Pelatihan Tim Sinodal Vikariat Medan Ditutup: Uskup Kornelius Tekankan “Pertobatan Sinodal”

Medan, Katolikana.com—Pelatihan Tim Sinodal Paroki untuk wilayah Vikariat Medan Katedral dan Medan Hayam Wuruk ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, di Ruang Jasmine lantai 8 Gedung Catholic Center Christosophia, Minggu (25/1/2026).

Ekaristi penutupan itu diikuti sekitar 250 peserta, yang merupakan utusan tim sinodal dari 12 paroki di Vikariat Santo Petrus Rasul–Medan Katedral dan 10 paroki di Vikariat Santo Yohanes Rasul–Medan Hayam Wuruk.

Turut hadir pula perwakilan dari dua paroki di Vikariat Santo Yakobus Rasul–Kabanjahe. Uskup Kornelius didampingi Vikaris Episkopal Pastoral sekaligus Ketua Sekretariat Sinode, RP. Serafin Dany Sanusi, OSC.

Pertobatan sinodal, bukan sekadar program

Dalam homili, Mgr. Kornelius Sipayung mengingatkan bahwa Gereja hidup di zaman yang ditandai percepatan teknologi, banjir agenda, rapat, dan aktivitas pastoral. Namun, banyaknya kegiatan tidak otomatis berarti pertumbuhan rohani.

Ia menyinggung situasi ketika komunikasi bisa sangat cepat, tetapi relasi justru terasa makin dangkal; ketika agenda makin padat, tetapi kebijaksanaan tidak selalu bertambah.

“Dalam konteks inilah Yesus berkata kepada kita dalam memulai sinode ini: bertobatlah. Bukan dikatakan kepada kita, buatlah program, perbanyak kegiatan. Tetapi dikatakan kepada kita: ubah arah dengan cara berjalan bersama,” ujar Mgr. Kornelius Sipayung.

Menurut Uskup Kornelius, sinode pertama-tama bukan metode kerja organisasi, melainkan gerak rohani yang dimulai dalam doa. Ia mengingatkan bahwa Yesus memanggil para murid dari kehidupan nyata—dari pekerjaan mereka sebagai nelayan—bukan dari ruang rapat.

Ia lalu menegaskan bahwa “pertobatan sinodal” menuntut perubahan semangat, bukan semata perubahan struktur. Uskup Kornelius menyebut empat arah batin yang perlu terus dilatih oleh para penggiat sinode.

Pertama, kerendahan hati untuk mendengarkan. Kedua, kesediaan berjalan bersama. Ketiga, keberanian meninggalkan mentalitas lama, baik pada pihak yang memimpin maupun yang dipimpin. Keempat, kerinduan akan kesatuan.

Uskup Kornelius juga menekankan bahwa Yesus tidak mengatakan “bertobatlah supaya kamu sukses,” melainkan “bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat.” Artinya, Allah sedang bekerja.

Tugas umat bukan mengambil alih karya itu dengan ambisi, melainkan menyesuaikan langkah, pikiran, dan hati dengan kehendak-Nya.

Karena itu, ia mengajak tim sinodal paroki-paroki se-Keuskupan Agung Medan untuk menjadi orang-orang yang lebih dahulu bertobat—rendah hati, mendengar, dan siap berjalan bersama—agar sinode benar-benar menjadi jalan Roh Kudus.

Agenda pelatihan yang sudah dipersiapkan

Terpisah, RP. Serafin Dany Sanusi, OSC menjelaskan bahwa rangkaian pelatihan tim sinodal merupakan agenda yang sudah disiapkan dalam kerangka Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan.

Ia menyebut agenda sinode telah disosialisasikan sejak Fokus Pastoral pada 4 Oktober 2025, lalu ditandai pembukaan sinode pada Jumat (9/1/2026) dan dilanjutkan pembukaan di paroki-paroki melalui penyalakan Lilin Sinode serta pembentukan Tim Sinodal Paroki.

Dalam rangkaian itu, pelatihan tim sinodal dilaksanakan bertahap di berbagai vikariat. Pelatihan untuk Vikariat Kabanjahe, Pematangsiantar, dan Aek Kanopan berlangsung pada 17–18 Januari 2026 di Catholic Centre/PPU Pematangsiantar.

Pelatihan tim sinodal yayasan pendidikan Katolik digelar pada 22 Januari di Catholic Center Christosophia Medan. Pelatihan untuk Vikariat Medan Katedral dan Medan Hayam Wuruk berlangsung pada 24–25 Januari 2026 di tempat yang sama.

Agenda berikutnya dijadwalkan pada 31 Januari–1 Februari 2026 bagi Vikariat Dolok Sanggul, Sidikalang, dan Panggururan di Catholic Centre/PPU Pematangsiantar.

Materi pelatihan mencakup panorama sinode dan tujuan pelatihan, keterampilan dasar fasilitator, pelatihan sinodalitas dan fokus konsultasi, latihan lagu sinode, teknik notulensi, model-model pertemuan, penulisan jurnal, teknik sintetis dan desain pertemuan, hingga teknik pelaporan.

Narasumber pelatihan antara lain RP. Serafin Dany Sanusi, OSC, RP. Paul Halek Bere, SSCC, Hastuti Nahampun, dan Tibo.

Peserta menilai pelatihan membantu menyamakan arah

Sejumlah peserta mengaku pelatihan ini membantu menyamakan persepsi dan mempersiapkan tim sinodal paroki untuk menjalankan proses konsultasi umat.

Iwan Sunarya Panjaitan dari Paroki St. Agatha Batangkuis menilai pelatihan memberi arah bersama bagi tim sinodal, sekaligus membekali teknik fasilitasi untuk mendengarkan aspirasi umat di lingkungan.

Sementara itu, Daniel Sinuhaji, Sekretaris Tim Sinodal Paroki Sang Penebus Bandar Baru, menyebut pembekalan semacam ini dibutuhkan agar tim sinodal dapat berbagi pengetahuan hingga tingkat stasi, rayon, dan lingkungan.

Ia berharap proses pelaksanaan sinodalitas dapat berjalan semakin rapi dan terbuka, sehingga suara umat dapat terhimpun dan menjadi bahan pertimbangan pastoral di tingkat keuskupan. (*)

Kontributor Katolikana, tinggal di Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Keuskupan Agung Medan.

Sinodal
Comments (0)
Add Comment