Sebanyak 86 pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru dari sembilan yayasan di Keuskupan Agung Semarang mengikuti diklat di Muntilan untuk memperkuat perubahan pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.
Muntilan, Katolikana.com—Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang (LEKAS) terus mematangkan gagasan transformasi sekolah Katolik melalui pendidikan dan pelatihan batch 3 yang digelar pada 6-8 Maret 2026 di Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan.
Dalam pelatihan kali ini, arah transformasi itu dipertegas melalui fokus pada perubahan desain pembelajaran agar dampaknya sungguh dirasakan murid.
Sebanyak 86 peserta yang terdiri atas pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru dari sembilan yayasan sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Mereka berasal dari berbagai lembaga, antara lain Seminari Menengah Mertoyudan, ATMI Surakarta, Pangudi Luhur, Kanisius, Dinamika Edukasi Dasar, dan Dharma Ibu Yogyakarta.
Transformasi Tidak Bisa Parsial
Diklat LEKAS dirancang secara simultan dengan melibatkan seluruh organ sekolah. Materi yang diberikan pun disusun secara utuh, mulai dari visi-misi dan tata kelola kelembagaan, alat-alat strategis untuk pengambilan keputusan, hingga model-model pembelajaran yang relevan dan transformatif.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi sekolah tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di ruang kelas. Perubahan pembelajaran membutuhkan dukungan kepala sekolah dan yayasan agar gagasan yang dibangun dalam pelatihan benar-benar dapat dijalankan di tingkat praksis.
Belajar dari Pengalaman Batch Sebelumnya
Pengalaman dua batch terdahulu menjadi pelajaran penting dalam pelatihan kali ini. Yayasan Bernardus, misalnya, mengirimkan peserta secara penuh atau “bedol desa”, mulai dari pengurus yayasan, kepala sekolah, hingga guru dari unit-unit kerja mereka.
Keputusan itu diambil karena dalam pengalaman sebelumnya, ketika pelatihan hanya diikuti sebagian organ sekolah, implementasi di lapangan kerap menemui kendala. Peserta yang pulang dari diklat membawa semangat perubahan desain pembelajaran, tetapi sulit menggerakkannya karena pihak lain belum memahami semangat yang sama.
Klinik Silang Jadi Titik Temu
Salah satu sesi penting dalam diklat ini ialah Klinik Silang. Setelah para peserta mengolah materi di kelas masing-masing dan berdiskusi bersama dalam sesi tentang professional learning community (PLC), seluruh organ sekolah dipertemukan dalam satu ruang bersama.
Dalam sesi itu, para guru mempresentasikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) langsung di hadapan kepala sekolah dan pengurus yayasan. Kepala sekolah dapat segera mengorkestrasi rencana para guru agar sejalan dengan tujuan pembelajaran sekolah. Sementara itu, pengurus yayasan dapat langsung memetakan kebutuhan dan menghitung dukungan yang perlu disiapkan.
Sesi ini menjadi momen penting karena guru, kepala sekolah, dan yayasan tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling mendengar dan memahami arah perubahan secara langsung.
Guru Harus Berani Berubah
Nuansa keterbukaan terasa kuat sepanjang pelatihan. Para guru tampak semakin berani, konkret, dan terukur dalam menyusun rencana pembelajaran mereka. Hal ini didukung oleh berbagai materi seperti spiritualitas pendidikan Katolik, pedagogi pengharapan, model integratif pendidikan, dan pemanfaatan teknologi sebagai amplifier pedagogi.
Melalui materi-materi itu, peserta diajak menyadari bahwa perubahan pada murid hanya mungkin terjadi bila guru terlebih dahulu bersedia berubah, baik dalam paradigma maupun metode. Transformasi pembelajaran dengan demikian tidak berhenti pada teknik mengajar, tetapi menyentuh cara pandang terhadap murid dan proses belajar itu sendiri.
Kepala Sekolah dan Yayasan sebagai Penggerak
Pengurus yayasan dan kepala sekolah juga dibantu untuk menempatkan diri sebagai pemimpin perubahan. Melalui materi tentang spiritualitas kepemimpinan pembelajaran, kebijakan dan ekosistem transformatif, instructional leadership, pengelolaan aset, dan pembangunan jejaring, mereka diajak memahami peran strategis dalam menopang perubahan sekolah.
Dari sini tumbuh kesadaran bahwa guru perlu ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan gagasan mereka. Kepala sekolah pun lebih mudah mengartikulasikan kebutuhan timnya, sedangkan yayasan tidak lagi melihat permintaan fasilitasi sebagai beban, melainkan bagian dari upaya bersama untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.
LEKAS Juga Ikut Berubah
Menariknya, perubahan desain pembelajaran tidak hanya dituntut dari peserta. Tim LEKAS sendiri juga berusaha menghidupi semangat perubahan itu. Formula batch 3 ini mengalami penyesuaian dalam materi dan metode sebagai respons atas proses dan dampak dari dua batch sebelumnya.
Salah satu contoh datang dari fasilitator Tarsisius Sarkim. Menjelang tengah malam, ia pergi membeli lilin karena merasa sesi yang dibawakannya sebelumnya belum sepenuhnya membantu peserta menangkap pesan utama. Ia kemudian meminta tambahan waktu 25 menit pada sesi pagi berikutnya untuk mengajak peserta melakukan eksperimen sederhana.
Langkah itu menunjukkan bahwa transformasi bukan hanya diajarkan sebagai materi, tetapi juga dihidupi dalam cara pelatihan dijalankan.
Teknologi Bukan Tujuan
Pesan penting lain muncul dalam sesi penggunaan teknologi dalam pembelajaran yang dibawakan Risang Baskara. Ia mengingatkan peserta agar tidak terjebak menjadikan teknologi sebagai tujuan.
“Teknologi bukan tujuan. Ia hanya sarana. Pakailah sejauh diperlukan,” kata Risang.
Menurut dia, memindahkan bahan ajar dari kertas ke layar hanyalah transfer teknologi. Transformasi yang sesungguhnya terjadi ketika murid memperoleh pemahaman yang lebih baik atas materi yang diajarkan guru. Karena itu, teknologi perlu dipakai secara tepat, sejauh benar-benar membantu proses belajar.
Dilirik “Pulpen”
Diklat “Transformasi Sekolah Katolik” batch 3 ini didampingi para fasilitator LEKAS, yakni Tarsisius Sarkim, Rohandi, Titus Odong Kusumajati, Romo Yuvensius Deni Sulistiawan, Romo Bernadus Singgih Guritno, HJ Sriyanto, Elizabeth Indira, Albertus Harimurti, Risang Baskara, dan Yosef Onesimus Maryono.
Secara khusus, Keuskupan Surabaya juga mengutus tim Pulpen atau Pusat Layanan Pendidikan yang baru dibentuk untuk hadir sebagai pengamat. Mereka tengah merancang pelatihan serupa untuk menggerakkan karya pendidikan di keuskupan tersebut.
Kehadiran tim dari Keuskupan Surabaya menunjukkan bahwa model yang dikembangkan LEKAS mulai dilihat sebagai praktik baik yang layak dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut di tempat lain. (*)
Kontributor: AA Kunto A, Tim Komunikasi LEKAS
Tim Komunikasi LEKAS