Katolikana.com – Doa Santo Fransiskus Asisi
TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah, ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; mengerti daripada dimengerti; mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni, dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
Tanpa keheningan tidak ada puisi – Kardinal José de Mendoça.
Dalam Kekosongan
(Tanggapan permenungan Kardinal José de Mendoça)
Syair, puisi, poise, kekosongan mengajak kita masuk keheningan, dalam keheningan hingga tajam menghujam.
Jiwa yang hening tidak selalu jiwa yang tidak bersuara lagi, melainkan jiwa-jiwa yang meneriak-gemakan keadilan dan pembebasan jiwa lain, sehingga menghimpun kejamakan kembali pada ketunggalan.
Dalam dan dengan syair kita diundang dan diajak memeluk dan berbagi hati untuk bersama-sama memandang Hyang Ada, yang menunjukkan wajah-Nya dalam setiap butir dan tetes alam.
Untuk kesana, tak cukup bermodalkan keberanian dan niat, melainkan membutuhkan Terang dan Petunjuk jalan hingga sampai pada tujuan.
Mari mendengarkan cawan jiwa ke langit, menyambut curhat Cahaya-Nya dalam laut keheningan dan kebeningan, di tempat segala Kebaikan diperkenalkan.
Di sana pula, kekosongan hadir dalam kepenuhan.
(Ditulis Agustinus Astanta – Guru di Bekasi, Alumni Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta