman
Jadi, pemimpin Gereja itu bukan orang yang karena ambisi lalu mengangkat dirinya menjadi pemimpin. Mereka yang secara akademis memiliki kemampuan manajerial dan mumpuni dalam kepemimpinan pun belum tentu bisa menjadi uskup.
Mereka itu dipilih oleh Tuhan melalui Gereja-Nya.
Paulus memilih Timotius dan Titus, kemudian mengurapi mereka menjadi uskup karena melihat iman dan kehidupan mereka yang layak diteladani. Dia juga menganggap mereka cakap.
Di samping itu, Paulus masih terus berkomunikasi dan membimbing mereka.
Semangat kolegialitas
Kita melihat bahwa Paulus menggembalakan umat yang dipercayakan kepada-Nya bersama Titus dan Timotius. Sekali lagi, kita menemukan semangat kolegialitas para uskup dalam menggembalakan Gereja. Jelas, Gereja itu bukan perusahaan atau lembaga pribadi yang bisa diatur sesuai selera pribadi sang pemimpin.
Lalu, mengapa hari ini kita membaca Injil Lukas 10:1-9 yang isinya tentang Yesus menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka?
Ketika membaca seluruh perikop itu, kita menemukan topik yang menarik dan dominan, yakni perutusan. Yesus mengutus tujuh puluh murid mendahului Dia ke tempat-tempat yang akan dikunjungi-Nya.
Pembuka jalan
Para murid itu seperti membuka jalan bagi kedatangan Yesus. Demikian pula para uskup dan para imam yang membantunya kini melaksanakan tugas serupa. Mereka membuka jalan bagi Yesus dengan mewartakan Yesus kepada orang banyak.
Dengan demikian uskup, imam, dan diakon itu berkarya bukan demi kepentingan sendiri, melainkan untuk Yesus. Tanpa berkarya untuk Kristus mereka kehilangan legitimasinya.
Mereka membutuhkan persatuan dengan Yesus dan kolega mereka.
Hingga kini pentahbisan uskup dalam Gereja masih mengikuti prinsip dan pedoman yang sama. Karena itu, para uskup tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi dalam kesatuan dan kerja sama (kolegialitas) para uskup.
Marilah berdoa bagi para uskup agar mereka dikaruniai kebijaksanaan dan menggembalakan umat sesuai dengan teladan Gembala utama, Yesus Kristus, Tuhan kita.
Senin, 26 Januari 2026
Peringatan Santo Timotius dan Titus, Uskup
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.