Antara Yesus dan Salomo
Katolikana.com – Dua bacaan liturgi pada hari ini menyampaikan tentang kontras dua tokoh, Yesus dan Salomo. Mereka mengungkap dua respons yang bertolak belakang terhadap keberadaan bangsa asing.
Beda Yesus dan Salomo
Salomo, meskipun menerima hikmat dari Allah, membiarkan hatinya terpengaruh oleh dewa-dewa asing melalui pernikahan politik. Bacaan 1 Raja-Raja 11:4-13 mencatat bahwa para istri asing itu “mencondongkan hati Salomo kepada allah-allah lain.”
Di usia tuanya, raja yang pernah membangun Bait Suci justru mendirikan bukit pengorbanan untuk Kamos dan Molokh. Tindakannya bukan sekadar mentoleransi budaya, melainkan menajiskan perjanjian dengan Allah.
Akibatnya, kerajaan yang bersatu dikoyak dan dijatuhi hukuman. Salomo tidak perlu keluar untuk menyembah dewa asing—ia justru mendatangkan dewa-dewa itu ke Yerusalem.
Arah iman
Sebaliknya, Yesus menurut Markus 7:24-30 justru pergi ke wilayah Tirus, daerah kafir yang identik dengan penyembahan Baal sejak zaman Izebel.
Di sana, Ia tidak mencari dewa asing, melainkan menyatakan kehadiran Kerajaan Allah.
Perempuan Siro-Fenisia yang datang kepada-Nya bukan bagian dari umat perjanjian, namun imannya dipuji Yesus sebagai besar. Ia menyembuhkan anaknya tanpa menyentuh, tanpa ritual rumit.
Di sini, perbatasan geografis dan etnis justru menjadi tempat kasih Allah dinyatakan.
Ada perbedaan mendasar yang terletak pada arah iman. Salomo membiarkan dirinya dibentuk oleh lingkungannya; ia kehilangan identitas iman demi kepentingan politis.
Yesus tidak pernah mengkompromikan kebenaran. Di tengah wilayah asing, Ia justru menunjukkan bahwa Allah Israel bukanlah Allah yang eksklusif, melainkan universal kasih karunia-Nya.
Kontras ini mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak diukur dari seberapa jauh kita menjaga jarak dari orang asing, melainkan dari kesetiaan kepada Allah di tengah perjumpaan dengan dunia.
Salomo takluk pada tekanan asing; Yesus mengubah perjumpaan menjadi berkat.
Tidak menyembah allah lain
Bagi umat beriman, tantangannya bukan menghindari interaksi, tetapi menjaga hati agar tidak menyembah allah lain—baik berupa kuasa, popularitas, maupun kenyamanan.
Wilayah asing bukan ancaman jika hati tetap berpaut pada Allah. Sebaliknya, berada di Bait Suci pun tidak menjamin orang akan tetap setia, jika hati sudah berpaling.
Apakah selama ini kita tetap setia kepada Allah atau diam-diam berbakti kepada allah-allah lain?
Kamis, 12 Februari 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.