Tahun Yubileum Santo Fransiskus 2026: Menghidupkan Pesan Perdamaian dan Cinta terhadap Semua Ciptaan

Katolikana.com—Tahun 2026 menjadi tahun istimewa bagi umat Katolik di seluruh dunia. Paus Leo XIV secara resmi menetapkan Tahun Yubileum Fransiskan untuk memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus Assisi, sang Poverello.

Perayaan Yubileum berlangsung dari 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027, menjadi kesempatan rohani bagi umat untuk memperdalam iman, memperbarui komitmen hidup sederhana, dan meneladani kasih perdamaian yang dianugerahkan Tuhan melalui Fransiskus.

Umat Katolik dapat memperoleh indulgensi penuh dengan memenuhi syarat umum: pengakuan dosa, penerimaan Komuni Kudus, berdoa untuk intensi Paus, dan melakukan ziarah ke gereja atau biara Fransiskan.

Paus Leo XIV juga merumuskan doa khusus kepada Santo Fransiskus agar umat memperoleh keberanian menjadi pembawa damai di tengah konflik dunia (Vatican News): di masa yang dilanda konflik dan perpecahan ini, doakanlah kami agar kami dapat menjadi pembawa damai: saksi damai yang tak bersenjata, melucuti senjata akan perdamaian yang datang dari Kristus.

Lukisan dinding Santo Fransiskus dari Assisi abad ke-13 karya pelukis Florentine Cimabue, salah satu penggambaran santo paling awal. Lukisan ini terletak di gereja bawah Basilika Santo Fransiskus dari Assisi di Assisi, Italia. Foto: Jacob Stein/Crux Stationalis.

Dari Anak Kaya Menjadi Sahabat Orang Miskin

Giovanni Francesco Bernardone, yang dikenal sebagai Fransiskus, lahir di Asisi, Italia, pada 1182 dari keluarga pedagang kaya. Masa mudanya dipenuhi kemewahan dan kesenangan duniawi.

Ia sempat ikut berperang dalam konflik kota dan mengalami penahanan selama setahun pengalaman yang menandai awal perubahan hidupnya.

Setelah mengalami penderitaan dan kesadaran spiritual, Fransiskus meninggalkan gaya hidup mewah. Ia memilih hidup sederhana, melayani orang miskin dan sakit, serta mendedikasikan waktu untuk berdoa.

Sebuah pengalaman penting terjadi di gereja San Damiano ketika ia mendengar suara Kristus berkata: “Fransiskus, perbaikilah rumah-Ku yang hampir rubuh ini!”

Tindakan Fransiskus menjual harta ayahnya untuk memperbaiki gereja, menandai awal perjalanan rohani yang penuh pengorbanan dan iman. Peristiwa ini menegaskan keputusan pribadinya untuk sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan dan menekankan kesederhanaan hidup.

The Basilica of St. Francis, site of the saint’s tomb, in Assisi, Italy, is seen in this 2007 file photo. (CNS photo/Gregory A. Shemitz, Long Island Catholic)

Mendirikan Ordo Fransiskan dan Menebarkan Kasih

Kesederhanaan, kegembiraan, dan pelayanan Fransiskus menarik banyak pengikut. Bersama beberapa pemuda, ia membentuk Ordo Saudara-saudara Dina (Ordo Fransiskan), yang menekankan kaul kemiskinan, kesucian, dan ketaatan.

Tidak lama kemudian, Suster Klara bergabung, mendirikan Ordo Kedua Fransiskan bagi wanita yang ingin mengikuti teladan hidup Fransiskus.

Fransiskus menolak menjadi imam, memilih hidup sebagai diakon, dan menekankan keserupaan dengan Kristus dalam kemiskinan dan pelayanan. Persaudaraan, kerendahan hati, dan kesederhanaan menjadi inti kehidupan rohaninya. Ordo ini berkembang pesat ke berbagai negara Eropa dan diakui secara resmi oleh Paus Honorius III pada tahun 1222.

Pada umur 43 tahun, Fransiskus menerima stigmata, tanda luka-luka Kristus, di bukit La Verna. Peristiwa ini menegaskan kedekatannya dengan Tuhan dan komitmen total pada jalan salib.

Fransiskus juga dikenal sebagai “Sahabat Alam Semesta” karena cintanya yang mendalam terhadap seluruh ciptaan. Ia menyapa matahari, bulan, burung, dan binatang sebagai saudara, mengajarkan umat untuk melihat ciptaan sebagai cerminan kasih Tuhan. Sikapnya ini menginspirasi gagasan perdamaian universal, pesan utama Yubileum 2026.

Santo Fransiskus dari Assisi. Foto: Paolo Gallo/Shutterstock

Misi, Perdamaian, dan Ajaran Abadi

Fransiskus menempuh perjalanan misi ke Timur, termasuk Mesir dan Suriah, untuk mewartakan Injil dan menebarkan kasih. Meski menghadapi kesulitan dan penolakan, ia tetap gigih, menunjukkan kesabaran, belas kasih, dan keteguhan iman.

Ia juga mendirikan Ordo Ketiga Fransiskan bagi umat awam yang ingin hidup sesuai teladannya sambil tetap menjalankan tanggung jawab keluarga atau masyarakat. Ajarannya menekankan perbuatan baik, kehidupan sederhana, dan cinta terhadap sesama sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Karyanya, seperti “Gita Sang Surya”, menunjukkan bagaimana seni dan puisi bisa menjadi sarana perdamaian dan rekonsiliasi di tengah konflik. Bahkan perselisihan antara penguasa lokal berhasil didamaikan melalui pesan cinta dan pengampunan yang dibawa pengikutnya.

Pameran publik jenazah Santo Fransiskus dari Assisi di Basilika Santo Fransiskus dari Assisi Italia, untuk pertama kalinya sejak tahun 1914, sebagai bagian dari peringatan 800 tahun kematiannya pada 2026. Foto: Sala Stampa

Relevansi Tahun Yubileum 2026

Tahun Yubileum Santo Fransiskus menjadi momen bagi umat untuk meneladani kegembiraan dalam kesederhanaan, pelayanan kepada sesama, dan cinta universal terhadap ciptaan. Ziarah, doa, dan refleksi menjadi sarana rohani untuk memperkuat iman dan membangun perdamaian.

Selain itu, dokumen Gereja Ensiklik Fratelli Tutti (2020), yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada 3 Oktober 2020 sangat relevan dengan Yubileum ini.

Ensiklik ini menyerukan persaudaraan universal, solidaritas dengan yang miskin, dan perdamaian antar manusia, nilai-nilai yang selaras dengan teladan Santo Fransiskus.

Dokumen ini mengingatkan kita bahwa cinta dan persaudaraan tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup seluruh ciptaan Tuhan. Paus Leo XIV menegaskan (Vatican News):

Damai dengan Tuhan, damai antara manusia, dan damai dengan ciptaan adalah satu kesatuan dari seruan untuk rekonsiliasi universal.”

Paus Leo XIV

Dengan mengikuti teladan Fransiskus dan semangat Fratelli Tutti, umat diundang menjadi pembawa damai, saksi kasih, dan hidup dalam persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan.

Santo Fransiskus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kesederhanaan, pelayanan, dan cinta universal.

Tahun Yubileum 2026 bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga panggilan hidup bagi setiap umat Katolik untuk meneguhkan iman, menebar kasih, dan menjadi agen perdamaian di dunia. Teladan Fransiskus tetap relevan bagi kita semua, seperti ungkapannya:

Barang siapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin. (*)

Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM

Yubileum Santo Fransiskus
Comments (0)
Add Comment