Katolikana.com -Dua minggu lalu, Tuhan Yesus menyampaikan Sabda Bahagia. Minggu lalu, Ia menyebut para murid-Nya garam dan terang dunia.
Hari ini, kita membaca dan merenungkan hukum Tuhan yang membantu kita untuk mewujudkan dua hal di atas.
Berlaku setia
Kitab Putera Sirakh mengajarkan bahwa asal manusia mau, ia dapat menepati hukum dan berlaku setia.
Tuhan telah menanamkan kehendak bebas agar manusia dapat memilih dan menghendaki agar manusia memilih kehidupan. Ia tidak menyuruh orang berbuat fasik dan tidak mengijinkan manusia untuk berdosa.
Mazmur 119 menegaskan bahwa mereka yang menuruti Taurat Tuhan hidup bahagia pada saat itu juga. Hukum Tuhan itu bukan beban, melainkan anugerah, petunjuk, dan jalan yang menuntun kepada kehidupan.
Hikmat Allah yang tersembunyi
Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Korintus mewartakan tentang hikmat Allah yang tersembunyi dan telah ada sejak dunia belum dijadikan serta Allah sediakan bagi kemuliaan kita.
Hikmat itu tampak nyata dalam Tuhan Yesus. Dialah hikmat Allah yang senantiasa bersama-sama dengan Allah.
Sang hikmat Allah itu telah datang untuk menggenapi hukum Taurat dan Kitab para nabi (Matius 5:17).
Lebih dari aturan tertulis
Bagaimana Dia menggenapinya? Dengan menegaskan bahwa hukum Tuhan itu lebih dari aturan-aturan yang tertulis dalam buku, melainkan dalam hati manusia.
Ajaran-Nya membawa kita masuk ke dalam sumber terdalam dan maksud asli dari hukum, yakni kasih kepada Allah dan sesama.
Karena itu, Dia menuntut para murid-Nya supaya hidup melampaui hidup keagamaan para ahli Taurat dan kaum Farisi yang lebih menaati hukum tertulis dan sering lupa menjaga hatinya. Mereka sering disebut munafik. Artinya, hanya memuliakan Tuhan dengan mulut, tetapi hatinya jauh dari Tuhan.
Menata hati
Tuhan Yesus berulangkali mengajak para murid-Nya untuk menata hati dan mewujudkan hukum Tuhan mulai dalam hati dan pikiran. Dia menyoroti hal-hal mendasar yang mesti diperhatikan.
Pertama, orang tidak hanya dilarang membunuh, tetapi juga tidak boleh membenci, mencaci maki, atau menghina saudaranya.
Kedua, Dia tidak hanya melarang orang berzina, melainkan tidak memperbolehkan orang memandang perempuan dan menginginkannya. Artinya, zina itu bisa mulai dalam hati dan pikiran.
Ketiga, Dia melarang orang bersumpah palsu dan menegaskan agar orang memegang sumpahnya kepada Tuhan.
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37). Inilah integritas yang tegas.
Apakah kita telah menaati hukum Tuhan mulai dari dalam hati atau hanya melaksanakannya sebagai aturan yang membebani?
Apakah kita sungguh memahami bahwa semua hukum Tuhan itu dimaksudkan agar kita menaatinya dan dengan demikian hidup selamat serta bahagia?
Minggu VI Tahun A, 15 Februari 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.