Yosefologi: Keunikan Santo Yoseph dalam Tradisi Katolik

Alistair EW S Simbolon & Yanti M Teurupun, Pegiat Aksi-Berpikir di Komunitas Filsafat Oemah Djiwa

Santo Yoseph tampak mendapatkan tempat spesial dalam pengembangan spiritualitas para kudus. Setelah Kristus, Tuhan kita dan Maria, Santo Yoseph kini mendapatkan locus berteologi. Dalam studi Kristologi, Kristus dipandang sebagai pusat berteologi dan Mariologi memfokuskan studi pada Maria dalam berteologi. Namun kini, para Teolog dan Paus mulai melirik pada Yoseph, sang tekton (tukang bangunan) itu. Apa yang menarik dari Yosefologi?

Santo Yoseph yang Kudus Setelah Mempelainya yang Murni – Santa Maria

Yoseph dalam bahasa Ibrani berarti “bertumbuh”. Dalam Perjanjian Lama, kita mengenal Yoseph anak Yakub. Pertumbuhan di keduanya tampak beda. Yoseph dalam Perjanjian Lama, tumbuh dalam kebijaksanaan dan kekayaan dibandingkan saudara-saudara nya. Sedangkan Yoseph, mempelai Murni Maria yang melahirkan Yesus, Allah kita tumbuh dengan kepenuhan Roh Kudus yang terlibat dalam penyelenggaran keselamatan ilahi (Thompson, 16).

Namun, kita terbatas dalam mengenali Kekudusan Santo Yoseph dalam penyelidikan Injil. Ada 3 prinsip teologi Thomistik dalam mengenali kekudusan Santo Yoseph.

Pertama, orang kudus yang terpilih (the chosen one) diberkati dalam hidupnya, terlebih sebagai Bapa Sang Putra Allah, Yesus Kristus dan menjadi mempelainya, Maria. Apalagi sebagai kepala keluarga kudus, pelayanannya lebih tinggi dari Paus karena ia melayani Putra Allah disamping mempelainya, Maria.

Kedua, Santo Yoseph hidup berdampingan dengan Yesus Kristus, Kepala Gereja sebagai Tubuh Mistik dan Maria, mempelainya yang tanpa dosa.

Ketiga, keutamaan devosi, aspek pelayanan kepada Allah melalui kontemplasi terus menerus kepada Allah dan merenungkan hidup, wafat dan kebangkitanNya.

Dengan demikian, melalui perenungan terhadap Santo Yoseph, kita sampai pada perenungan Yesus dan mendorong kita bertumbuh pada devosi kepada kemuliaan Allah (Cole OP).

Maria dipandang sebagai penghormatan orang kudus tertinggi, setelah para malaikat dan santo-santa dalam tradisi Katolik. Namun kini, tepatnya sejak Thomas Aquinas, sebagai teolog yang pertama kali melakukan studi Yosefologi, Santo Yoseph mulai mendapatkan pusat perhatian dalam berteologi, disamping Kristologi dan Mariologi. Ia dipercaya sebagai Orang Kudus tertinggi kedua, disamping mempelai murninya, Santa Maria.

Joseph Tuttle dalam esainya, memberikan argumen berdasarkan teologi Thomas Aquinas. Menurutnya, kebangkitan orang kudus bertolak dari kisah penyaliban Yesus dan kebangkitan-Nya dalam Matius 27: 52-54. Semua orang kudus dibangkitkan dan menuju kota kudus (Yerusalem) setelah Yesus dibangkitkan. Thomas Aquinas menafsirkan Yerusalem sebagai kota surgawi, bukan kota duniawi di Israel.

Kebangkitan Kristus adalah starting point bagi kebangkitan orang kudus. Dalam 1 Korintus 15:20, kebangkitan Kristus dinyatakan sebagai yang sulung yang bangkit dari orang yang meninggal. Dengan anasir teologi kebangkitan yang bercorak Thomistik, Santo Yoseph sebagai orang Kudus diimani telah dibangkitkan baik tubuh dan rohnya. Hal ini juga ditegaskan oleh Paus Yohanes XXIII dalam homili pada 1960, bahwa Yoseph diangkat ke surga baik tubuh dan rohnya sama seperti mempelai murninya, Santa Maria.

Dalam tradisi Katolik, Maria diberi penghormatan tertinggi dalam orang kudus (hyperdulia). Meskipun demikian kita sebagai orang Katolik menyembah Allah yang Maha Tinggi (latria). Namun kini, penghormatan tertinggi kedua setelah Maria adalah kepada Santo Yoseph (protodulia). Kita juga menhormati para malaikat dan orang kudus (dulia) (Tuttle BA, 2023).   

Dalam Konsepsi Imakulata, Maria dipandang sebagai orang kudus yang dibersihkan dari noda dosa sejak ia dikandung oleh ibunya, Santa Anna. Kita mengimani juga Santo Yoseph, di samping mempelai murni nya juga diangkat ke surga baik tubuh dan roh nya oleh Allah (Tuttle BA, 2023).

Beberapa Paus bahkan memberikan penghargaan atas gelar Santo Yoseph sebagai Pelindung Gereja Universal dan dirayakan tahun Santo Yoseph lewat Paus Benediktus XV dalam motu proprio dalam Bonum Sane dan Paus Fransiscus dalam Patris Corde di tahun 2020.

Yosefologi: Teologi dari Kesaksian Suci Hidupnya

Sebagai pendekatan teologi yang baru, tampaknya teologi St Yoseph lebih diletakkan pada konteks sikap hidup sucinya. Jika Kristologi dan Mariologi didekati dengan pendekatan dogmatik, namun teologi Santo Yoseph ditelusuri dari kesaksian hidupnya (Metom, 273 & 277) Santo Yoseph tidak menelorkan pengetahuan teologis seperti bapa-bapa/doktor gereja namun lewat kesaksian hidupnya, mengajarkan kebijaksanaan kudus sang tekton (tukang bangunan) kepada Yesus.

Hal itu terpancar dari sabda-sabda Yesus kepada orang-orang Yahudi di zamannya dengan menggunakan analogi-analogi tekton. Selain itu, santo-santa yang berdevosi kepadanya menguatkan iman kita bahwa melalui perantaraan Santo Yoseph dan meneladani kesaksian hidupnya, devosi kita sampai kepada Sang Sabda. Disinilah keunikan Yosefologi!  

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Santo YosephYosefologi
Comments (0)
Add Comment