Jenang sungsum paling laris manis diantara jenang yang lain.
Surakarta, Katolikana.com- Sejak tahun 1992, Sri Lestari berjualan berbagai jenang di depan RS Brayat Minulya. Ia memberi label gerobak tempat menyajikan jenang dengan tulisan “Jenang Brayat”.
Kuliner ini berada di seberang jalan depan RS Brayat Minulya Surakarta yang terletak di Jl. Dr. Setiabudi No.106, Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Beberapa pembuat konten di Medsos menyebut kuliner jenang ini sebagai salah satu icon kuliner Kota Bengawan.
Sri Lestari berjualan pada hari Senin hingga Sabtu. Hari Minggu libur. Jualan dilakukan pada jam 10.00 hingga 13.00 WIB. Biasanya tiga jam jualan jenang sudah habis terjual. Jenang yang habis terjual yang pertama biasanya jenang sungsum.
Berjualan 34 tahun
Lebih dari 34 tahun Sri Lestari berjualan jenang sungsum, jenang grendul, jenang mutiara, jenang ketan hitam dan jenang pati garut.
Pembeli terdiri dari keluarga pasien di RS Brayat Minulya dan para pembezuk saudara yang sakit. Sedangkan pelanggan, warga Kota Solo yang telah mengenal dan merasa sesuai selera dengan “Jenang Brayat” ini.
Tekstur jenang yang lembut, rasa lezat, dan “juruh” yang sesuai menjadi daya lekat bagi pembeli atau pelanggan kembali membeli “Jenang Brayat”.
Memakai nomor antrian
Bagi pembeli dan pelanggan saat kuliner ini dibuka mulai pukul 10.00 WIB harus sabar antri untuk dilayani oleh penjual.
Pembeli on line melalui jasa aplikasi on line, pembeli yang akan menyantap di tempat atau pembeli yang membeli untuk dibawa pulang harus sabar dilayani sesuai nomor antrian yang diberikan.
Kaya makna
Berbagai macam jenang yang dijual Sri Lestari, dalam catatan kuliner Nusantara memiliki makna. Makna tersebut bagi pembeli tidak menjadi perhatian yang utama karena para pembeli lebih terdorong membeli karena keinginan mengkonsumsi jenang sesuai selera yang muncul saat akan membeli.
Catatan makna jenang sesuai tradisi masyarakat yang masih meyakini:
- Jenang sumsum. Merupakan simbol rasa syukur, kebersamaan, dan ketulusan hati dalam tradisi Jawa. Hidangan ini sering disajikan untuk memulihkan energi (‘tombo kesel’) setelah hajatan, sekaligus melambangkan kesetaraan, persatuan, dan penghormatan kepada tetangga yang membantu kerja hajatan. Warna putih melambangkan kebersihan hati, sementara manisnya juruh memberikan simbol kesejahteraan.
- Jenang grendul. Kuliner ini memiliki makna keharmonisan dalam perbedaan, asal-usul manusia, serta rasa syukur kepada Tuhan. Jenang ini melambangkan titik awal kehidupan dan menjaga silaturahmi. Bulatan kenyal (grendul) melambangkan embrio, sedangkan bubur coklat melambangkan darah ibu.
- Jenang mutiara. Dibuat dari bahan dasar sagu yang kenyal, sering disajikan dengan kuah santan. Secara umum, hidangan ini melambangkan manisnya kehidupan, kebersamaan, dan keharmonisan.
- Jenang ketan hitam memiliki makna kebersamaan, persatuan, dan keharmonisan, yang sering disajikan dalam acara adat atau pernikahan untuk melambangkan tali kasih yang “lengket” atau erat. Warna gelap dan tekstur lengketnya melambangkan ikatan yang kokoh dan kehangatan dalam kekeluargaan.
- Jenang pati garut. Jenang pati garut sebagai pengingat kematian (pati/mati) dan ajakan untuk selalu pasrah pada Tuhan. Kuliner ini juga dikenal sebagai makanan kesehatan, sering digunakan untuk mengobati masalah pencernaan seperti maag dan diare karena teksturnya yang lembut dan mudah dicerna.
Bagi para pencinta kuliner, jika kebetulan singgah atau berkunjung ke Kota Solo bisa mencoba menikmati macam-macam jenang lezat “Jenang Brayat”. Rasanya “Mak Nyus”.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta