Refleksi Ingatan Mengingat-Ku di Malam Perjamuan Terakhir Kamis Putih

Katolikana.com – Melalui lagu “Remember Me” karya komponis musik gerejawi asal Ohio, Amerika Serikat, refleksi ini dimulai dengan ingatan akan kenangan Ekaristi. Pendukung refleksi Video Remember Me (Deborah Govenor / Bahasa Indonesia) ** video lirik ** – Keluarga Katolik Indonesia Tokyo.

Kristus menetapkan Ekaristi sebagai ingatan tertinggi, menghadirkan kembali tindakan penyelamatan-Nya.

Remember Me – Deborah Govenor
(Mengingat-Ku)

Di malam Tuhanku dikhianati
DipecahNya roti dan berkata:
“Makanlah, ini TubuhKu untukmu
Minumlah Darah tercurah bagimu.
Lakukanlah ‘tuk mengenangKu,
MengenangKu.”

Pada malam Tuhanku diingkari,
Ia berdoa kepada Bapa
“Jauhkan cawan derita dariKu,
Namun biarlah kehendakMu yang jadi
Dalam pergumulan Kau mengingatku
MengingatKu.”

Mengenang perjamuan malam terakhir
Peristiwa Kamis Putih bagi umat Katolik mengenang Perjamuan Malam Terakhir, saat Yesus menetapkan Ekaristi sebagai kenangan akan kurban diri-Nya, dan memberikan contoh melayani melalui pembasuhan kaki dan teladan kerendahan hati Yesus.

Setelah itu umat Katolik diajak untuk berjaga bersama dalam keheningan setelah Misa, merenungkan pengorbanan-Nya sebelum disalibkan dalam peristiwa “tuguran” atau jaga bhakti.

Bagi Gereja Katolik, sebagai ingatan hidup Ekaristi lebih dari sekadar dirayakan namun dihidupi. Perayaan Ekaristi dilakukan baik secara harian, mingguan, perayaan sesuai kalender liturgi maupun peristiwa-peristiwa khusus.

Ingatan manusia dan anugerah ilahi

“Remember Me”, memberi jejak refleksi pengalaman rohani yang kuat. Ingatan yang kuat merupakan upaya manusia yang disatukan dengan anugerah ilahi untuk memahami kehendak dalam sikap religiositas.

Ingatan manusia terbatas. Ingatan Allah (Divine Memory) adalah sempurna. Ingatan sempurna Allah melihat segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu, dan ingatan-Nya tak terbatas. Allah memelihara kebaikan dan memelihara ciptaan.
Peristiwa Kamis Putih, melalui ingatan kenangan yang diwariskan, umat senantiasa dibimbing untuk memiliki niat merayakan Ekaristi.

Memohon kekuatan ingatan
Melalui doa, umat memohon kekuatan ingatan dan penghayatan Ekaristi.

Dalam tradisi Kristen, ingatan bukan sekadar aktivitas mental, melainkan tindakan liturgis dan spiritual.

Teologi Mengingat (Theology of Remembrance) adalah dasar rekonsiliasi mengingat perbuatan Allah di masa lalu dan menemukan relevansinya di saat ini.

Penghayatan “Kenangkanlah ini, lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” atau “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” adalah pesan Yesus Kristus dalam peristiwa Perjamuan Malam Terakhir.

Perintah ini menjadi ingatan atau kenangan untuk terus dilakukan sebagai tindakan mengenang pengorbanan Yesus, bukan hanya sebagai kenangan pasif, tetapi pemberitaan Injil yang aktif.

Selain itu untuk menghadirkan kembali kehadiran Tuhan dan pengorbanan-Nya dalam kehidupan sehari hari.

Ingatan Perjamuan Malam Terakhir yang dirayakan pada Kamis Putih juga mengingatkan akan : Sakramen Maha Kudus, Firman Allah yang Hidup dan perintah melakukan Ekaristi yang berkelanjutan.

“Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”. “Tuhan bimbinglah saya untuk memiliki ingatan yang kuat agar senantiasa dapat mengikuti Ekaristi-Mu”

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta

Kamis PutihPerjamuan Malam TerakhirRefleksi
Comments (0)
Add Comment