Sekami Labuan Bajo Rayakan Hari Orang Sakit Sedunia, Ajak Anak-Anak Hidupi Belarasa Orang Samaria

Labuan Bajo, Katolikana.com—Kita semua diundang untuk menjadi rasul pembawa damai, sukacita, dan pemelihara harapan hidup, teristimewa bagi yang sakit dan terabaikan.

Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo RD Richardus Manggu menyampaikan hal ini dalam perayaan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) ke-34 yang digelar Sekami Keuskupan Labuan Bajo bersama para Bruder Missionary of the Poor (MOP), Rabu (11/2/2026), di Panti Asuhan Biara MOP, Labuan Bajo.

Perayaan HOSS yang mengangkat tema “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain” itu diisi dengan Perayaan Ekaristi, animasi misioner, serta aksi sosial karitatif sebagai wujud pendidikan belarasa bagi anak dan remaja.

Perayaan Ekaristi: Harapan bagi yang Sakit dan Terabaikan

Perayaan Ekaristi dipimpin RD Richardus Manggu dan didampingi RD Risno Maden, Direktur Diosesan Komisi Karya Misioner Indonesia (Dirdios KMKI) Keuskupan Labuan Bajo. Misa berlangsung khidmat dengan melibatkan sekitar 100 anak dan remaja Sekami serta 19 anak Panti Asuhan MOP.

Dalam pengantar, RD Richardus menekankan bahwa HOSS 2026 perlu dimaknai sebagai panggilan Gereja untuk memelihara harapan bersama—khususnya bagi mereka yang sedang sakit, menderita, dan terpinggirkan.

Ia menegaskan, belarasa tidak boleh berhenti pada rasa iba, melainkan harus menjelma menjadi tindakan yang menguatkan dan menghadirkan pengharapan.

Perayaan Ekaristi dipimpin RD Richardus Manggu dan didampingi RD Risno Maden, Direktur Diosesan Komisi Karya Misioner Indonesia (Dirdios KMKI) Keuskupan Labuan Bajo.

Teladan Orang Samaria dan Spirit 2D2K

Dalam homilinya, RD Risno mengajak peserta meneladani Orang Samaria yang baik hati sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Menurutnya, semangat misioner tidak dapat dipisahkan dari latihan belarasa yang konkret.

Ia menyampaikan bahwa praktik misioner anak dan remaja dapat dihidupi melalui 2D2K: doa, derma, kurban, dan kesaksian.

“Hati Tuhan itu penuh belas kasih. Orang Samaria telah menunjukkan kepada kita semua hati Allah yang semestinya menjadi hati kita juga—hati yang merawat kehidupan doa, derma, kurban, dan kesaksian hidup sebagai paket utuh seorang misionaris sejati,” ujar RD Risno.

Keterlibatan Anak-Anak dalam Liturgi

Perayaan Ekaristi juga ditopang pelayanan liturgi anak dan remaja. Koor dibawakan Sekami Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, sementara petugas liturgi berasal dari Sekami Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi.

Keterlibatan ini menegaskan bahwa anak dan remaja bukan sekadar peserta, melainkan turut mengambil bagian aktif dalam perayaan iman Gereja.

Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan kasih kepada pimpinan Biara MOP. Bantuan yang diberikan berupa bahan kebutuhan pokok, perlengkapan mandi, serta pakaian.

Panitia menyebut aksi sosial tersebut sebagai wujud solidaritas khas SEKAMI dalam gerakan “Children Helping Children”—anak menolong anak—sekaligus bentuk latihan belarasa yang menyentuh kebutuhan nyata saudara-saudari yang kecil dan rentan.

Seluruh rangkaian peringatan HOSS ke-34 ditutup dengan animasi misioner dan foto bersama. Melalui kegiatan ini, Sekami Keuskupan Labuan Bajo berharap semangat belarasa semakin bertumbuh di kalangan anak dan remaja, sehingga mereka belajar sejak dini untuk peka, peduli, dan hadir bagi mereka yang sakit serta terpinggirkan—sebagaimana teladan Orang Samaria yang baik hati. (*)

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

HOSSSekami
Comments (0)
Add Comment