Yesaya 49:1-6; Yohanes 13:21-33.36-38
Katolikana.com – Bacaan Injil Yohanes 13:21-33.36-38 menyajikan dua potret kelam: Yudas yang mengkhianati dan Petrus yang menyangkal Yesus. Keduanya sama-sama murid, sama-sama dekat dengan Yesus, namun sama-sama jatuh dalam sikap tidak setia.
Dua wajah ketidaksetiaan
Yudas membiarkan Iblis merasuki hatinya. Dari posisi terhormat sebagai salah satu dari dua belas rasul, ia berubah menjadi pengkhianat. Motifnya mungkin uang, kekecewaan, atau kuasa kegelapan yang ia biarkan memasuki dirinya. Ia tidak melawan; ia menyerah. Akibatnya, ia mengkhianati Gurunya dengan ciuman—tanda kasih yang berubah menjadi senjata penghancur.
Di sisi lain, Petrus menunjukkan sikap tidak setia yang berbeda. Dengan penuh semangat ia menyatakan siap mati bagi Yesus. Namun ketika ujian datang, ketakutan terhadap manusia menguasainya.
Tiga kali ia menyangkal bahwa ia mengenal Yesus. Bukan karena kerasukan, melainkan karena kelemahan daging yang takut menderita demi Tuhannya.
Dua jalan ketidaksetiaan
Dua sikap ini mengingatkan kita bahwa ketidaksetiaan dapat datang melalui dua jalan. Pertama, melalui pintu kelam yang sengaja kita buka bagi kuasa jahat. Kedua, melalui pintu ketakutan yang diam-diam kita biarkan menguasai hati, sehingga kita menyangkal Yesus bukan dengan bibir saja, tetapi juga dengan sikap hidup yang malu mengakui iman.
Pertanyaan untuk kita: apakah kita sedang membiarkan “iblis” kecil—keserakahan, ambisi pribadi, atau kompromi—merasuki hidup sehingga diam-diam kita mengkhianati Yesus?
Atau apakah kita membiarkan ketakutan membuat kita menolak ejekan, atau apakah kerugian duniawi membuat kita menyangkal Dia berulang kali?
Kesempatan memulihkan diri
Yesus tahu kelemahan kita. Petrus diberi kesempatan memulihkan diri. Yudas kehilangan kesempatan itu, karena ia tidak bertobat.
Ketidaksetiaan itu bukan akhir, selama kita kembali kepada-Nya dengan hati yang hancur.
Namun janganlah kita meremehkan kuasa dosa—baik yang datang dari keinginan gelap maupun dari ketakutan yang tampaknya “manusiawi.” Sebab di mata Yesus, keduanya tetap bernama pengkhianatan.
Mari kita periksa hati. Menjadi pengikut setia berarti menutup pintu bagi kuasa jahat dan juga menolak ketakutan yang membuat kita menyangkal-Nya.
Di mana selama ini kita berdiri?
Selasa, 31 Maret 2026
HWDSF
Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.