“DAMN you… little bastard.”
Suara itu meledak di kegelapan—bukan suara laki-laki, melainkan suaranya sendiri. Joane meronta, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dadanya dari dalam.
“Joane… dengar aku. Tarik napas. Pelan. One… two… three…” Suara Ben menembus kabut. Tenang. Terlatih. “Buka matamu. Kamu aman.”
Joane tersentak. Matanya basah. Punggungnya kaku. Ia tidak langsung tahu ia berada di mana. Lampu kuning hangat. Aroma lavender samar. Kursi empuk yang terlalu nyaman untuk orang yang baru saja diseret dari mimpi buruk.
“Air,” Ben menyodorkan gelas.
Joane meneguknya cepat—seperti orang yang baru keluar dari tenggelam. Baru setelah itu ia menatap Ben: laki-laki berkacamata, kemeja rapi, jam tangan sederhana. Di meja kecil di sisi kiri, sebuah rosario tergeletak seperti penanda: ruang ini tidak cuma bicara tentang pikiran, tetapi juga luka yang sering berseliweran ke iman.
“Oke.” Ben mengangguk pelan. “Kepalanya masih pusing?”
Joane menggeleng, lalu mengangguk lagi, tak yakin mana yang benar.
“Punggung? Tangan? Ada yang tegang?”
“Semua,” jawab Joane singkat. Suaranya serak.
Ben tidak memaksa. Ia menunggu beberapa detik, membiarkan udara di ruangan itu kembali menjadi milik Joane.
“Joane,” katanya akhirnya, lebih lembut. “Kita barusan hipnoterapi ringan. Kamu masuk trance sebentar—seperti relaksasi yang dalam. Kamu selalu datang ke sini, dan selalu berputar di satu titik yang sama.”
Joane menatap langit-langit, seolah titik itu tertulis di sana.
Ben melanjutkan, “Kamu selalu bilang: kamu ditinggalkan tiba-tiba.”
Joane tertawa pendek, pahit. “Padahal aku sudah berkorban. Aku memutus orang yang sudah mendampingiku… lama. Terlalu lama.” Ia menelan ludah. “Iya, Dok. Itu.”
Ben tidak membantah. Ia hanya bertanya, tepat di tempat yang membuat orang sulit bersembunyi.
“So… what do you want from him?”
Joane membuka mulut. Tidak ada jawaban yang keluar.
Kring… kring…
Ponsel Ben bergetar. Ia melirik layar, lalu mengangkat tatapannya.
“Do you mind if I take this?” Nada suaranya profesional, tapi matanya meminta izin, bukan sekadar formalitas.
Joane mengangguk pelan. Ia justru bersyukur diberi jeda dari pertanyaan yang terasa seperti silet.
Ben berdiri dan melangkah sedikit menjauh, menutup suara dengan telapak tangan. Joane bangkit menuju ruang tamu depan—ruangan yang lebih terang, dengan jendela besar. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, menarik kaosnya yang kusut, seolah kerapian bisa menipu perasaan.
Ia menyalakan rokok menthol.
Ssshhh…
Asap tipis naik, lalu memantul di wajahnya seperti kabut kenangan. Dan seperti biasa, kenangan itu memilih satu wajah: wajah yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Sosok itu lembut, sopan, dan terlalu pendiam ketika berhadapan dengan perempuan. Itulah yang membuat Joane tertantang—bukan sekadar tertarik. Ada naluri lama di dirinya, naluri untuk menaklukkan hal-hal yang tampak suci, atau setidaknya tampak sulit digapai. Dan laki-laki itu… ya, ia memang tampan.
Little handsome of mine.
“Hai…” suara Joane di masa lalu muncul lagi, ceria palsu yang dibuat agar terdengar santai. “Ajari aku doa dong? Mau ya? Kapan? Besok pagi? Misa pagi?”
Laki-laki itu tersenyum kecil, tapi matanya tidak lama-lama menatap. Ia selalu menunduk sebentar, seolah menjaga jarak dari sesuatu yang tidak ia ingin sentuh.
“Habis misa pagi,” katanya. “Kita coba, Joane.”
Joane ingat betul: ia merencanakan semuanya. Cara ia berdiri terlalu dekat ketika orang lain sudah bubar. Cara ia “tidak sengaja” menjatuhkan buku doa. Cara ia menahan tawa ketika tangannya disentuh untuk pertama kali—sentuhan yang sopan, cepat, dan seperti ingin segera berakhir.
Suatu kali, rosario sengaja ia sangkutkan di rambut. Ia pura-pura panik.
“Mas…”
Laki-laki itu berhenti. Wajahnya berubah. Tidak marah, tetapi tegas—tegas yang tidak meledak, tegas yang justru membuat orang merasa bersalah.
“Jangan panggil aku mas,” katanya pelan. “Panggil aku frater.”
“Kok gitu?” Joane mendongak, menggoda sambil memaksa. “Mas—eh, frater—gak sayang lagi?”
“Joane…” ia menarik napas. “Please.”
Kata itu pendek. Tapi ada pintu yang tertutup rapat di baliknya.
Kenangan bergerak lebih cepat, menjadi potongan-potongan mesra yang tidak pernah utuh: tatap yang tertahan, senyum yang disembunyikan, doa yang dijadikan alasan untuk bertemu. Lalu tiba-tiba… kosong. Hanya sepi. Dan sepi itu berubah menjadi amarah yang memalukan.
Damn you… little bastard.
Kring… kring…
Joane tersentak. Ben sudah berdiri di ambang ruang tamu. Wajahnya lebih serius dari sebelumnya.
“Joane.” Suaranya menahan sesuatu. “Halo?”
Joane tertawa gugup, menutup rokoknya dengan gerakan cepat. “Eh… aku melamun ya?”
Ben tidak langsung menjawab. Ia mendekat, duduk di kursi seberang, menjaga jarak aman.
“Aku baru saja ditelpon romo,” kata Ben. “Kamu ingat, kamu sudah setuju minggu lalu kalau aku boleh koordinasi dengan beliau… untuk hal-hal yang menyangkut keselamatanmu.”
Joane menegang. “Romo siapa?”
“Romo paroki tempat… frater itu berkarya.” Ben menelan kalimat yang hampir jatuh menjadi gosip. Ia memilih kata-kata, karena yang ia bawa bukan informasi, melainkan detonator.
“Frater itu curhat. Katanya… dia tidak bisa tegas sama kamu karena takut kamu hancur. Tapi setelah kamu pulang, dia sering menangis di depan patung Yesus.” Ben menatap Joane lurus. “Dia takut gagal jadi imam. Dia sungguh mencintai Tuhan.”
Joane memejam. Ada rasa yang terlalu banyak: malu, marah, takut, dan luka yang tiba-tiba berteriak minta diakui.
“Mungkin…” Ben melanjutkan pelan, “kamu bukan saingan yang sepadan dengan Dia yang dia cintai.”
Kalimat itu seperti palu.
Joane menutup telinganya. “Ahhh!”
“Joane.” Ben segera memandu. “Tarik napas. Ikuti aku. One… two… three… inhale. Hold. Exhale.”
Joane gemetar. Di dalam kepalanya, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas: suara dirinya sendiri, yang memaki bukan frater, bukan Tuhan—tetapi obsesi yang selama ini ia peluk seperti pelampung, padahal itu batu.
“Damn you… little bastard,” bisiknya, lemah. “Kenapa kamu bikin aku jadi begini?”
Ben mencondongkan badan sedikit, tidak menyentuh tanpa izin. “Kita tidak akan menyebut kamu jahat, Joane. Kita akan menyebut ini apa adanya: ini rindu yang salah alamat. Ini luka yang mencari rumah. Ini cara kamu bertahan… yang sekarang sudah tidak bekerja lagi.”
Joane menangis. Tangis yang bukan dramatis, melainkan lelah.
“Kalau dia memilih Tuhan,” kata Joane, putus. “Berarti aku… cuma gangguan?”
Ben menggeleng. “Kamu manusia. Kamu bisa salah arah. Kamu juga bisa pulang.”
Joane menatap rosario di meja kecil itu. Ada bagian dirinya yang ingin melemparnya. Ada bagian lain yang ingin berpegangan.
Ia menarik napas panjang. Lalu, entah dari mana, kata-kata itu keluar seperti doa yang terjatuh—tidak rapi, tetapi jujur:
rinduku terkatung-katung lautan waktu
seperti sebuah kapal dari gaharu,
tak kuasa rasanya ku menanti waktu…
bolehkah ku damba saja kasih-Mu,
walau sungguh ku tak pantas untuk-Mu?
Ben diam. Membiarkan doa itu bekerja—bukan sebagai penutup manis, tetapi sebagai pintu kecil yang terbuka.
Di luar jendela, siang berjalan biasa. Tetapi di dalam diri Joane, sesuatu mulai berubah: bukan sembuh seketika, bukan lupa tiba-tiba—hanya satu hal yang sangat penting untuk pertama kali terjadi.
Ia berhenti berlari.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai belajar hadir—di tempat yang selama ini ia hindari: di dalam dirinya sendiri. (*)
Catatan: Hipnoterapi adalah metode terapi psikologis yang menggunakan kondisi relaksasi mendalam dan konsentrasi terfokus untuk membantu mengolah emosi, sensasi, atau pola pikir yang mengganggu, melalui sugesti yang aman dan terarah dari terapis terlatih.
Penulis: Romanus Budi Wibowo, warga paroki St. Theresia, Jombor, Klaten
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.