Childfree: Di Antara Kebebasan dan Panggilan

Oleh Gebrile Mikael Mareska Udu

Katolikana.com—Di lini masa, istilah childfree sering hadir sebagai “pernyataan identitas”: kami memilih berdua saja. Bagi sebagian orang, itu terdengar masuk akal—hidup makin mahal, dunia makin gaduh, dan masa depan terasa rapuh.

Namun bagi Gereja Katolik, pertanyaan besarnya bukan sekadar “boleh atau tidak”, melainkan: apa yang sedang terjadi pada cara kita memaknai perkawinan, kasih, dan buahnya?

Sebelum buru-buru menghakimi, kita perlu jujur pada data. Salah satu rujukan yang sering dikutip adalah laporan BPS yang mencatat sekitar 8,2% perempuan kawin usia 15–49 tahun tidak memiliki anak (sekitar 71 ribu orang dalam temuan tersebut).

Tetapi kategori “tidak punya anak” di data tidak otomatis sama dengan childfree sebagai pilihan sadar—di sana bisa ikut “menunda”, “belum dikaruniai”, persoalan kesehatan, dinamika relasi, dan faktor lain. Jadi, data ini penting sebagai indikator gejala, namun tidak cukup untuk memvonis motif.

Di titik inilah refleksi iman dibutuhkan: membaca fenomena tanpa panik moral, tetapi juga tanpa menormalisasi sesuatu yang bertabrakan dengan inti ajaran Gereja tentang perkawinan.

Childfree: Gejala, Bukan Sekadar Tren

Childfree adalah keputusan sadar untuk tidak memiliki anak—bukan karena infertilitas atau kondisi medis, melainkan pilihan yang dipertimbangkan. Motifnya beragam, dan kita perlu mengakuinya dengan kepala dingin.

Ada pasangan yang mengutamakan kebebasan personal: waktu, mobilitas, karier, dan ruang privat. Ada yang dihantui kecemasan ekonomi: biaya hidup, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan yang tidak pasti.

Ada pula yang membawa luka: tumbuh dalam keluarga yang keras, trauma, atau ketakutan mengulang pola buruk. Ada yang bergumul dengan kesehatan mental dan merasa tidak siap menanggung beban pengasuhan.

Dan ada juga yang menjadikan childfree sebagai semacam ideologi: “anak adalah beban”, “dunia terlalu rusak”, “lebih baik tidak melahirkan”.

Gereja tidak bisa menyamaratakan semua motif itu. Tetapi Gereja juga tidak bisa mengabaikan satu benang merah: ketika anak diposisikan terutama sebagai gangguan bagi proyek hidup, bukan sebagai anugerah yang lahir dari kasih yang memberi diri, maka ada perubahan nilai yang serius.

Perkawinan Katolik: Kasih yang Bersifat “Berbuah”

Dalam terang ajaran Gereja, perkawinan bukan hanya kontrak sosial, melainkan panggilan untuk saling menyerahkan diri dalam kasih—kasih yang secara hakiki terbuka pada kehidupan. Paus Paulus VI menegaskan bahwa kasih suami-istri itu “fecund/berbuah” dan anak adalah “anugerah terbesar perkawinan” (supreme gift of marriage).

Humanae Vitae juga menggarisbawahi prinsip kunci: ada keterikatan yang tak boleh diputus antara dimensi persatuan (unitive) dan dimensi prokreasi (procreative) dalam tindakan perkawinan. Manusia tidak berhak “mematahkan” ikatan itu menurut kehendaknya sendiri.

Familiaris Consortio menguatkan hal yang sama: menurut rencana Allah, perkawinan dan kasih suami-istri “diarahkan” pada prokreasi dan pendidikan anak; di sanalah kasih menemukan “mahkotanya” (crowning).

Namun ajaran ini sering disalahpahami seolah Gereja hanya berkata “wajib punya anak”. Padahal Gereja juga realistis: Familiaris Consortio menegaskan bahwa ketika prokreasi tidak mungkin, hidup perkawinan tidak kehilangan nilainya; pasangan dapat berbuah lewat bentuk pelayanan lain, termasuk adopsi, karya pendidikan, dan perhatian pada anak-anak yang rentan.

Artinya, fokus Gereja bukan pada “angka kelahiran”, melainkan pada hakikat kasih perkawinan sebagai pemberian diri yang terbuka pada buah—baik buah biologis maupun buah kasih yang nyata dalam pelayanan kehidupan.

Batas Moral yang Sering Diabaikan

Di sinilah kita perlu tegas: childfree sebagai keputusan permanen yang sejak awal menutup pintu pada keturunan bukan sekadar “opsi gaya hidup” dalam iman Katolik. Ada alasan teologis dan juga konsekuensi kanonik yang jarang dibicarakan.

Dalam Kitab Hukum Kanonik, jika salah satu pihak “secara positif menyingkirkan” unsur hakiki perkawinan (misalnya keterbukaan pada keturunan) pada saat memberi kesepakatan nikah, kesepakatan itu dapat menjadi tidak sah.

Ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan: dalam perkawinan sakramental, “aku mau menikah” tidak bisa dipisahkan dari “aku mau menghidupi makna perkawinan menurut iman Gereja”—termasuk keterbukaan pada kehidupan.

Tetapi di saat yang sama, Humanae Vitae juga berbicara tentang “tanggung jawab orang tua” (responsible parenthood): pasangan dapat, karena alasan serius dan dengan tetap menghormati norma moral, memutuskan untuk tidak menambah anak untuk sementara atau periode yang tidak ditentukan.

Jadi Gereja tidak naif. Yang ditolak bukan discernment yang bertanggung jawab, melainkan penutupan diri yang prinsipil dan permanen terhadap kehidupan.

Yang Sesungguhnya Dipertaruhkan: Cara Kita Mengerti “Bahagia”

Banyak argumen childfree lahir dari satu asumsi modern: bahagia itu identik dengan kontrol—mengendalikan masa depan, mengamankan kenyamanan, meminimalkan risiko. Anak lalu tampil sebagai variabel “tak terkendali”.

Masalahnya, kasih Kristiani tidak dibangun di atas kontrol, tetapi di atas pemberian diri. Di sini kita perlu jujur: sebagian wacana childfree memang berangkat dari kepedulian (misalnya takut gagal mengasuh, takut miskin, takut melukai anak).

Tetapi sebagian lainnya berangkat dari ketidakmauan berkorban—dan itu bertabrakan langsung dengan spiritualitas perkawinan sebagai jalan salib yang berbuah.

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa cinta perkawinan adalah cinta yang berbuah. Dan ia juga memperluas cara pandang tentang “buah”: buah itu tidak semata biologis, melainkan juga moral, spiritual, dan sosial—tanpa menghapus panggilan dasar keterbukaan pada kehidupan.

Di titik ini, Gereja dipanggil untuk berkata dua hal sekaligus: pertama, “anak bukan beban, melainkan anugerah”; kedua, “kamu tidak berjalan sendirian—Gereja harus menjadi komunitas yang menopang keluarga agar keterbukaan pada kehidupan tidak terasa seperti hukuman.”

Jalan Pastoral: Kebenaran yang Mengiringi, Bukan Menghukum

Jika fenomena childfree hanya dijawab dengan slogan moral, Gereja akan kehilangan generasi. Tetapi jika Gereja membiarkannya tanpa arah, Gereja mengkhianati ajarannya sendiri. Jalannya adalah pastoral yang jernih sekaligus berbelas kasih.

Paus Fransiskus mendorong persiapan perkawinan sebagai semacam katekumenat: proses yang sungguh membentuk, bukan sekadar “kursus cepat menjelang pemberkatan”.
Ia juga menegaskan bahwa pendampingan pasangan adalah tanggung jawab komunitas, bukan hanya pastor atau segelintir panitia.

Dan dalam situasi-situasi kompleks, Gereja diminta untuk menghidupi pendampingan dan discernment pastoral yang serius, bukan pendekatan “satu resep untuk semua”.

Maka, menjawab childfree secara pastoral berarti melakukan hal-hal konkret:

Pertama, membuka ruang dialog yang aman tentang motif. Ada pasangan yang perlu disembuhkan dari trauma, ada yang perlu dibantu menata ekonomi, ada yang perlu ditantang karena egoisme yang dibungkus jargon kebebasan.

Kedua, memperbaiki ekologi dukungan bagi keluarga muda. Banyak pasangan takut punya anak bukan karena menolak kehidupan, tetapi karena merasa sendirian menghadapi biaya dan beban. Komunitas basis, paroki, dan gerakan keluarga harus menjadi “jaring pengaman” nyata.

Ketiga, mengajarkan keterbukaan pada kehidupan sebagai spiritualitas, bukan sekadar larangan. Keterbukaan pada hidup adalah latihan iman: percaya bahwa Allah bekerja juga melalui ketidakpastian, dan kasih berkembang justru ketika kita berani memberi ruang bagi “yang lain” hadir dalam rumah kita.

Keempat, membantu pasangan memahami bahwa “berbuah” bukan slogan. Berbuah itu ritme: belajar mengasihi, mendidik, mengampuni, mengelola konflik, dan membangun rumah sebagai Gereja kecil—domestic Church.

Membaca Zaman, Menjaga Arah

Fenomena childfree memaksa kita bercermin: apakah perkawinan masih kita pahami sebagai panggilan untuk memberi diri dan melayani kehidupan, atau sudah bergeser menjadi proyek kebahagiaan privat yang steril dari tanggung jawab sosial?

Gereja tidak dipanggil untuk menjadi polisi moral, tetapi juga tidak dipanggil untuk menjadi penonton. Dalam terang Humanae Vitae dan Familiaris Consortio, keterbukaan pada kehidupan tetap bagian hakiki dari kasih perkawinan.

Namun dalam terang Amoris Laetitia, cara Gereja menyampaikan kebenaran itu harus berbentuk pendampingan yang sabar, discernment yang matang, dan komunitas yang sungguh menopang.

Jika kita ingin serius menjawab childfree, kita tidak cukup berkata “harus punya anak”. Kita harus membangun ekosistem iman yang membuat orang berani berharap—bahwa kasih yang terbuka pada kehidupan bukan jalan yang memiskinkan, melainkan jalan yang memanusiakan.

Penulis: Gebrile Mikael Mareska Udu (Mahasiswa Universitas Sanata Dharma)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

ChildfreeFamiliaris consortioHumanae vitae
Comments (0)
Add Comment