Katolikana.com- Permenungan hari ketiga perjalanan rohani prapaskah. Masa Prapaskah seringkali dipahami sebagai waktu untuk berpuasa: menahan lapar dan haus.
Namun, tanpa memaknainya secara tepat, puasa bisa menjadi ritual kosong.
Bagaimana kita memaknai puasa secara tepat? Sabda Tuhan pada hari ini membimbing kita.
Esensi puasa
Kitab Nabi Yesaya 58:6-7 mengingatkan esensi puasa yang dikehendaki Allah: membuka belenggu penindasan, berbagi roti dengan orang lapar, dan tidak menyembunyikan diri dari saudara yang membutuhkan.
Puasa jenis ini berorientasi pada keadilan dan kasih, bukan menyiksa diri. Hal ini dapat ditemukan dalam diri Yesus.
Menanggapi kehendak
Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menggenapi kehendak Bapa secara sempurna. Sepanjang pelayanan-Nya, Ia membebaskan orang dari belenggu dosa, membagi-bagikan roti, serta merangkul mereka yang tersingkir.
Karena itu, selama para murid berjalan bersama Yesus (Sang Mempelai), mereka tidak perlu berpuasa (Matius 9:14-15).
Kehadiran Yesus adalah sukacita, karena Dia adalah wujud kasih dan keadilan.
Puasa sama sekali tidak relevan ketika Sang Hidup itu ada di tengah-tengah mereka.
Namun, setelah Yesus naik ke surga, situasi berubah. Murid-murid hidup dalam masa menantikan kedatangan-Nya kembali. Di sinilah puasa menemukan relevansinya yang baru.
Menyelaraskan diri dengan kehendak Allah
Puasa bukan sebagai kewajiban lahiriah, melainkan sebagai ekspresi rasa rindu akan kehadiran Kristus yang utuh.
Lebih dari itu, puasa menjadi sarana untuk menyelaraskan diri dengan hati Allah: memutuskan belenggu ketidakadilan di masyarakat, membuka tangan bagi yang lapar, dan tidak acuh terhadap penderitaan sesama.
Hal itu amat relevan bagi hidup Kristen di masa Prapaskah.
Mulai berbagi
Kita dipanggil untuk menghidupi puasa yang benar. Menahan diri dari makanan hendaknya menuntun kita pada kepekaan sosial. Puasa yang berkenan kepada Tuhan adalah ketika kita berhenti menindas, mulai berbagi, dan membuka diri terhadap saudara yang membutuhkan.
Dengan berpuasa secara benar, kita tidak hanya merindukan Kristus yang telah pergi, tetapi juga mempersiapkan hati untuk merayakan kebangkitan-Nya, di mana kasih dan keadilan ditegakkan.
Apakah kita telah menghayati puasa prapaskah secara benar?
Jumat setelah Rabu Abu, 20 Februari 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.