Jalan Salib Keliling Kampung di Sengkan Yogyakarta

Oleh Andreas Pamungkas

Yogyakarta, Katolikana.com – Tidak seperti biasanya, Ibadat Jalan Salib ini dilakukan pada malam hari usai perayaan Kamis Putih. Uniknya, Jalan Salib ini juga dilakukan dangan berkeliling kampung melintasi 14 titik perhentian kisah sengsara Yesus.

Kamis malam usai misa pertama di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Sleman Yogyakarta, umat wilayah Santo Yohanes Don Bosco Sengkan berdatangan di salah rumah warga.

Johanes Kristanto bersama saudaranya sebelumnya merakit pengeras suara di atas angkong atau gerobak untuk bisa didorong keliling kampung, sehingga suara pemandu ibadat Jalan Salib dapat didengar oleh seluruh umat yang mengikuti.

Umat lingkungan Dos Bosco khusuk melakukan jalan salib yang rutenya keliling kampung Sengkan, Yoyakarta/Foto: Andreas

Hari- hari sebelumnya, Kristanto juga mengajak keterlibatan umat lainnya untuk menyediakan obor dari bambu. Selain agar semarak, obor yang dibuat dapat sekaligus menjadi penerangan di jalan- jalan kampung yang gelap.

Sekitar pukul delapan malam, Jalan Salib dimulai. 14 titik perhentian sebelumnya telah ditentukan  dengan tersebar di rumah umat yang dilewati prosesi Jalan Salib tersebut dengan berakhir di Kapel Santo Don Bosco, Sengkan.

Umat yang rumahnya menjadi tempat perhentian pun antusias menyambutnya. Rumah Helena Wijayani, misalnya, ia menempat gambar perhentian Yesus di antara pagar rumahnya. Meja kursi ia tumpuknya dengan ditutup kain putih, kemudian poster perhentian Yesus diletakkan di atasnya. Beberapa tanaman hias menghiasianya bak altar, disertai dengan sejumlah lilin yang menyala.

Helena sempat terlihat gusar sebelum arak- arakan Jalan Salib tiba, karena terdapat lilin yang berulang kali dinyalakan, namun terus mati. ”Ini udah kesekian kalinya rumah kami menjadi tempat perhentian. Dekorasi ini harapannya menambahkan kekusyukan dalam Jalan Salib,” ujarnya.

Salah satu perhentian di sudut rumah warga lingkungan Don Bosco, Kampung Sengkan/Foto: Andreas

Jalan Salib keliling kampung di wilayah Santo Don Bosco sudah menjadi tradisi yang mengakar dari generasi ke generasi. Umat tetap menyiapkannya, meski tak sedikit umat yang tentu memiliki tugas pelayanan di Gereja. Anak-anak hingga lansia antusias mengikutinya. Pemuda dan bapak-bapak juga terbagi perannya untuk menjaga keamanan di persimpangan jalan, ketika arak-arakan Jalan Salib melintas.

Umat juga memaknai kegiatan Jalan Salib keliling kampung ini bukan sekadar doa, melainkan sebagai laku batin atau tirakat dalam tradisi Jawa, yang dalam hal ini merefleksikan kehidupan yang dijalani umat dalam satu tahun terakhir dengan kisah sengsara Yesus Kristus.

Bersujud dengan khikmat pada jalan salib keliling kampung Sengkan/Foto: Andreas

”Sambil mengenang sengsara kematian Kristus, diharapkan juga kehidupan beriman masing- masing umat terus bertumbuh dan berkembang,” ungkap Kristanto.

Ia berharap Jalan Salib keliling kampung dapat digelar lebih semarak dengan melibatkan banyak umat. Selain itu, rute Jalan Salib juga lebih meluas mengelilingi wilayah Don Bosco yang dikenal dengan nama- nama jalan bersejarah di Yerusalem, seperti Jalan Getsemani, Kota Yerusalem, dan lain sebagainya.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Jalan Salib
Comments (0)
Add Comment