Manusia Mengoyak, Allah Menyatukan

Katolikana.com -Angka sepuluh muncul dua kali dalam bacaan liturgi hari ini. Keduanya memiliki makna yang kontras.

Pertama, dalam 1 Raja-Raja 11:31, Nabi Ahia mengoyak jubah baru menjadi dua belas keping, lalu menyuruh Yerobeam mengambil sepuluh keping.

Tindakan itu melambangkan terkoyaknya kerajaan Israel: sepuluh suku diberikan kepada Yerobeam, sementara satu suku tersisa bagi Daud.

Peristiwa ini adalah hukuman atas dosa Salomo yang menyembah allah lain karena pengaruh istri-istri asingnya.

Kerajaan yang pernah bersatu di bawah Daud dan Salomo terkoyak karena sikap tidak setia kepada perjanjian Tuhan.

Kedua, dalam Markus 7:31, Yesus pergi ke Dekapolis—konfederasi sepuluh kota yang mayoritas penduduknya bukan Yahudi. Di sana Ia menyembuhkan seorang tuli dan gagap.

Melampaui batas-batas
Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan pernyataan bahwa Kerajaan Allah melampaui batas-batas etnis dan geografis.

Yesus datang ke wilayah yang secara historis adalah tanah asing, tempat yang dulu menjadi pusat kebudayaan Yunani-Romawi dan bekas wilayah suku-suku Kanaan. Yesus tidak mengoyak, tetapi merangkul (menyatukan).

Kontras antara kedua peristiwa ini sangat tajam. Salomo mengoyak kerajaannya karena kompromi dengan allah asing. Ia memecah dan meruntuhkan.

Tetapi Yesus mendatangi orang-orang asing untuk menyatakan keselamatan. Salomo kehilangan sepuluh suku. Yesus menggunakan “sepuluh” sebagai lambang anugerah.

Di Dekapolis, suku-suku yang dahulu tidak termasuk dalam perjanjian Sinai kini dipanggil masuk ke dalam komunitas keselamatan.

Dosa kompromi
Apa relevansi bacaan-bacaan hari ini bagi kita? Pertama, peringatan dari Salomo tentang dosa kompromi, terutama dalam hal menyembah berhala modern seperti kuasa, uang, atau relasi yang menjauhkan manusia dari Tuhan.

Itu mengoyak kehidupan, keluarga, dan persekutuan jemaat.

Kedua, teladan Yesus yang memanggil orang untuk percaya. Ia tidak mengucilkan, tetapi menjangkau. Dekapolis mengingatkan bahwa Kerajaan Allah tidak eksklusif.

Mereka yang dianggap “luar” (asing) justru menjadi ladang misi yang diberkati.

Kesatuan sejati tidak dibangun dengan mempertahankan batas-batas lama (wilayah, suku, etnis, dan agama), melainkan dengan merangkul mereka yang jauh.

Pewaris janji

Orang Kristen adalah pewaris janji kepada Abraham bahwa oleh keturunannya semua bangsa akan diberkati. Jika Salomo gagal menjaga kesetiaan, Yesus memulihkan dan memperluasnya.

Allah tetap bekerja: bukan lagi mengoyak, tetapi menyatukan segala bangsa dalam Kristus.

Dalam hidup ini, apakah kita menjadi orang yang menyatukan?

Jumat, 13 Februari 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.

RenunganYesus di Dekapolis
Comments (0)
Add Comment