Uskup Timika Mgr. Bernardus Menerimakan Krisma Ketika Orang Muda Papua ‘Terancam Mati Sia-sia’

Nabire, Katolikana.com — Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA menerimakan sakramen penguatan kepada 283 orang umat dari tiga paroki selama sepekan sejak hari Sabtu (21-23 Maret 2025) dilaksanakan di masing-masing gereja di pusat parokinya, di Dekenat Teluk Cendrawasih, Keuskupan Timika.

Uskup Bernardus hadir dalam perjalanan kanonika perdana di wilayah pelayanan Pastoral di Paroki Antonius Padua, Bumi Wonorejo, Paroki St. Yosep, Nabire Barat dan Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK). 

Ratusan umat dengan antusias menjemput kedatangan uskup di gerbang utama lokasi paroki pada hari Jumat, 20 Maret 2026, dimana umat mengenakan tarian-tarian adat  dengan menyanyikan lagu bahasa daerah masing-masing suku yang ada di Dekenat Teluk Cendrawasih. 

Dalam perjalanan kanonika ini, Mgr.Bernard melakukan kegiatan audiensi bersama pengurus gereja dan umat, pemberkatan peletakan batu pertama menara lonceng di Paroki Antonius Bumi Wonorejo, pertemuan bersama pengurus Gereja Stasi  Urumusu Topo di Paroki Antonius Padua, Bumi Wonorejo untuk penyerahan lokasi tanah kepada Keuskupan Timika dan penerimaan Sakramen Krisma.

Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA memberikan salam kepada umat usai perayaan penerimaan Krisma, (21/3/2026) / Foto: Marinus Gobai

Agenda Kanonika Krisma

Dalam penerimaan Sakramen Penguatan itu mengangkat thema “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, Ia bukan milik Kristus” (Roma 8:9). 

Perjalanan Kanonika, pertama : Pelayanan penerimaan Sakramen Krisma di Paroki Antonius Padua, Bumi Wonorejo  telah menerima Sakramen Krisma di hari Sabtu, 21 Maret 2026, pukul 09.00 kepada umat sebanyak  92 umat. 

Dalam perayaan penerimaan Krisma di Paroki St. Antonius Padua Bumi Wonorejo di dampingi empat pastor yaitu Pastor Vincensius Budi, Pr, Pastor Dominikus D Hodo, Pr dan Pastor Yohanes Adriyanto, SJ dan Pastor Otopianus Taena, Pr.

Kedua, pelayanan penerimaan Krisma di Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) di Meriam pada Minggu, 22 Maret 2026, pukul 09.00 WIT dengan jumlah penerima krisma sebanyak 106 umat. Perayaan penerimaan Krisma di Paroki KSK di dampingi Pastor Yohanes Adriyanto,SJ sebagai pastor parokinya. 

Ketiga, pelayanan penerimaan Krisma di Paroki St.Yosep, Nabire Barat pada hari Senin, 23 Maret 2026, pukul 09.00 WIT. Jumlah penerima Sakramen Penguatan sebanyak 85 umat. 

Pada kesempatan yang sama Uskup Mgr. Bernardus B. Baru, OSA juga memberkati 20 orang akolit sebagai pelayanan gereja di wilayah Paroki St.Yosep Nabire Barat. Perayaan penerimaan Krisma di Paroki St. Yosep  didampingi Pastor Vincensius Budi Nahiba, Pr, Pastor Daniel Gobai, Pr, Pastor Dominikus D Hodo, Pr, Pastor Yohanes Adriyanto,SJ.

Umat yang menerima Sakramen Krisma di Paroki St. Antonius Padua, Bumi Wonorejo, (21/3/2026)/ Foto: Marinus Gobai

Agar Orang Muda Papua Tidak Mati Sia-sia

Pada momen perayaan Krisma dalam homilinya, Mgr. Bernardus menyampaikan pesan situasi hidup, yag menekankan bahwa kita hidup untuk menghidupkan. Secara khusus pesan ditujukan kepada Orang Asli Papua (OAP), terutama orang-orang muda yang sedang menghadapi ancaman kepunahan. 

Ia menyoroti fenomena yang belakangan ini terjadi, yaitu ada tiga hal yang menjadi penyebab kematian bagi orang-orang muda di Papua yaitu kematian tubuh daging, kematian psikologis atau mental, dan kematian roh atau spiritual. 

Sebagian orang muda  kini yang sudah kehilangan arah hidup. Sehingga, diharapkan orang muda harus mendisiplinkan hidup selaras dengan kasih dan mengandalkan Tuhan  Yesus Kristus.

Mgr. Bernardus menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas situasi masa kini kepada orang muda Papua di Keuskupan Se-Regio Papua yang mengalami hal yang sama, tantangan-tantangan kehidupan sosial menggereja masa kini dan masa yang akan datang begitu berat. Dalam situasi inilah, arti penting penerimaan Sakramen Krisma kepada orang muda, yang akan menjadi saksi iman akan Kristus di tengah umat.

Dalam homilinya, Mgr. Bernardus juga manyampaikan bahwa faktor orang muda Papua banyak meninggal dunia akibat ketidakdispilan hidup dari tradisional ke kehidupan modern, pendidikan dasar dalam keluarga sudah berkurang, sehingga mengakibatkan orang-orang muda mengalami kematian karena banyak mengonsumsi miras (minuman keras beralkohol). Hal itu menyebabkan banyak orang hidup tidak beres, keluarga berantakan, kesehatan rusak, dan banyak anak-anak muda mati sia-sia.

“Oleh karena itu, orang mudah yang menerima Sakramen Penguatan (Sakramen Krisma) menjadi saksi di tengah umat. Sakramen Krisma tidak dijadikan sebagai catatan administrasi gereja akan tetapi tanda terima penguatan Roh Kudus dalam diri saudara untuk berkarya dan bersaksi,” ungkap Mgr. Bernardus.

Pesan Kepada Orang Muda Perempuan

Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA juga memberi pesan khusus kepada kaum perempuan agar menjaga masa depan yang baik, jaga marwa dan indentitas diri sebagai wanita yang takut akan Tuhan.

“Mengutip sesuai bacaan Injil, orang-orang, para tua-tua menjebloskan perempuan yang berzinah kehadapan Yesus untuk menghukum dia. Pesan yang disampaikan Yesus menyentuh hati kita semua. Oleh karena itu mama-mama yang melahirkan anak-anak, begitu juga orang muda perempuan jaga diri dengan baik,” ungkap Mgr. Bernardus.

Ia menekankan kepada kaum laki-laki agar tidak merusak martabat perempuan. “Kaum Adam bahwa jangan kasih rusak perempuan, anak-anak generasi muda masa depan untuk gereja dan tanah ini.”

“Kalau cinta, cinta dengan tulus, kalau kawin, kawin dan nikah di gereja karena perempuan martabat Allah. Perempuan adalah mama yang melahirkan kita semua.”

Foto bersama Uskup Timika Mgr. Bernard dan orang muda Papua yang menerima Sakramen Krisma/ Foto: Marinus Gobai

Demi Keruk SDA Papua 

Dengan pesan yang tegas Mgr Bernardus juga menyoroti faktor eksternal yang tercipta melalui tangan negara dan investor untuk menindas umat di tanah Papua.

Dia mengutip contoh kasus-kasus yang terjadi dengan minuman keras yang dijual dimana-mana di tanah Papua. Banyak orang muda Papua diarahkan menjadi gelandangan sosial melalui miras supaya bisa dibujuk dan bisa diajak dengan mudah untuk mengeruk sumber daya alam (SDA) di Papua. 

“Ada investor-investor nakal menanamkan modal melalui minuman beralkohol di Papua. Dua kekuatan berkolaborasi  untuk  berujung kepada orang muda Papua untuk memecah belah supaya tidak baku percaya, tidak saling menghormati satu sama lain dalam kehidupan sosialnya,” katanya.

“Yang dialami dalam Keuskupan Timika dengan tantangan baru dimana kehidupan sosial masyarakat yang sebelumnya hidup rukun dan damai. Kini sudah rusak dan retak kembali. Pada kenyataan hidup bersosial selama ini menghargai budaya, menghormati keberadaan suku-suku yang ada,” kata Mgr. Bernardus.

Menurut Mgr. Bernadus B. Baru, OSA kasus pertikaian seperti yang terjadi di Kapiraya antara Suku Mee dan Suku Kamoro murni tercipta konflik perebutan kekayaan dari para investor dan negara. “Dengan ini kita semua menolak kekuatan-kekuatan yang mengorbankan warga sipil demi mencari kekayaan duniawi,” ungkapnya saat homili di Paroki St. Antonius Padua, Bumi Wonorejo.

Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Paniai, Papua. Lahir di Ibumaida, Paniai, tahun 1989. Penulis bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Ciptaan Paroki Kristus Sang Gembala (KSG) Wedaumamo, Keuskupan Timika. Ia juga aktif di organisasi Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Kabupaten Paniai.

Mgr. Bernardus Bofitpas BaruOrang muda PapuaSakramen KrismaUskup Timika
Comments (0)
Add Comment