Surakarta, Katolikana.com – Hari Raya Paskah 2026 pada hari Minggu, 5 April 2026 memperingati kebangkitan Yesus Kristus setelah wafat pada Jumat Agung. Perayaan ini merupakan puncak Pekan Suci yang menandai kemenangan atas dosa dan kematian.
Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta pada Minggu (5/4/2026) mengadakan Perayaan Ekaristi Hari Raya Paskah II, pukul 11.00. Ekaristi diperuntukkan umat yang sakit dan kaum lansia yang membutuhkan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Hibertus Hartono, MSF dan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF.
Dalam perayaan Ekaristi, setelah homili bagi umat yang sakit dan lansia diberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Pemberian Sakramen Pengurapan Orang Sakit diberikan oleh tiga romo yakni Romo Hibertus Hartono, MSF dan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF serta Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF.
Homili Misa
Homili misa disampaikan Romo Hibertus Hartono, MSF. Dalam homili, Romo Hibertus Hartono, MSF mengajak umat merenungkan sikap tokoh yang disebutkan dalam Injil yaitu Maria Magdalena, Petrus dan Yohanes ketika datang dan menemukan makam kosong karena Yesus sudah bangkit.
Maria Magdalena karena hatinya gelap, sangat sedih, melihat makam kosong, pikirannya terbersit : “Yesus telah dicuri”.
Petrus yang dalam hidupnya dekat dengan Yesus, sebagai rasul, karena mengalami ketakutan, mendapati makam kosong, masih ragu-ragu, tidak berkomentar apapun.
Paskah memerlukan proses beriman
Murid yang dikasihi Yesus, meskipun belum masuk ke dalam kubur ia merenungkan apa yang dikatakan Tuhan dan merefleksikan.
Ketika masuk dalam kubur dikatakan dalam Injil :”Dan dia percaya”.
Dari tiga tokoh tersebut permenungannya berbeda karena pengenalan akan Tuhan juga berbeda, kedekatan akan Tuhan juga berbeda. Suasana hati juga berbeda.
Dalam hidup kita, merayakan paskah memerlukan proses beriman.
Beriman itu tidak perlu bukti tetapi beriman itu menuntut sikap hati. Sikap hati yang perlu masuk dalam misteri itu. Logika seringkali tidak bisa memahami.
Yohanes murid yang dikasihi Yesus memiliki sikap hati yang berani percaya. Berani masuk dalam misteri paskah ini.
Belajar dari misteri PASKAH ada 6 keutamaan yang bisa dilihat dari paskah itu sendiri yakni Percaya, Asa, Sukacita, Kebangkitan, Arah baru dan Hidup baik.
Percaya
Memahami paskah tanpa percaya akan sia-sia. Makam kosong belum bukti yang valid bahwa Yesus bangkit. Tetapi jika percaya bahwa makam kosong berarti Yesus bangkit itu menjadi pertumbuhan iman yang baik.
Ajakan rasul Paulus pada jemaat di Kolose :”Pikirkanlah perkara-perkara yang diatas dan bukan yang di bawah”. Hal ini mau menyatakan bahwa percaya menuntut keyakinan iman.
Percaya menuntut sisi kerohanian kita. Paskah harus dirayakan dengan iman yang mengandalkan Tuhan.
Asa
Asa atau harapan. Setelah percaya ada harapan. Percaya pada pribadi yang sungguh-sungguh memberi perlindungan, yaitu Kristus yang bangkit. Hal ini seperti diungkapkan pada Kisah Para Rasul: “Barang siapa percaya akan Kristus yang bangkit akan memperoleh keselamatan”.
Sukacita
Paskah menghadirkan sukacita. Kegembiraan.
“Ibu Bapak dan para umat, dalam satu kesempatan santai dan melihat keindahan alam, mana yang lebih disukai melihat matahari terbit (sunrise) atau matahari tenggalam (sunset)?” tanya Romo Hibertus Hartono, MSF kepada adiyuswa.
Kadang-kadang melihat matahari yang terbit indah. Matahari tenggelam juga indah.
Tanda alam ini memberikan simbol pada hidup kita. Kadangkala kita terpukau saat hidup kita muncul lalu kecewa begitu tidak memiliki harapan ketika usia mau meredup. Jika meredupnya seperti senja yang merah dan indah seperti sunset maka bisa dihayati sebagai sesuatu yang indah.
“Hidup kita sebagai pribadi , kita bersyukur karena ada sukacita, ketika masih berkarya, meninggalkan jejak-jejak yang bermakna, seperti “sunset” yang bermakna keindahan dan kebaikan. Inilah spirit untuk para lansia. Menjadi seperti matahari tenggelam (sunset), dengan berkarya yang baik dan akan indah karena memancarkan keindahan di masa senja. Itulah akhir hidup dengan sukacita”, lanjut Romo Hibertus Hartono, MSF.
Kebangkitan
Dengan percaya, asa, sukacita maka dalam hidup ada kebangkitan. Ada hal baru yang dikembangkan. Diperjuangkan.
Warta paskah memberi sesuatu yang baru, seperti halnya rasul yang berlari, bergerak. Paskah Tuhan menggerakkan lebih baik.
Arah
Arah baru yang ingin dicapai. Orientasi baru, jika dalam bacaan kedua orientasi rohani memikirkan perkara yang diatas.
Hidup baik
Hidup baik dan mengarah ke hidup kekal. Paskah menggerakkan adiyuswa, orang tua yang semakin bermakna.
Makam kosong dalam bacaan Injil bisa dimaknai “ketiadaan”. Kosong ada yang memaknai tidak berguna.
Kondisi lansia seperti sarang kosong. Ketika anak-anak berkeluarga, meninggalkan Ibu dan Bapak, keluarga seperti sarang kosong. Tinggal berdua.
Kosong bisa dimaknai sebagai keheningan, waktu yang banyak untuk Tuhan. Kesunyian.
Jika kita mau mengosongkan diri, kita bisa memaknai sebagai keheningan.
Lansia saksi kehidupan
Santo Paus Yohanes Paulus II, 1 Oktober 1999, mengeluarkan satu surat untuk para orang tua lanjut usia. Judulnya “Letter to the Elderly”. Isinya antara lain: Lansia seperti sunset, saksi kehidupan yang tiada duanya. Sumbangan orang tua dalam kehidupan lewat doa-doa. Orang tua adalah teladan yang baik untuk kehidupan.
Lansia sudah banyak makan asam garam, menjadi saksi, memberikan testimoni kehidupan yang diwariskan pada anak cucu.
Lansia semakin “menep”, mengendap, semakin “maneges”, merenungkan dengan baik dan “mandita”, bijaksana.
Hidup lansia bermakna karena ada dan punya Tuhan. Tuhan menyertai.
Akhir homili Romo Hibertus Hartono, MSF dan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF mengajak umat untuk menyanyikan bersama lagu: “Tanpamu” yang dinyayikan Tetty Kadi dengan catatan ada penggantian teks lyrik “mu” menjadi “Mu” yang bermakna Tuhan.
Tanpamu
Sekuntum bunga indah
Yang sedang mekar
Selalu merindukan sinar surya
Selalu merindukan jatuhnya embun
Seperti ku yang selalu menunggumu
Tanpamu, apa artinya?
Tanpamu, serasa hampa
Gairah hidup ‘kan musnah
Selamanya
Denganmu, aku merasa
Denganmu, pasti ‘kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta