Perayaan Syukur 100 Tahun Karya MSF di Indonesia
Semarang, Katolikana.com – Kasih tidak pernah berhenti melangkah. Dari sungai sungai di Kalimantan hingga di layar ponsel. MSF tetap hadir sebagai keluarga bagi semua keluarga dan kaum muda, melalui kreativitas dan kerendahan hati akan melayani.
Provinsial MSF Propinsi Jawa Romo Yohanes Risdiyanto, MSF dalam perayaan 100 Tahun Karya MSF di Indonesia mengungkapkan sesuai ketetapan dalam Kapitel Umum beberapa waktu lalu, Yubileum 100 tahun MSF, MSF mengajak berjalan bersama untuk membawa suka cita Injil, bersyukur dan menumbuhkan harapan, pada keluarga-keluarga dan orang muda untuk berjalan bersama.
“Keluarga adalah ladang yang tidak pernah habis, sangat luas dan sangat subur. Bagi keluarga, MSF hadir. Menyapa melayani ditengah keluarga yang didalamnya ada orang muda. Dan yang punya panggilan adalah keluarga, ” kata Romo Yohanes Risdiyanto, MSF yang ditayangkan di Podcast MisafaJava, Senin (23/2/2026) bersama Host RomoThomas Aquinas Koconegoro, MSF.
Tantangan awal karya misi
Tahun 1926 di Kalimantan dan Tahun 1932 di Semarang menjadi tonggak karya Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF – Missionariorum a Sacra Familia). Tanggal 27 Februari 2026 tepat 100 Tahun karya MSF di Indonesia.
Para misionaris dari Belanda menghadapi berbagai tantangan ketika pergi menjalani perutusan di Kalimantan. Kendati demikian mereka mau dan rela pergi ke Kalimantan didorong semangat misi. Mereka menghadapi tantangan diantaranya transportasi dan navigasi.
Pada abad 18 navigasi terbatas. Mereka akan bertemu dengan siapa, seberapa jauh jarak yang akan ditempuh? Mereka belum memiliki gambaran yang pasti.
Berkat modal iman yang menguatkan para misionaris, perutusan itu dijalani sebagai seorang MSF, sebagai orang yang diutus mereka berani mengarungi laut, berani meloncat dan berani menyeberang mengatasi ketidak pastian.
Keteguhan iman
Atas dasar keteguhan iman dan semangat misionaris yang diwariskan Pater Berthier mereka berangkat ke Nusantara, ke Kalimantan maupun ke Jawa.
Meneladan Pater Berthier mereka mengendapkan, menggali semangat yang diteladankan pendiri MSF yang memiliki jiwa misionaris yang besar rela hijrah dari Perancis ke Belanda.
Peneguhan yang disampaikan Pater Berthier yang ditulis dalam majalah “Utusan’ edisi pertama: “Pergilah utusanku untuk menjangkau lembah-lembah, gunung-gunung, keluarga-keluarga di kastil-kastil maupun di pondok-pondok”.
Energi perutusan ini membawa energi positif bagi misionaris pertama yang berangkat ke Laham Kalimantan.
Turning point
Ini adalah turning point pertama yang tidak dilupakan. Energi besar untuk mengarungi perutusan sesuai semangat pendiri Pater Jean Berthier. Tiga orang misionaris pergi ke Kalimantan dengan Kapal Hondo yaitu P. Frederich Groot, MSF; Br. Egidius Stoffels, MSF dan P. j. van der Linden, MSF.
Turning point atau titik balik merupakan momen krusial atau peristiwa penting yang mengubah arah hidup para misionaris untuk menjalani perutusan.
Turning point karya misi MSF kedua setelah sampai Laham mereka beradaptasi. Ketika mendarat pertama dan kurang cocok situasinya mereka menuju ke Tering. Turning point ini mereka memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri dengan sikap tangguh beradaptasi.
Sejarah mencatat berdasarkan sejarah awal misi Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) di Indonesia, setelah mengalami kendala atau dirasa “kurang cocok” (misi yang berat/tantangan geografis) di wilayah Kalimantan (khususnya Laham Kalimantan Timur) para misionaris MSF kemudian melakukan perjalanan dari Laham (Mahakam Ulu) ke Tering (Kutai Barat). Semangat misi ini dibawa terus menerus oleh MSF.
Mensyukuri berkat
“Mensyukuri 100 tahun karya MSF di Nusantara, Keluarga MSF dengan semangat Keluarga Kudus menumbuhkan dalam diri para misionaris bahwa DNA spiritualitas Keluarga Kudus tumbuh berkat Kristus Sang Misionaris Bapa.
Disinilah iklim dan pertumbuhan dimaknai. Semua orang memerlukan keluarga, untuk pertumbuhan Tuhan sendiri memilih keluarga: “Keluarga Kudus Nazaret”.
Keluarga ini keluarga terhormat, terberkati dan menjadi model pertumbuhan iman. Yesus lahir, tumbuh, dibesarkan dan bersiap untuk berkarya dalam keluarga”, ungkap Romo Yohanes Risdiyanto, MSF
Dalam keluarga ada kehangatan, relasi yang penuh sikap hormat, saling menghormati dan cinta. Selain itu dalam keluarga ada perjumpaan.
Dengan Keluarga Kudus diingatkan, disemangati, diafirmasi bahwa kita membutuhkan perjumpaan diera digital dan konteks zaman ini.
“Inspirasi Keluarga Kudus menumbuhkan persaudaraan, kehangatan tetapi juga kejernihan relasi yang sehat, dalam tempat terhormat Keluarga Kudus Nazaret.”
Menghayati semangat Keluarga Kudus, bagi para romo, bruder dan frater MSF dalam konteks zaman ini, kehadirannya di komunitas, paroki, sekolah, universitas bahkan dalam perjumpaan di alun-alun menentukan identitas MSF.
Keteladanan para romo, bruder dan frater MSF keteladanan dan kesiap sediaan untuk melayani dengan kerendahan hati.
Teladan Keluarga Kudus
Meneladan Keluarga Kudus meneladan Bapa Yusuf pribadi yang sangat kuat untuk mendengarkan kehendak Tuhan.
Bapa Yusuf pergi ke Mesir dan pulang kembali dari Mesir karena pertama tama mendengarkan.
Bunda Maria juga kuat mendengarkan Tuhan. Hal ini terungkap dengan ucapan Bunda Maria: “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”.
Bunda Maria dapat mengungkapkan hal tersebut karena memiliki kesediaan sikap mendengarkan seperti Bapa Yusuf. Keluarga Kudus merupakan model keluarga yang menyeluruh. Holistik.
Meneladan Keluarga Kudus berarti mendengarkan Sang Sabda yang hidup di tengah keluarga.
Fokus pelayanan
Generasi Z “nyambung” dengan misi MSF. Ini menjadi fokus MSF untuk berani berjalan bersama dengan keluarga dan orang muda.
Mendengarkan dan memiliki hati yang apostolik merupakan sarana bagi Keluarga MSF dalam menghadapi tantangan zaman.
Semangat apostolik
Semangat apostolik mengingatkan teladan para rasul dan juga para misionaris yang menjadi martir. Pada zaman Jepang di Kalimantan banyak misionaris MSF wafat. Hal ini memberi peneguhan para misionaris untuk menyapa keluarga dan orang muda dengan semakin total dalam menemani dan berlandaskan semangat sinodal.
Jejak langkah 100 tahun karya MSF di Indonesia, warisan MSF yang ingin ditanamkan adalah turne atau mengunjungi dengan membagikan semangat suka cita Injil.
Melalui upaya menentang arus Sungai Mahakam dan tempat lain, menyapa umat di pinggiran, pedalaman, dan keluarga- keluarga menjadi peninggalan dan habitus yang senantiasa perlu dilanjutkan sejalan dengan teladan Yesus.
Di sisi lain, MSF menaruh perhatian berjalan bersama dan bekerja sama dengan para religius dari berbagai konggregasi, para biarawan biarawati sebagai bentuk kerasulan bersama.
Mengirim misionaris
Momentum 100 Tahun MSF di Indonesia menghadirkan ungkapan syukur dan bangga bahwa MSF Indonesia bisa mengirim misionaris ke gereja di manca negara, berkarya di dunia yang membutuhkan yaitu di di Filipina, Jerman, Perancis, Italia, USA, Chile dan Argentina.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta