“𝔖𝔢𝔟𝔞𝔟 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔟𝔦𝔩𝔲𝔯-𝔟𝔦𝔩𝔲𝔯-𝔑𝔶𝔞 𝔨𝔞𝔪𝔲 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔰𝔢𝔪𝔟𝔲𝔥.”
— 𝟷 𝙿𝚎𝚝𝚛𝚞𝚜 𝟸:𝟸𝟺
Surakarta, Katolikana.com- Permenungan dan penghayatan dalam Visualisasi Jalan Salib bukan sekadar drama teatrikal, melainkan devosi meditatif yang membawa umat memasuki sengsara Yesus Kristus secara nyata untuk penebusan dosa manusia.
Via Crucis: Amor et Redemptio
(Jalan Salib: Kasih dan Penebusan) adalah sebuah perenungan kisah sengsara Yesus Kristus yang menekankan pada kasih yang berkorban dan penebusan yang memulihkan.
Tema: “Kasih yang berkorban, penebusan yang memulihkan. Sebuah kisah yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan dalam penghayatan, sebab di dalam luka-Nya, kita menemukan pengampunan”.
Kasihnya tak terbatas
Penghayatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa syukur dan memuliakan Allah atas kasih-Nya yang tak terbatas.
Visualisasi adegan demi adegan—mulai dari Yesus dijatuhi hukuman mati hingga dimakamkan—menunjukkan totalitas penyerahan diri Yesus.
Visualisasi membantu umat tidak hanya menjadi penonton, melainkan “teman seperjalanan” Yesus.
Keterhubungan dan belarasa terjadi ketika penderitaan, kegagalan, dan ketidakadilan yang dialami sehari-hari diletakkan dalam konteks jalan salib Yesus.
Ini adalah momen untuk menghayati bahwa Yesus memahami penderitaan kita dan hadir di dalamnya.
Pemberian diri
“Penderitaan Tuhan tidak cukup kita kagumi tetapi penderitaan Tuhan harus kita hayati dan kita hidupi melalui kerendahan hati, kemurahan hati, kesabaran, pengampunan, kepedulian dan pemberian diri bagi orang lain dan sesama”, kata Romo Hibertus Hartono, MSF Vikaris Parokial Santo Paulus Kleco Surakarta pada akhir kegiatan.
Melibatkan banyak pihak
Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Santo Paulus Kleco, Surakarta pada Jumat (3/4/2026 )pukul 08.00 WIB mengadakan Visualisasi Kisah Sengsara Tuhan Yesus. Visualisasi diadakan di gedung gereja.
Visualisasi diperankan oleh anak-anak, remaja, OMK, orang dewasa dan Pastor Kepala Paroki Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF. Pimpinan produksi Ignatius Bagas dan didukung berbagai pihak, serta ditata dalam paduan naskah, monolog, dialog, musik, tata panggung dan properti yang menyentuh untuk mendukung permenungan dan penghayatan.
Visualisasi dipadukan dengan Doa Jalan Salib setelah Yesus menerima hukuman mati. Setiap stase perhentian, adegan yang menggambarkan peristiwa jalan salib divisualisasikan dengan penuh penghayatan.
Dalam visualisasi yang dipadukan doa jalan salib, umat berhenti sejenak dari hiruk pikuk dan memandang kembali kasih yang telah diberikan sepenuhnya dari Sang Penebus.
Jalan sunyi
Ada jalan yang dilalui dalam sunyi. Jalan yang dipenuhi luka, namun dipeluk oleh kasih yang tak bertepi.
Di setiap langkah menuju Golgota, tersimpan cinta yang memilih bertahan.
Di balik derita yang dipikul di bahu-Nya, ada keselamatan yang dipersiapkan bagi kita.
Melalui visualisasi kisah sengsara Tuhan Yesus, Umat Santo Paulus Kleco menapaki kembali perjalanan iman yang penuh makna.
Visualisasi Via Crucis atau Jalan Salib merenungkan 14 perhentian kisah sengsara Yesus, dari hukuman mati oleh Pontius Pilatus hingga dimakamkan yang diadakan Paroki Kleco diikuti umat baik anak-anak, remaja, orang tua dan lansia. Banyak umat yang hadir, hadir bersama keluarga.
Umat dengan khidmad mengikuti visualisasi dan doa yang menghadirkan kembali kehadiran Tuhan dan pengorbanan-Nya.
Membimbing umat
Momen Visualisasi Via Crucis bagi Paroki Santo Paulus Kleco menjadi bagian yang meneguhkan gerak pastoral berjalan bersama dengan kaum muda yang berpengharapan serta mengembangkan talenta yang dimiliki kaum muda. Gereja meneguhkan kaum muda untuk berbagi iman dan menemukan serta merefleksikan makna hidup kristiani di tengah zaman ini.
Selain itu dalan konteks pendampingan iman, Gereja membimbing umat untuk tidak hanya sekadar mengetahui iman, tetapi menghayatinya hingga dibatinkan (internalisasi).
Gereja Santo Paulus Kleco dalam konteks visualisasi membimbing refleksi iman umat, yang bertujuan untuk membawa umat pada kedewasaan iman, hidup yang dibaharui oleh Injil yang menjadi penuntun hidup dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta