Paroki Santo Paulus Kleco Solo Refleksikan Korelasi Perayaan Imlek dalam Suasana Minggu Prapaskah I

Surakarta, Katolikana.com – Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta pada Minggu Prapaskah I (22/2/2026), pukul 08.00 WIB mendedikasikan rasa syukur Tahun Baru Imlek 2026. Warna liturgi yang biasanya berwarna ungu dalam liturgi menggunakan warna merah.

Perayaan Ekaristi Imlek 2026 di Paroki Santo Paulus Kleco dipimpin tiga orang romo yakni Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF; Romo Bernardinus Haryasmara, MSF dan Romo Hibertus Hartono, MSF.

Tidak kurang 1.200 orang umat memenuhi gedung gereja, ruang pertemuan gereja dan halaman gereja.

Ujub doa permohonan memasuki Tahun Baru Imlek 2026 dengan Shio Kuda Api memohon energi keberuntungan, kesehatan, kemakmuran dan kesejahteraan di keluarga, Gereja dan di masyarakat melalui refleksi dan rasa syukur.

Perayaan Ekaristi nuansa Imlek di Paroki Santo Paulus Kleco ditandai dengan dekorasi warna merah seperti lampion, stiker Fu, gantungan shio Kuda Api dan pohon Mei Hwa.

Umat yang hadir mengikuti Misa dan petugas liturgi seperti paduan suara, tim tata tertib mengenakan busana merah.

Selain itu nuansa perayaan Ekaristi Imlek didukung dengan lagu ordinarium dalam rangkaian nada bernuansa Mandarin yang dinyanyikan kelompok paduan suara mahasiswa ATMI Mikael Surakarta.

Ornamen Imlek mewarnai nuansa Perayaan Ekaristi Imlek 2026 di Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta

Homili Misa
Kepala Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta Romo Franciskus Anggras Prijatno. MSF mengajak umat merefleksikan momen perayaan Imlek dengan nuansa merah, busana merah, yang menjadi lambang harapan akan hadirnya keberuntungan. Harapan terutama dalam perjalanan tahun 2026 dengan shio Kuda Api.

Imlek merupakan sebuah momen pembaruan. Namun momen ini kontras dengan bacaan Injil Minggu Prapaskah I yang menghadapkan permenungan padang gurun.

Di satu sisi keberuntungan, kemakmuran, tempat yang sangat basah. Di sisi lain dihadapkan pada tempat yang sangat kering padang gurun.

Suasana Misa Imlek anak-anak calon komuni pertama meminta tanda tangan buku tugas pada katekis dan umat yang memenuhi gedung gereja saat Misa Imlek

Korelasi Imlek dengan Minggu Prapaskah I

Apa korelasi perayaan Imlek dalam suasana Minggu Prapaskah I ini?

Jawabannya adalah sebelum merayakan kelimpahan, keberuntungan, kesuksesan, Gereja mengingatkan bahwa pembaharuan sejati tidak datang dari sekedar hiasan luar, melainkan dari keteguhan hati ketika berhadapan dengan pencobaan.

Pencobaan atau dalam bahasa teologi, salib, akan membawa pada kebangkitan. Tidak ada kebangkitan tanpa salib. Melalui salib akan sampai pada kebangkitan.

Merenungkan bacaan Injil Yesus dicobai tiga kali. Ketiga pencobaan muncul dalam wajah manusiawi.

Pertama cobaan tentang soal ekonomi. Batu menjadi roti. Setan menggoda untuk mementingkan perut.
Momen Imlek doa yang diungkapkan memohon rejeki.

Yesus mengingatakan manusia hidup bukan dari Roti saja. Ini mengajak manusia memohon berkat rejeki, mendekatkan diri pada Tuhan dan tidak lupa untuk berbagi.

Kedua cobaan menjatuhkan diri yang menggambarkan ego, gengsi. Godaan untuk pamer, membandingkan kesuksesan atau memamerkan pencapaian. Yesus mengajak pengikutnya untuk tetap rendah hati. Imlek merupakan waktu untuk membangun persaudaraan.

Ketiga cobaan menyembah dunia. Demi hoki, menggapai kekayaan mengabaikan iman.
Yesus mengajak kita berani berkata :”Enyahlah iblis”.

Romo Anggras dalam homili memberikan peneguhan akan simbol-simbol yang terdapat pada perayaan Imlek.

Warna merah lambang cinta dan pengorbanan, lambang darah Kristus yang telah menyelamatkan.

Buah jeruk. Melambangkan emas atau berkat karena warnanya kuning keemasan.

Seperti Yesus di padang gurun kita diajak menyadari bahwa berkat adalah titipan untuk dikelola demi kemuliaan Allah. Dengan jeruk kita diingatkan ketika menggapai kesuksesan, kemuliaan bawalah itu kepada Tuhan. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri.

Angpao tanda berkat. Diberikan pada anak-anak dan yang belum menikah. Seperti Yesus yang melayani. Kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi mereka yang kurang beruntung di tahun baru Kuda Api.

Melalui refleksi dari bacaan Injil dan memaknai ornamen Imlek Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF mengajak umat untuk meneladan keteguhan Yesus. Tidak membiarkan suka cita perayaan Imlek menyebabkan lupa pada Sang Pemberi sula cita Tuhan sendiri.

“Semoga di tahun baru Shio Kuda Api keluarga dijauhkan dari godaan, memiliki iman yang teguh seperti Yesus di padang gurun. Semoga Gong Xi Fat Cai untuk kemakmuran juga bermakna secara rohani,” kata Romo Franciskus Anggras Prijatno mengakhiri homili.

Ketua Panitia Perayaan Ekaristi Imlek, Adiriyanto saat memberikan sambutan dan kelompok Paduan Suara ATMI St. Mikael Surakarta

Iman dan budaya berjalan selaras

Ketua Panitia Imlek 2026, Adiriyanto atas nama panitia menyampaikan terima kasih pada berbagai pihak dan ucapan syukur serta suka cita atas terlaksananya Perayaan Ekaristi Syukur Imlek Paroki Santo Paulus Kleco, yang dapat berjalan dengan baik atas dukungan dan keterlibatan banyak pihak.

“Perayaan Ekaristi berjalan dengan baik merupakan wujud nyata Gereja yang mengakomodasi budaya lokal dan budaya Thionghwa dalam memperindah kehidupan menggereja.

Perayaan Imlek wujud nyata iman dan budaya dapat berjalan dengan selaras.
Nilai-nilai luhur dalam budaya Thionghwa seperti hormat pada orang tua, kesetiaan dalam keluarga, kerja keras, keberanian dan semangat berbagi menunjukkan cinta pada Tuhan Yesus.

Dalam terang iman semua nilai-nilai ini dipersembahkan kepada Tuhan dengan ungkapan syukur dan harapan akan tahun yang baru di Tahun Baru Imlek 2026,” kata Adiriyanto

“Di Tahun Kuda Api kita punya harapan dalam segala perkara yang dihadapi, yang dilalui, adalah proses menuju hal yang lebih baik. Semoga semangat berkobar seperti Kuda Api senantiasa menyertai di tahun ini. Semoga perayaan Imlek ini mempererat dan memperteguh persaudaraan kita. Gong Xi Fa Cai, Tuhan memberkati kita, ” kata Adiriyanto mengakhiri sambutan.

Ikonik Imlek kue keranjang, angpao dan pertunjukan barongsai

Ikonik Imlek

Suasana suka cita tampak dari pancaran wajah para umat terutama anak-anak dalam perayaan Imlek. Umat mengabadikan momen Imlek dengan berfoto di depan altar dan tempat dekoratif yang terdapat pohon Imlek dan simbol Shio Kuda Api.

Usai perayaan Ekaristi dilanjutkan pembagian kue keranjang dan pembagian angpao, serta pertunjukan barongsai di halaman sebelah barat gereja.

Suasana Perayaan Imlek di Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta. Minggu (22/2/2026)

Edukasi budaya dan inklusivitas

Perayaan Imlek di Paroki Santo Paulus Kleco, menurut Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi, seorang psikolog dan umat di Kleco yang tergabung dalam Tim Family Care Center (FCC) Kevikepan Surakarta, menyampaikan bahwa Perayaan Ekaristi Imlek merupakan perayaan yang dipandang sakral.

Banyak umat paroki Kleco dan dari paroki lain yang ikut hadir, terutama warga Thiongwha merasa diteguhkan, bersuka cita dan berbela rasa dalam Perayaan Ekaristi Imlek bersama umat.

Di Paroki Santo Paulus Kleco kesatuan umat terjalin erat tidak membedakan perbedaan etnis dan budaya. Hal inilah yang menjadikan umat hadir dalam Perayaan Ekaristi Imlek memenuhi gereja, halaman gereja dan ruang-ruang yang disediakan.

Di sisi lain bagi anak-anak yang hadir ikut Misa dalam pendampingan orang tua, dapat mengenal kebhinekaan budaya dan memiliki pemahaman bahwa Gereja Katolik sangat menghormati kebhinekaan.

“Ketika anak-anak mengikuti Misa dan bertanya tentang sesuatu yang baru dalam Perayaan Imlek pada orang tua, orang tua dapat memberikan pemahaman tentang sesuatu yang baru misalnya tentang pernak-pernik Imlek.

Edukasi bagi anak-anak dapat diberikan jika orang tua dalam situasi yang baru seperti Imlek mau meng- update informasi sehingga orang tua bisa menjadi sumber pengetahuan bagi anak-anaknya.

Perayaan Imlek menjadi sebuah media yang bagus untuk memberi pemahaman pernak-pernik Imlek, kebhinekaan budaya dan terlebih memberikan pemahaman bahwa Gereja menghargai inklusivitas,” kata Yustinus Joko Dwi Nugroho.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Ikonik ImlekPerayaan Ekaristi Imlek
Comments (0)
Add Comment