Paskah, Melawan Budaya Kematian

Kejadian 1:1-2:2; Keluaran 14:15:15:1; Yesaya 55:1-11; Roma 6:3-11; Matius 28:1-10

Katolikana.com- Merayakan Paskah berarti merayakan kehidupan. Bukan hanya kehidupan, melainkan kehidupan yang menghancurkan kematian.

Perang antara keduanya berlangsung dari awal zaman hingga saat ini.

Merayakan Paskah itu lebih dalam dan bermakna dari kegiatan liturgi, tetapi aksi aktual berkelanjutan melawan budaya kematian.

Dimulai dari warta penciptaan
Sabda Tuhan pada malam paskah dimulai dengan warta tentang penciptaan atas segala yang hidup, diikuti dengan berita tentang pembebasan bangsa Israel dari Mesir, lambang perbudakan dosa dan kematian.

Selanjutnya, Yesaya mengajak orang mencari Tuhan, Sang Sumber Kehidupan. Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan tentang hidup baru melalui pembaptisan: mati dan bangkit bersama Yesus.

Yesus telah bangkit
Injil Matius memberitakan bahwa Yesus yang telah wafat dan dimakamkan tidak berada lagi dalam makam. Dia telah bangkit dari antara orang mati. Dia mendahului para murid-Nya pergi ke Galilea. Kematian bukan tembok tebal, melainkan pintu masuk menuju kehidupan.

Yesus pergi ke Galilea untuk memenuhi janji-Nya (Matius 26:32) dan memulihkan keberanian para murid yang melarikan diri saat penangkapan-Nya. Galilea adalah tempat panggilan awal mereka—tempat mereka meninggalkan jala dan mengikut Dia.

Dengan kembali ke Galilea, Yesus menunjukkan bahwa kegagalan tidak menghapus panggilan. Pemulihan mengatasi rasa malu. Petrus yang menyangkal tiga kali dan para murid yang lari diberi awal yang baru di tempat dulu mereka memulai iman.

Kembali pada panggilan pertama
Kebangkitan bukan hanya kemenangan atas maut, tetapi juga undangan untuk kembali kepada panggilan pertama dengan pengampunan penuh.

Kesalahan dibalas dengan pengampunan. Penyangkalan dijawab dengan kesetiaan. Kerapuhan dibayar dengan kekuatan. Putus asa diubah menjadi pengharapan. Kematian dikalahkan oleh kehidupan. Kegagalan bukan akhir, melainkan awal perjuangan baru bersama Yesus yang telah bangkit.

Mentalitas kebangkitan
Bersama Yesus, kita mengusir budaya kematian dan menggantinya dengan mentalitas kebangkitan. Kehancuran dipulihkan dengan pembangunan. Kegagalan dijadikan awal keberhasilan. Sakit hati disembuhkan dengan mengampuni.

Di tengah budaya perang, kebencian, balas dendam, dan kehancuran yang diliputi kegelapan, bersama Kristus yang bangkit kita diajak membawa terang dan damai. Dalam amukan emosi dan saling membalas tanpa henti yang berujung destruksi, kita dipanggil untuk menjadi para pemulih dan pembawa restorasi serta rekonstruksi.

Paskah tidak berhenti pada liturgi. Salam selamat paskah tidak menguap di depan gereja, melainkan berlanjut dalam sikap hidup konkret dalam keluarga, di tempat kerja, paroki, dan komunitas kita. Merayakan paskah berarti mengganti budaya kematian dengan mentalitas kehidupan. Kita dilahirkan bukan untuk mati, melainkan mati untuk memasuki kehidupan. Selamat Paskah. Alleluia.

Vigili Paskah, 4 April 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.

Budaya mencintai kehidupanRenunganVigili Paskah
Comments (0)
Add Comment