Media diramaikan berita adanya seorang WNI yang mengatakan “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan” yang memicu amarah rakyat karena menghina tanah air. Perempuan ini rupanya penerima beasiswa pemerintah Indonesia yang membuat dia bisa mengenyam pendidikan di Inggris. Urusan ini berbuntut panjang karena netizen terus mengorek-ngorek informasi seputar Mbak Saset (julukan netizen dari nama asli) ini.
Tentu, tidak ada yang suka tanah air, tanah kelahiran kita direndahkan. Memang harus diakui, Indonesia jauh dari sempurna, tapi bukan jadinya merendahkan dimana kita berasal. Terlebih si mbak tersebut bisa sekolah karena dana pemerintah yang salah satunya berasal dari pajak yang rutin kita bayarkan.
Mau pindah ke negara manapun, pasti ada saja kekurangannya, entah pemerintahnya korupsi, infrastruktur yang kurang memadai, kemacetan, polusi, dan sebagainya.
Mungkin jika dibandingkan, pemerintah Indonesia banyak keburukannya, mengingat indeks korupsi kita merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Tapi, bukankah sebaiknya kita bersatu untuk membangun Indonesia agar menjadi semakin baik untuk anak cucu kita kelak?
Kita idak harus semuanya di Indonesia. Kita bisa membangun dari jauh, sesederhana bangga dengan identitas kita sebagai orang Indonesia di manapun kita berada. Kita bisa mempromosikan budaya dan pariwisata supaya orang di luar sana tahu, Indonesia bukan hanya Bali.
Bukan netizen Indonesia namanya kalau tidak melakukan penelusuran sampai dalam.
Rupanya hal ini berbuntut panjang, sampai netizen mencari tahu kontribusi apa yang sudah diberikan penerima beasiswa yang bisa kuliah di Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan negara lainnya. Sampai di suatu titik, ada seorang artis yang menerima beasiswa dan memaparkan kontribusi yang sudah diberikan.
Netizen merasa, kontribusi tersebut terlalu remeh dilakukan oleh seorang lulusan S2 salah satu universitas besar di Amerika Serikat. Bahkan, video seorang Cinta Laura yang bilang, “orang kaya tidak baik jika ambil beasiswa” kembali menyeruak.
Saya setuju sih, karena banyak orang pintar di luar sana yang memiliki keterbatasan dana untuk melanjutkan pendidikan. Belum lagi persiapan yang harus dilakukan memakan biaya yang tidak sedikit.
Jika dilihat, fenomena ini terjadi karena witch-hunt yang berlebihan. Witch-hunt sendiri didefinisikan pencarian, tuduhan, dan penganiayaan terhadap individu atau kelompok yang dianggap bersalah atau subversif tanpa bukti kuat.
Ini juga terjadi karena netizen banyak yang tidak bahagia dengan hidupnya, sehingga mencari kesalahan atau kelemahan orang lain, dengan kata lain, disebut crab mentality. Mereka bahagia jika orang lain susah, tapi sedih jika melihat orang bahagia.
Yang tidak kalah menyedihkan juga adalah, ketika netizen beranggapan “ngapain jadi IRT udah kuliah S2 tapi ga ada kontribusi ke negara.”
Saya mengerti netizen kecewa, tapi saya harap netizen (dan kita) juga menghargai pilihan hidup orang. Perempuan seringkali tidak ditakdirkan memilih jalan hidup, karena ketika dia memilih jalur hidup, selalu ada yang mengkritik.
Berbicara crab mentality juga berhubungan dengan seorang selebgram yang hidupnya “terlalu sempurna” di mata netizen dimana dia diistimewakan suami, hidup mewah, anak cantik, seperti hidup dalam drama Korea.
Banyak netizen meng-unfollow supaya tidak menimbulkan penyakit iri dengki. Padahal jika diri seseorang sudah bahagia, dia tidak akan pernah berpikir orang lain pamer atau riya. Justru mereka akan mendoakan agar punya banyak berkat dan kebahagiaan.
Tidak salah memang pernyataan yang bilang, tidak semua hal harus diketahui semua orang, tapi balik lagi, media sosial itu hak setiap orang, mau posting keluarga, liburan, makanan, pekerjaan, terserah dia, selama tidak melanggar norma dan adab sosial, bahkan memposting jam tangan Rolex, Richard Mille, Cartier, tidak akan jadi masalah jika netizen tidak memiliki hati iri dengki.
Karena kita tidak bisa mengontrol pikiran dan reaksi orang lain, memang baiknya kitalah yang memilih mana yang bisa dibagikan, mana yang tidak perlu dibagikan.
Sungguh baru awal-awal tahun kita sudah bisa banyak belajar agar tidak memposting sesuatu secara berlebihan, menyikapi secara berlebihan, dan belajar bahagia dengan diri sendiri supaya tidak mudah memandang sesuatu secara buruk.
Ayo rakyat Indonesia, ini sudah 2026, berhenti mencari kesalahan orang lain dan mengorek-ngorek hal yang tidak penting. Lebih baik fokus ke substansi daripada mencari kesalahan pribadi seseorang. Lebih baik kita fokus membangun negeri ini agar menjadi negara yang terhormat dan berwibawa di mata dunia.
Lahir di Bandung, domisili Jakarta. Pemerhati pendidikan, isu sosial, dan psikologi umum. No IG, prefer genuine relationship. Let’s make Indonesia greater than before!