Animator Laudato Si’ Surabaya Ikuti Retret di Claket, Mgr. Didik: “Kita Ditahbiskan Bersama”

Claket, Katolikana.com—Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo menyebut para animator Laudato Si’ Surabaya ikut “ditahbiskan bersama” dirinya dalam momentum tahbisan uskup pada Rabu (22/1/2025).

Pernyataan itu ia sampaikan saat menyapa 101 peserta Retret Laudato Si’ bertema Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’ yang digelar Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) Keuskupan Surabaya pada Sabtu–Minggu (7–8/2/2026) di Rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur.

“Bukan hanya saya yang ditahbiskan sebagai uskup pada 22 Januari 2025, tetapi juga para animator Laudato Si’ Surabaya,” kata Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo di hadapan peserta.

Uskup yang memilih moto Diligere Sicut Christus Dilexit (Mencintai seperti Kristus mencintai) itu mengenang keterlibatan relawan Laudato Si’ dalam rangkaian tahbisan uskup: mulai dari Vesper Agung Selasa (21/1/2025) hingga Misa Pontifikal Kamis (23/1/2025).

Sekitar 150 relawan dari berbagai paroki dan latar belakang disebut terlibat sebagai relawan kebersihan sekaligus melakukan kampanye Laudato Si’ sepanjang pekan rangkaian tahbisan.

Diikuti Utusan 24 Paroki dan Karya

Retret dua hari ini diikuti 101 peserta utusan dari 24 paroki, tarekat, sekolah, karya kesehatan, dan yayasan Katolik di wilayah Keuskupan Surabaya.

Peserta datang dari beragam komunitas—mulai dari para suster, utusan paroki-paroki di Surabaya, hingga para guru dan staf kesehatan dari Blitar. Puluhan OMK juga tampak hadir, membuat dinamika perjumpaan berlangsung hidup.

Kegiatan ini diketuai Sr. Sisilia, SSpS. Panitia menyebut retret bertujuan membangun pemahaman dasar peserta tentang pesan ensiklik Laudato Si’, membaca akar krisis lingkungan secara kritis, menumbuhkan spiritualitas Laudato Si’, serta membekali keterampilan praktis untuk aksi ekologis.

Hari Pertama: Memahami Krisis Rumah Bersama

Hari pertama mengangkat tema Melihat dan Menimbang: Memahami Krisis Rumah Bersama. Sesi pembuka dibawakan Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, Ketua Tim Kerja Nasional GLSI, yang mengajak peserta menjawab pertanyaan bersama: “Apa yang sedang terjadi pada rumah kita bersama?”

Dalam pemaparan itu, peserta diajak memahami batas-batas planet (planetary boundaries) dan konteksnya bagi situasi Jawa Timur. Tiga skenario krisis ekologis di masa depan turut disampaikan, lalu ditutup dengan undangan membangun praksis pertobatan ekologis, antara lain melalui inspirasi “Doughnut Economics” dari Kate Raworth.

Sesi berikutnya bertajuk Akar Manusiawi dari Krisis Ekologis juga dibawakan oleh pembicara yang sama. Peserta diajak membongkar asumsi-asumsi tentang krisis ekologis dan menelusuri empat akar persoalan sebagaimana ditegaskan Laudato Si’: dominasi paradigma teknokratik, antroposentrisme berlebihan, relativisme praktis, serta krisis moral dan spiritual masyarakat.

Sejumlah peserta retret Laudato si berfoto bersama Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Kehadiran Mendadak Uskup Surabaya

Di tengah rangkaian acara, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo hadir secara mendadak dan menyapa peserta. Ia mendorong para animator untuk segera bergerak dari hal-hal yang paling mungkin dilakukan di komunitas masing-masing.

Uskup juga menyampaikan sejumlah agenda ekologis keuskupan, termasuk rencana pengembangan Laudato Si’ Center Keuskupan Surabaya seluas 10 hektar dengan fokus konservasi tanaman langka. Ia juga menyebut agenda penyelenggaraan kegiatan Yubileum Laudato Si’ serta rencana penyusunan surat gembala terkait pembumian Laudato Si’ di Keuskupan Surabaya.

Refleksi Iman dan Analisis Sosial Ekologis

Rm. Markus Marcelinus Hardo Iswanto, CM, Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Surabaya sekaligus inisiator kegiatan, mengajak peserta menggali inspirasi iman dalam sesi Apa yang Diajarkan Iman Kita?. Ia menegaskan ajaran iman Katolik memanggil umat untuk membela dan melestarikan kehidupan.

Selanjutnya peserta mengikuti sesi Analisis Sosial Ekologis yang dibawakan Cyprianus Lilik Krismantoro Putro. Malam hari ditutup dengan refleksi dan doa yang dipandu Sr. Sisilia, SSpS, bersama Sr. Suhartati, OSU.

Hari Kedua: Misa dan Aksi Tanam Pohon

Hari kedua mengusung tema Bertindak: Komitmen Ekologis dan Tindakan Nyata. Kegiatan dimulai dengan Misa, dilanjutkan pemberkatan dan aksi penanaman 30 bibit pohon di lahan terbuka rumah retret. Panitia menegaskan aksi ini menjadi penanda komitmen ekologis bersama, bukan hanya pertobatan ekologis personal.

Kristien Yuliarti dari Tim Kerja Nasional GLSI membagikan pengalaman konkret aksi Laudato Si’ yang mendorong peserta untuk mulai bergerak dari basis. Sementara Sr. Stefani, SSpS, membawakan materi spiritualitas ekologis dengan gaya yang hidup dan komunikatif.

Rangkaian retret ditutup dengan presentasi rencana aksi dari tiap kevikepan dan kelompok kategorial. Perencanaan ini dimaksudkan agar peserta pulang dengan program kerja nyata yang dapat diterapkan di komunitas lokal masing-masing.

Suara Peserta dan Arah Gerakan

Gaby, peserta muda dari Paroki Kepanjen Surabaya, menilai materi yang padat membuat retret terasa “seharusnya tiga hari” agar pembahasan bisa lebih mendalam.

Sementara Agnes Fitriana, guru kelas 4 SDK Santa Maria Blitar, mengaku tertantang membawa pesan Laudato Si’ ke lingkungan kerja, sembari menyadari perjuangan membangun gaya hidup ramah lingkungan juga perlu dimulai dari diri sendiri.

Rm. Hardo, CM, secara khusus mendorong alumni retret agar masuk ke paroki-paroki dan menjadi penggerak utama Laudato Si’ di basis, sekaligus memperkuat sinergi dengan pegiat kemanusiaan, kebencanaan, serta keadilan dan perdamaian dalam satu reksa pastoral Keuskupan Surabaya.

Melalui pesan video, Rm. Marthen Jenarut, Pr—Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian–Pastoral Migran dan Perantau KWI—mengapresiasi upaya animasi keadilan ekologis di Keuskupan Surabaya.

Ia menegaskan aksi ekologis perlu berjalan bersama prinsip keadilan sosial, sebab krisis ekologis juga berarti krisis kemanusiaan.

Retret di Claket ini juga disebut sebagai tindak lanjut dari Pertemuan Nasional 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ pada Jumat–Minggu (5–7/9/2025) di Sentul City, Bogor, yang menghasilkan tiga rekomendasi: memprioritaskan animasi Laudato Si’ melalui training/retret, menyapa Orang Muda Katolik, serta penataan organisasi dan basis data jejaring animator.

GLSI menyebut tindak lanjut serupa telah dilaksanakan di Makassar pada Senin–Selasa (6–7/1/2026) dan direncanakan berlangsung di Jakarta pada April 2026. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Agustinus Tri Budi UtomoLaudato Si’Retret
Comments (0)
Add Comment