Tantangan Menghayati Doa Bapa Kami

Katolikana.com – Tuhan Yesus mewariskan doa yang amat indah, mendalam, dan benar kepada para murid dan semua yang percaya kepada-Nya. Doa Bapa Kami.

Itulah yang kita baca dalam Injil Matius 6:7-15.

Doa itu terwujud dalam diri Yesus yang telah mengajarkannya, karena firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan kehendak-Nya dan berhasil dalam yang Allah perintahkan kepada-Nya (Yesaya 55:11).

Lalu, bagaimana dengan para murid dan pengikut-Nya? Apakah kita berhasil mendoakan Doa Bapa Kami?

Mewujudkan doa
Di sinilah tantangan dan persoalannya. Rupanya semakin sering mendoakannya, kita belum tentu semakin berhasil mewujudkannya. Banyak yang gagal merealisasikannya.

Salah satu dan mungkin yang paling utama adalah dalam hal mengampuni. Berapa dari kita memohon diampuni tanpa sadar mengatakan syaratnya, yakni “seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”.

Ketika syarat yang kita ucapkan itu Tuhan pegang, berapa dari kita yang sungguh akan diampuni oleh Tuhan?

Bukankah sebagian dari kita sulit sekali mengampuni yang bersalah kepada kita? Kalau kita tidak memperoleh ampun dari Tuhan karena tidak mengampuni sesama, itu bukan kegagalan Tuhan, melainkan kegagalan kita, pendoa Bapa Kami itu.

Jika tidak bisa mengampuni
Kegagalan itu membawa konsekuensi yang amat besar. Di kalangan kita yang berteman, tidak bersedia mengampuni itu bisa mengakhiri pertemanan.

Dalam keluarga, sikap itu bisa memisahkan anggota keluarga selama bertahun-tahun tanpa rekonsiliasi. Ada pula yang berakhir dalam perceraian.

Dalam kancah politik global, tidak mau mengampuni itu berujung pada perang yang menghancurkan negara-negara yang terlibat dalam perang. Korbannya adalah mereka yang tidak terlibat dalam perseteruan itu.

Jadi, bagaimana sebaiknya? Apakah kita berhenti saja berdoa Bapa Kami daripada menjadi orang munafik: berkata mau mengampuni tetapi faktanya tidak mau mengampuni?

Mengakui kelemahan
Itu bukan solusi. Selama kita mengandalkan diri sendiri, mengampuni sesama itu sering terasa sulit sekali. Namun itu bukan alasan berhenti mendoakan Bapa Kami.

Sebaliknya, itu motivasi untuk mengakui kelemahan diri dan mengandalkan Tuhan yang mampu menghadapi tantangan dalam menghayati Doa Bapa Kami.

Apakah setuju atau tidak setuju?

Selasa, 24 Februari 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.

Doa Bapa KamiRenungan
Comments (0)
Add Comment