Medan, Katolikana.com—Retret mahasiswa/i Angkatan XVII Sekolah Tinggi Pastoral (STP) St. Bonaventura Medan menjadi ruang jeda yang bermakna untuk menata kembali arah hidup, meneguhkan iman, dan menumbuhkan optimisme menjelang perutusan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi retret terakhir bagi mahasiswa semester VIII Angkatan XVII sebelum menuntaskan studi dan melangkah ke tahap pelayanan yang lebih luas, Rabu–Jumat (21–23/1/2026), di Rumah Retret Samadi Santo Vinsensius, Pematang Siantar.
Sebanyak 84 mahasiswa/i mengikuti rangkaian retret yang dipimpin RP Antonius, OFM Conv., dengan pendampingan para pembina.
Di tengah ritme perkuliahan, persiapan skripsi, serta beragam tuntutan akademik, retret ini menjadi ruang pembinaan rohani yang membantu mahasiswa merawat diri, memperdalam relasi dengan Allah, dan menata kembali kesiapan batin sebagai calon guru agama dan pekerja pastoral.
Rekoleksi: Berhenti Sejenak untuk Menyapa Diri
Hari pertama diawali dengan rekoleksi sebagai pintu masuk menuju proses pengenalan diri. RP Antonius, OFM Conv. menjelaskan bahwa rekoleksi berasal dari istilah re-collection: menghimpun kembali pengalaman hidup dengan berani berhenti sejenak dari rutinitas.
Melalui rekoleksi, mahasiswa diajak menengok perjalanan pribadi—pengalaman iman, pergulatan, keberhasilan, serta luka—untuk menemukan kembali makna hidup di hadapan Allah.
Ia mengingatkan bahwa manusia bergerak dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun, panggilan yang paling konkret adalah hadir secara utuh pada saat ini. Banyak kecemasan, katanya, lahir ketika seseorang terperangkap pada penyesalan masa lalu atau ketakutan terhadap masa depan.
“Hiduplah saat ini,” pesannya, singkat tetapi menohok.
Untuk membantu pendalaman, peserta diajak menempuh empat langkah rekoleksi: masuk ke dalam diri, berjumpa dengan Allah, membangun relasi sosial, dan berani memberi kesaksian dalam kehidupan nyata. Proses tersebut dijalani melalui doa pribadi, refleksi dan koreksi diri, serta dinamika kreatif yang mendorong keterlibatan aktif.
Mahasiswa kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berbagi pengalaman. Salah satu kegiatan yang menonjol adalah pembuatan “poster jiwa” sebagai cara menata identitas diri sekaligus membaca pentingnya hidup dalam kebersamaan. Malam hari ditutup dengan penampilan kreativitas kelompok yang mempererat persaudaraan satu angkatan.
Mengenal Diri dan Mengolah Relasi
Hari kedua dibuka dengan Perayaan Ekaristi pagi. Bacaan pertama dari 1 Samuel 18:6–9; 19:1–7 mengangkat kisah kecemburuan Saul terhadap Daud—sebuah cermin tentang bagaimana iri hati, egoisme, dan kegagalan mengenal diri dapat merusak relasi.
Injil Markus 3:7–12 menampilkan Yesus yang diikuti banyak orang dan menegaskan identitas-Nya sebagai Putra Allah, yang mengundang setiap orang datang dengan hati yang tulus.
Pada sesi materi, RP Antonius, OFM Conv. mengajak peserta membaca diri melalui kerangka Johari Window (Joseph Luft dan Harrington Ingham).
Empat area kepribadian—open area, hidden area, blind spot, dan unknown area—menjadi alat untuk memahami bahwa sebagian diri kita terbuka, sebagian tersembunyi, sebagian tidak kita sadari, dan sebagian hanya Tuhan yang mengetahuinya. Dari sini peserta ditantang untuk semakin jujur, berani terbuka terhadap masukan, dan rendah hati menerima proses.
Pendalaman materi diterjemahkan ke dalam dinamika kelompok berupa “pembangunan menara”. Menara menjadi simbol pribadi calon pekerja pastoral: fondasi iman dan mental harus kuat agar mampu menghadapi tekanan, tantangan, dan perubahan.
Refleksi dipertegas dengan kutipan Santo Agustinus: “Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhan; dan kenalilah Tuhan, maka engkau akan mengenal dirimu.”
Dalam bagian ini, RP Antonius, OFM Conv. juga menekankan kebiasaan konkret pengembangan diri: berani mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, terbuka terhadap umpan balik, dan mau bereksplorasi.
Ia mengingatkan bahwa tantangan zaman tidak hanya datang dari persaingan antarmanusia, tetapi juga dari perkembangan kecerdasan buatan.
Karena itu, mahasiswa yang berada di tahap akhir studi didorong untuk semakin mengenal diri dan mengembangkan potensi secara bijaksana—terutama dalam proses penulisan skripsi dan persiapan perutusan.
Rangkaian hari kedua ditutup dengan outbond dan malam keakraban. Kegiatan ini memberi ruang jeda: melepaskan kepenatan, memulihkan energi, dan membangun kembali kegembiraan dalam kebersamaan.
Optimisme sebagai Bekal Perutusan
Hari ketiga diawali dengan meditasi singkat, lalu dilanjutkan materi tentang optimisme. Optimisme dipahami sebagai sikap positif yang bertumpu pada penerimaan diri, usaha yang sungguh-sungguh, dan pengharapan yang kokoh.
RP Antonius, OFM Conv. menegaskan bahwa optimisme bukan sikap naif, melainkan kemampuan menggunakan akal budi untuk mengambil keputusan yang tepat dalam terang iman.
Mahasiswa diajak meninggalkan pola pesimis—merasa tidak berharga, mudah menyerah, dan ragu pada kemampuan diri. Pesan ini diteguhkan dengan merujuk dokumen Christus Vivit tentang panggilan orang muda untuk hidup dalam harapan dan keberanian, serta keyakinan bahwa kemudaan sejati terletak pada hati yang mampu mengasihi (Christus Vivit, art. 143).
Retret ditutup dengan Perayaan Ekaristi penutup sebagai tanda pengutusan. Bacaan 1 Samuel 24:3–21 dan Injil Markus 3:13–19 menegaskan bahwa setiap orang dipanggil dan diutus sesuai kehendak Allah.
Dalam homili penutup, RP Antonius, OFM Conv. kembali menggarisbawahi pentingnya pengenalan diri dan optimisme sebagai bekal mahasiswa semester VIII Angkatan XVII dalam menjalani panggilan sebagai calon skriptor dan guru agama.
Retret terakhir ini menjadi pengingat: perjalanan iman berawal dari keberanian menengok diri dan membuka hati bagi karya Allah. Ketika diri dirawat dan iman diteguhkan, harapan bertumbuh dan menguatkan langkah perutusan. “Jangan biarkan siapa pun merampas harapanmu” (Christus Vivit, art. 15). (*)
Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM