Penemuan Kacamata dan Anugerah Imani

Katolikana.com – Sejarah penciptaan kacamata, diawali penggunaan kristal batu oleh Kaisar Nero (abad ke-1 M) dan hakim Tiongkok (abad ke-12) sebagai alat bantu lihat atau pelindung mata.

Kacamata korektif pertama muncul di Italia pada akhir abad ke-13 (sekitar 1280-an), awalnya berupa dua lensa yang dipegang atau dijepit, sebelum berkembang menjadi kacamata berbingkai dan gagang modern.

Penciptaan dilengkapi menjadi lebih besar atas penemuan di Italia (Abad ke-13) oleh biarawan di Pisa, Italia, yang dianggap sebagai pencipta kacamata pertama dan berkembang pesat di Venesia/Murano, Italia, pada tahun 1280-an, di mana lensa dipasang pada bingkai tulang, kulit, atau logam.

Abad ke-17-18: Gagang kacamata mulai ditambahkan untuk menyangkut di telinga agar lebih nyaman.

Benjamin Franklin dengan kacamata bifokal (1784) menciptakan kacamata bifokal, yang memungkinkan penggunaan satu kacamata untuk melihat jarak jauh dan dekat.

Abad ke-20 hingga kini, Kacamata berevolusi menjadi bagian dari fashion, menggunakan material lensa plastik/polikarbonat yang ringan, tahan pecah, dan multifungsi. (Sumber Wikipedia)

Penemuan berharga kacamata
Secara manusiawi penciptaan kacamata menjadi penemuan dan penciptaan yang begitu penting dan berarti sebagai “pencerah mata” untuk melihat. Selain itu dari sisi kesehatan kacamata memberi dampak yang besar untuk kesehatan dan menjadi bagian penting kelangsungan perjalanan hidup manusia.

Kacamata memberi makna menyembuhkan keterbatasan mata dan menuntun hidup sehari-hari.

Anugerah imani
Gereja pada Minggu Pra Paskah ke 4 mengajak umat merefleksikan kisah orang buta yang disembuhkan Yesus. (Yohanes 9:1-41).

Minggu ke-4 masa Prapaskah disebut Minggu Laetare atau Minggu Sukacita.

Sukacita yang diungkapkan orang buta yang disembuhkan dan kesaksian yang menyatakan : “Yesus adalah nabi. Aku percaya, Tuhan!” merupakan sukacita imani. Ini merupakan anugerah imani.

Kisah Paulus yang mengalami kebutaan dan disembuhkan dari kebutaannya melalui doa yang dipanjatkan oleh Ananias di Damaskus, atas perintah Yesus merupakan anugerah imani.

Ungkapan “anugerah imani” adalah refleksi iman. Anugerah imani bukanlah hasil usaha manusia, melainkan pemberian cuma-cuma (karunia) dari Allah.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Anugerah imani
Comments (0)
Add Comment