Gedung KSP Suka Damai Diresmikan, Uskup Maksimus: Koperasi itu Rumah Besar Ekonomi, Solidaritas, dan Harapan

Manggarai Barat, Katolikana.com – Peresmian gedung baru KSP Kopdit Suka Damai berlangsung khidmat dan penuh sukacita dengan diawali Misa Syukur yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus pada Senin (2/3/2026).

Misa yang digelar di Aula gedung baru KSP Kopdit Suka Damai tersebut dihadiri oleh para pengurus, pengawas, anggota koperasi, tokoh umat, serta masyarakat setempat.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, Ketua DPRD Manggarai Barat, Benediktus Nurdin Kepala Bagian Prokopim Yosef Edwar Nairum Nahas, Kepala Kesbangpol Frans Partono, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gabriel Bagung, serta Kepala Dinas Transmigrasi, Koperasi dan UKM Ney Asmon, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan anggota koperasi.

Dalam homilinya, uskup menekankan pentingnya semangat solidaritas, kejujuran, dan pelayanan dalam pengelolaan lembaga keuangan berbasis komunitas.

“Keberadaan koperasi bukan hanya soal simpan pinjam, tetapi tentang membangun harapan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kesejahteraan bersama,” ungkapnya.

Kantor Pusat KSP Suka Damai pada tahun 2026 ini akan memasuki usianya yang ke-27. Menurut Mgr. Maksimus, usia KSP Suka Damai itu menandakan suatu perjalanan, seperti yang disampaikan pada pesan dalam kitab suci yang dibacakan pada saat misa, yang berbicara tentang rumah yang dibangun dengan hikmat dan ditegakkan dengan pengertian dan dengan hikmat rumah didirikan (Ams. 24:3). Dan Yesus menegaskan, “Orang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat. 7:24).

Menurutnya gambaran rumah itu sangat kuat. Rumah bukan hanya struktur fisik, tetapi simbol kehidupan bersama. Maka Kantor Pusat KSP Kopdit Suka Damai ini dapat kita lihat sebagai rumah besar rumah ekonomi, rumah solidaritas, dan rumah harapan. Dalam terang Sabda Tuhan, katanya, kita dapat menghubungkan tiga dimensi utama—syukur, pelayanan kasih, dan damai sejahtera dengan tiga jalan berikut ini.

Peresmian Gedung KSP Suka Damai di Manggarai Barat pada Senin (2/3/2026)/Foto: Vinsensius Patno

Pertama, Jalan Ekonomi: Fondasi Syukur dan Hikmat

Ekonomi yang sehat selalu berdiri di atas hikmat. Amsal tidak mengatakan rumah dibangun dengan kekayaan, tetapi dengan hikmat. Artinya, kesejahteraan sejati tidak lahir dari akumulasi semata, melainkan dari pengelolaan yang bijaksana.

Jalan ekonomi koperasi ini harus dimulai dari rasa syukur. Syukur menumbuhkan tanggung jawab. Syukur mencegah keserakahan. Syukur membuat keberhasilan menjadi berkat bersama, bukan milik segelintir orang.

Agustinus dari Hippo mengingatkan bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah yang dipercayakan. Maka ekonomi koperasi bukan sekadar sistem keuangan, tetapi perwujudan kepercayaan bersama.

Jika fondasinya syukur dan hikmat, maka badai ekonomi tidak akan mudah meruntuhkan bangunan ini. Sebab yang menopang bukan hanya modal, tetapi moral.

Kedua, Jalan Kemanusiaan: Struktur Pelayanan Kasih

Yesus berkata, bukan yang mendengar saja, tetapi yang melakukan Sabda-Nya yang bijaksana. Di sinilah jalan kemanusiaan menjadi nyata: kasih yang diwujudkan dalam tindakan.

Koperasi pada hakikatnya adalah gerakan solidaritas. Ia hadir untuk memperkuat yang kecil, mendampingi yang lemah, dan membuka peluang bagi yang ingin bertumbuh. “Kamar-kamarnya diisi dengan harta yang berharga” (Ams. 24:4). Harta itu adalah nilai: kejujuran, integritas, dan empati.

Yohanes Krisostomus pernah menegaskan bahwa kekayaan yang tidak dibagikan akan kehilangan maknanya. Maka pelayanan kasih harus menjadi struktur tak terlihat yang menyatukan seluruh dinamika koperasi ini.

Jalan kemanusiaan berarti menempatkan manusia di atas angka. Sistem boleh modern, administrasi boleh canggih, tetapi yang utama adalah wajah-wajah anggota yang merasakan perhatian dan keadilan.

Ketiga, Jalan Spiritual: Atap Damai Sejahtera

Yesus memperingatkan tentang rumah yang dibangun di atas pasir. Pasir adalah simbol fondasi rapuh: egoisme, manipulasi, dan kepentingan sesaat. Batu adalah simbol keteguhan nilai.

Jalan spiritual mengingatkan bahwa setiap karya manusia membutuhkan dasar rohani. Damai sejahtera—shalom—bukan hanya stabilitas ekonomi, tetapi keutuhan hidup. Ketika relasi dijaga, keadilan ditegakkan, dan Tuhan ditempatkan sebagai dasar, maka damai sejahtera bertumbuh.

Gedung ini diberkati hari ini bukan hanya agar aman secara fisik, tetapi agar setiap keputusan yang lahir di dalamnya berakar pada kebenaran dan kejujuran.

Saudara-saudari, tiga jalan ini saling terhubung. Jalan ekonomi memberi kesejahteraan. Jalan kemanusiaan memberi makna. Jalan spiritual memberi arah.

Demikian, petikan kotbah Uskup Maksimus, yang menekankan bagaimana hikmat menjadi fondasi, kasih menjadi struktur, dan damai sejahtera menjadi tujuan, sebagai pemaknaan bagi KSP Kopdit Suka Damai, “tidak hanya akan bertahan, tetapi menjadi tanda berkat bagi Labuan Bajo dan sekitarnya,” katanya.

“Kiranya Tuhan, Sang Batu Karang sejati, meneguhkan rumah ini agar tetap kokoh ketika hujan turun, banjir datang, dan angin melanda,” jelasnya.

Gedung baru ini dilengkapi ruang pelayanan yang lebih representatif, ruang rapat, serta fasilitas administrasi yang modern guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada anggota. Dengan diresmikannya gedung tersebut, KSP Kopdit Suka Damai diharapkan semakin berkembang sebagai lembaga keuangan yang profesional, terpercaya, dan berlandaskan nilai-nilai iman serta kebersamaan.

Peresmian ini menjadi momentum penting bagi koperasi KSP Kopdit Suka Damai untuk terus bertumbuh dan berkontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

KoperasiMgr. Maksimus Regus
Comments (0)
Add Comment