Dualitas Kristus dalam Film The Last Temptation of Christ

Oleh Eddy Wenge, Pegiat Aksi-Berpikir pada Komunitas Filsafat Oemah Djiwa

Film The Last Temptation of Christ, karya sutradara Martin Scorsese, hingga kini tetap menjadi salah satu penggambaran sinematik tentang Yesus Kristus yang paling berani dan kontroversial secara teologis. Alih-alih menghadirkan sosok yang konvensional dan penuh devosi, film ini memasuki lorong eksplorasi yang sangat introspektif dan spekulatif mengenai kehidupan batiniah Kristus dalam menjalani takdir sebagai Mesias.

Signifikansi teologisnya tidak terletak pada kesetiaan ketat terhadap narasi Injil, melainkan pada usahanya untuk bergumul dengan salah satu misteri utama dalam Kekristenan, yaitu bagaimana Yesus dapat sepenuhnya menjadi ilahi dan sepenuhnya menjadi manusia?

Pertanyaan ini secara resmi dirumuskan dalam doktrin Kristen awal pada Konsili Kalsedon (451 M), konsili keempat dari tujuh Konsili Ekumenis, yang menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus dan menetapkan pengakuan Iman Kalsedon, yang menyatakan bahwa Kristus memiliki dua kodrat: ilahi dan manusiawi – keduanya bersatu tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan.

Pertama, dalam perspektif teologi, film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan dan menggali lebih dalam tentang sifat dua kodrat dalam diri Kristus.

Karya-karya seni dan pewartaan Kristen tradisional seringkali menekankan keilahian Kristus – otoritas-Nya, mukjizat-Nya, dan ketidakberdosaan-Nya – kadang dengan mengorbankan imajinasi penuh tentang implikasi kemanusiaan-Nya. Sebaliknya, film Scorsese ini dengan sengaja membalik penekanan bahwa ia menggambarkan Kristus sebagai manusia yang diliputi ketakutan, ketidakpastian, bahkan keraguan terhadap panggilan ilahi-Nya.

Dengan demikian, film ini mengajak penonton untuk memandang inkarnasi bukan sebagai doktrin statis, melainkan sebagai realitas yang hidup dan dinamis.

Salah satu pijakan teologis penting untuk memahami film ini adalah konsep kenosis, yang diambil dari Filipi 2:7, yang menggambarkan Kristus yang “mengosongkan diri-Nya” ketika menjadi manusia.

Kedua, dalam film ini Yesus mewujudkan pengosongan diri tersebut secara radikal. Ia mengalami keraguan, pergulatan batin, dan juga beban kehendak bebas. Pergumulan-Nya untuk memahami dan menerima kehendak Allah mencerminkan proses panggilan yang sungguh manusiawi. Alih-alih merendahkan Kristus, penggambaran ini justru dapat dilihat sebagai proses pendalaman nilai ketaatan-Nya. Dalam konteks ini salib tidak hanya dipikul semata untuk menderita, salib justru dipilih di tengah adanya alternatif yang nyata.

Lebih lanjut, film ini tidak hanya menawarkan sebuah pandangan kritis terhadap konsep tradisional penebusan dosa melalui penderitaan, namun di dalamnya juga ada pertanyaan tentang makna pengorbanan itu sendiri. Apakah penderitaan itu mutlak diperlukan untuk mencapai keselamatan, atau apakah ada cara lain untuk menggapai kedekatan dengan Tuhan di luar jalan penderitaan?

Adegan “pencobaan terakhir” (last temptation) sendiri merupakan elemen teologis yang paling diperdebatkan dalam film ini. Di sini Yesus membayangkan – atau dicobai dengan – sebuah kehidupan dimana Ia turun dari salib dan menjalani pemenuhan manusiawi yang mendasar: pernikahan, seksualitas, dan keluarga. Rangkaian adegan ini dianggap kontroversial karena menampilkan Yesus yang seolah-olah gagal menjalankan takdir-Nya untuk menebus dosa manusia dengan mati di kayu salib.

Secara mendasar skenario film ini, yang terinspirasi oleh novel karya Nikos Kazantzakis, tidak dimaksudkan sebagai realitas historis, melainkan sebagai eksplorasi dramatis tentang pencobaan. Dari sudut pandang teologis, dia berusaha memvisualisasikan makna Kristus yang “dicobai dalam segala hal” (Ibrani 4:15). Poin pentingnya adalah bahwa Yesus pada akhirnya menolak kehidupan alternatif ini dan kembali kepada salib, menegaskan misi-Nya sebagai penebusan yang penuh pengorbanan.

Film ini bisa juga dilihat sebagai sebuah refleksi tentang kedalaman penderitaan manusiawi dan pencarian makna hidup, serta menunjukkan bahwa meskipun Yesus adalah Mesias, Dia juga mengalami konflik yang mendalam sebagai manusia yang terikat pada realitas duniawi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan doktrinal yang penting. Ajaran Kristen klasik menegaskan bahwa Yesus tidak berdosa, sehingga pencobaan yang Ia alami tidak boleh dipahami sebagai kegagalan moral.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa film ini berisiko disalahpahami karena menggambarkan pencobaan secara konkret atau intens. Namun, kritikus-kritikus lainnya melihat bahwa film ini justru menegaskan ketidakberdosaan Kristus dengan menyoroti ketetapan dan kemurnian pilihan-Nya. Dalam perspektif ini, pencobaan tidak menjadi kurang nyata karena ditolak, yang justru menjadi paling bermakna karena berhasil diatasi.

Film ini juga berinteraksi dengan kepekaan teologi modern, khususnya yang dipengaruhi oleh eksistensialisme. Penggambaran Yesus dalam film ini selaras dengan pemikiran Paul Tillich (1886-1965), yang menggambarkan iman sebagai “keberanian untuk ada“ di tengah kecemasan dan keraguan.

Ketiga, perjalanan Yesus menjadi sebuah drama eksistensial: Ia harus menghadapi ambiguitas identitas-Nya sekaligus menghadapi keheningan atau ketersembunyian Allah Bapa-Nya. Gambaran ini mungkin mengganggu bagi penonton yang terbiasa dengan sosok Kristus yang tenang, bersahaja, dan penuh kemenangan, sekaligus menawarkan gambaran yang kuat tentang solidaritas ilahi dengan pergulatan manusia. Allah, dalam Kristus, tidak jauh dari penderitaan manusia, Dia justru hadir dan masuk ke dalam kemanusiaannya yang terdalam.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, film ini perlu dipahami sebagai karya interpretasi artistik, bukan sebagai doktrin teologis mutlak. Film ini menyimpang cukup jauh dari Injil kanonik dan memasukkan unsur-unsur imajinatif yang tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci. Hal ini memicu kritik keras dari berbagai komunitas Kristen, yang menganggapnya tercela dan menyesatkan.

Kontroversi yang muncul saat film ini pertama dirilis mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara tradisi dan reinterpretasi, antara iman dan kebebasan artistik. Meski demikian, film ini dapat diapresiasi – bila tidak dapat dibilang dihargai – dalam tradisi panjang refleksi teologis yang menggunakan narasi dan imajinasi untuk menyelami misteri iman.

Seperti drama-drama sengsara pada Abad Pertengahan atau novel-novel teologis modern, film ini tidak bermaksud mengubah atau menggantikan Kitab Suci, melainkan mendorong keterlibatan yang lebih mendalam dengannya. Dengan menghadirkan Yesus yang harus bergumul dengan ketakutan, hasrat dan keinginan, dan juga kemungkinan untuk hidup biasa, film ini menantang penonton untuk memikirkan kembali makna ketaatan, pengorbanan, dan kasih ilahi.

Sebagai penutup, The Last Temptation of Christ menawarkan sebuah refleksi teologis yang kaya dan kompleks tentang inkarnasi. Penekanannya pada kemanusiaan Kristus, penggambaran dramatis tentang pencobaan, serta keterlibatannya dengan persoalan eksistensial modern menjadikan film ini kontroversial namun sekaligus sangat menggugah pemikiran.

Terlepas dari apakah seseorang menyetujui pendekatannya atau tidak, film ini berhasil mengarahkan perhatian pada kedalaman klaim iman Kristen, bahwa Allah sungguh menjadi manusia, dan bahwa kemanusiaan itu mencakup bukan hanya penderitaan, tetapi juga pergulatan, pilihan, dan kemungkinan untuk berkata “tidak”, yang pada akhirnya dikalahkan oleh “ya” yang menentukan di kayu salib.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Film KatolikFilm The Last Temptation of Christyesus
Comments (0)
Add Comment