Katolikana.com- Hari ini Gereja merayakan Rabu Abu yang menandai mulainya Masa Prapaskah. Gereja secara khusus mengajak umat untuk menghayati puasa dan pertobatan.
Apa ciri khas pertobatan?
Masa Prapaskah sering dipandang sebagai masa pengorbanan, tetapi pada hakikatnya, ini adalah masa tobat dan penyembuhan.
Tiga sarana utama
Gereja menganugerahkan kepada kita tiga sarana utama yaitu doa, puasa, dan sedekah. Ini bukan sekadar kewajiban, melainkan sebagai resep utuh untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan sesama.
Ketiganya adalah sarana yang membantu kita bekerja sama dengan rahmat Allah untuk menjalani pertobatan yang mendalam dan otentik.
Sarana yang pertama adalah doa, yang mengarahkan kita kepada Allah.
Dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita kerap lupa akan siapa Allah dan siapa diri kita dalam hubungan dengan-Nya.
Doa adalah tindakan sadar untuk memasuki dan merasakan kehadiran-Nya. Bisa melalui Kitab Suci, keheningan, atau doa Rosario dan doa lainnya. Doa membuka saluran rahmat.
Dalam doa kita menghadirkan Allah, melembutkan hati kita yang keras dan menyingkapkan situasi di mana kita telah tersesat.
Memandang Allah
Pertobatan dimulai bukan dari usaha kita sendiri, melainkan dari memandang Allah dan membiarkan diri kita dipandang oleh-Nya.
Sarana yang kedua adalah puasa, yang mengarahkan kita pada hal yang sungguh penting. Ketika kita dengan sukarela berpantang dari sesuatu yang baik, seperti makanan atau hiburan, kita menyatakan bahwa kita bukanlah budak dari hawa nafsu kita.
Rasa lapar secara fisik yang kita alami mengingatkan kita akan kerinduan rohani kita yang lebih dalam akan Allah.
Hidup bukan dari roti saja
Puasa menyingkapkan kelemahan kita dan mengajarkan kita menguasai diri. Puasa menjadi sarana yang memutus rantai rasa puas diri. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar menjadi Sabda Allah.
Sarana yang ketiga adalah sedekah, yang mengarahkan kita kepada sesama. Pertobatan yang hanya melihat ke dalam diri saja tidaklah lengkap. Hidup Kristen sejati selalu terarah keluar.
Sedekah—berbagi waktu, harta, dan talenta kita dengan orang miskin dan yang membutuhkan —adalah bukti nyata dari kasih kita kepada Allah.
Mengenali yang tersisihkan
Ketika kita memberi kepada mereka yang berkekurangan, kita mengenali wajah Kristus dalam diri mereka yang tersisihkan.
Praktik ini mematahkan cengkeraman ketamakan dan memurnikan hati kita, mengubah kita dari ‘konsumen” menjadi pelayan.
Bersama-sama, ketiga sarana ini membentuk jalan yang sempurna untuk menjalani masa Prapaskah sebagai masa tobat dan penyembuhan.
Ketiganya tidak sekadar mengubah perilaku selama empat puluh hari; melainkan mengatur ulang seluruh hidup kita.
Memohon rahmat
Dengan mengarahkan diri kepada Allah dalam doa, mengarahkan diri ke dalam batin kita dalam puasa, dan mengarahkan diri kepada sesama dalam sedekah, kita mempersiapkan diri untuk mati bersama Kristus, agar kita sungguh dapat bangkit bersama-Nya.
Inilah inti dari Prapaskah, dan inti dari hidup Kristiani yang sejati.
Apakah kita telah mempersiapkan diri untuk menghayati masa tobat dan penyembuhan ini?
Marilah kita mohon rahmat Allah agar membantu kita memulihkan hidup kita dari pelbagai penyakit rohani yang menggerogoti.
Rabu Abu, 18 Februari 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.