Jauh dari Panti Imam Dekat Dengan Peristiwa Iman: Refleksi Panitia Paskah Paroki Banteng

Di luar tugas liturgi apakah ada ekspresi iman? Ini refleksi saya ketika menjadi bagian dari panitia Paskah untuk urusan-urusan non-liturgi.

Katolikana.com—Tahun 2026 ini, umat Lingkungan Santo Gregorius Agung bersama tiga lingkungan di Wilayah Santo Robertus Candi dan dua wilayah lain di Paroki Keluarga Kudus Banteng, Yogyakarta, mendapat tugas sebagai panitia Paskah dan Natal. Tugasnya meliputi perlengkapan, kelistrikan, keamanan, parkir, dan konsumsi. Jauh dari panti imam namun dekat dengan peristiwa iman.

Persiapan sebelum rangkaian Paskah: memasang, menata, memastikan rapi dan nyaman.

Tawaran ambil bagian

Jauh hari, ketua dan beberapa pengurus lingkungan hadir di rapat-rapat panitia di panti paroki. Bersamaan, di WAG lingkungan diedarkan pengumuman siapa saja yang bersedia ambil bagian dari tiap-tiap tugas.

Antusias! Semangat ini sangat terasa dalam komunikasi virtual. Tidak muda tidak tua mengajukan diri walau sudah diwanti-wanti, “Bakal melelahkan, lho!”

Tentu ini bukan glorifikasi. Sebagaimana diketahui, tugas-tugas yang ditawarkan adalah tugas-tugas di balik layar. Tidak terlihat langsung oleh umat, misalnya, seperti tata laksana dan koor. Sebagian tugas kami sudah harus selesai sebelum umat datang, lalu kami membereskannya kembali sesudah umat pulang.

Saat umat sudah di gereja, kami bersiaga di titik-titik tertentu tanpa umat tahu bahwa orang-orang yang duduk di antara mereka membagi telinga antara mendengarkan homili romo dengan memastikan sistem suara membantu umat menangkap kotbah itu dengan jelas. Saat umat sedang berdoa dengan khusuk, kami clingak-clinguk adakah umat yang gelisah karena kipas angin menyentor terlalu kuat, atau bahkan mengipas-kipaskan teks misa karena kipas angin kurang tepat mengarah ke mereka.

Darurat di tenda darurat: segera atasi tanpa mengganggu jalannya liturgi.

Di belakang altar untuk umat di depan altar

Tugas kami non-liturgial, namun kami diminta untuk membantu umat nyaman beribadat. Umat diusahakan bisa khusuk meski dengan itu kami mesti kasak-kusuk lewat handy talky, “Cari tangga, tempat koor bocor.”

Bukan bocor lagi. Saat ibadat Jumat Agung pertama, tepat di waktu-waktu ketika Yesus dikabarkan terkulai di kayu salib, sekira pukul tiga, hujan deras mengguyur tiba-tiba. Iya, tiba-tiba. Sebelumnya cuaca cerah, bahkan panas. Ruang koor yang menjorok keluar untuk menampung tambahan personal petugas, dengan tambahan tenda di atasnya, membludak air di atasnya. Ada paralon yang tersumbat dedaunan.

Sebagian umat yang duduk di bawah tenda di halaman depan Taman La Salette juga mesti merangsek mencari tempat berteduh di lorong dalam yang sudah terisi umat lain. Kami beranjak membantu umat mengusungkan kursi mereka dan memindahkannya ke tempat yang lebih nyaman.

“Segera cari pel,” komunikasi kami yang lain. Anak-anak, yang ketika sebelum hujan bermain di taman belakang aula, begitu hujan berlarian ke sana-kemari. Girang mereka menyambut hujan. Kami melihat, tak mudah bagi orang tua mengendalikan mereka. Di pikiran kami, jangan sampai ada yang jatuh terpeleset tampias air di selasar.

Menyiapkan terang sebelum menjadi terang

Itu saat misa dan di dalam area gereja. Di luar misa, dan di hari-hari sebelumnya, kami sudah berada di gereja. Menata kursi, memastikan arah hadapnya tepat dan lalu-lintasnya lancar. Memasang lampu tambahan, memastikan setiap sudut terang.

Mudah? Iya. Menata benda-benda mati itu mudah. Yang tidak mudah adalah menata hati mengakomodasi permintaan-permintaan. Sebagai pelaksana, kami hanya mengerjakan sesuai permintaan panitia lain yang berhubungan dengan liturgi. “Diubah lagi ya susunannya.” Dan, kami junjung-pindahkan lagi. Sebentar kemudian, “Kembali ke posisi semula. Ternyata….”

Menggerutu? Wajar. Menertawakan? Harusss. Untunglah teman-teman panitia orang-orang yang berbesar hati. Dinamika seperti itu dijalani dengan gembira. Tidak mutungan. Ini penting. Dalam kerja bersama, menurunkan ego masing-masing itu penting. Apalagi bagi yang pintar dan berpengalaman, menerima perintah dari orang yang tidak lebih berpengalaman namun mendapatkan tugas memimpin itu tidak mudah. 

Dasar sikap ini sederhana: semangat melayani. Kami belajar, setiap pribadi yang terlibat dalam kepanitiaan ini terpanggil untuk melayani. Melayani yang terbaik. Setiap pribadi ingin bekerja secara penuh. Ingin sempurna.

Terbaik tanpa berlomba jadi yang terbaik

Namun, jika keinginan masing-masing pribadi tidak dipertemukan, yang terasa adalah kompetisi. Seolah-olah semangat pribadi yang satu lebih baik dari yang lain. Jika ini yang dikedepankan, gesekan yang terjadi. Dan ujung dari gesekan adalah luka: ada yang melukai, ada yang terlukai.

Syukur bahwa ini Paskah. Yesus sendiri hadir dengan keteladanan-Nya berinkarnasi. Bukan hanya merendahkan diri, dan menyediakan dirinya terluka, bahkan ia mau menderita di kayu salib menanggung stigma mesias yang gagal. Lebih dari sekadar dihina, Ia pasrah dicampakkan oleh mereka yang menempatkan diri lebih berkuasa.

Kamis Putih bagi kami panitia perlengkapan hidup dalam peristiwa-peristiwa di luar peribadatan. Dalam pekerjaan-pekerjaan mengusung, menata, merapikan, mengubah, lalu merapikan lagi, kami diingatkan bagaimana melayani itu kata sifat yang membadan sebagai kata kerja. Melayani bukan konsep abstrak melainkan konkret.

Meneladan Yesus yang membasuh kaki para murid, kami mengusap kursi demi kursi yang akan diduduki oleh umat. Melap debu dan air. Supaya pantat—pintu kotoran—umat yang akan duduk lebih nyaman. Umat yang kemudian menduduki kursi-kursi tersebut tahukah ada tangan-tangan yang berani kotor yang sebelumnya telah menyediakan tempat yang bersih itu?

Lampu-lampu dipasang di mana-mana, yang untuk menggantungkannya mesti naik-turun tangga, yang tangga tak ringan itu mesti diusung ke sana-kemari, supaya “terang” yang diamanatkan-Nya lebih dulu kami upayakan. Betapa “terang” itu bukan kata-kata kosong. Ia disusun dari uluran kabel, balutan isolasi di sambungan-sambungan, uliran bohlam yang presisi, dan aliran stroom yang menyengat dan membahayakan jika kabel terkelupas dan tersenggol.

Kembali bersih: saat umat sudah pulang.

Mengubah peristiwa kecil sebagai perayaan besar

Ada kutipan dari Filsuf Socrates, “Hidup yang tak direfleksikan tak layak dirayakan.” Sentilan bagi saya: pelayanan yang tak dimaknai hanya kesibukan layaknya pekerja upahan.

Itu juga berlaku kala kami bertugas parkir pada Minggu Palma. Jika tak disadari dan dimaknai sebagai bagian dari pengolahan iman, parkir itu capek. Betapa tidak. Tak semua umat memahami apalagi menghargai petugas parkir. Ada saja yang rewel dan tidak mau diatur. Ada saja yang sembarangan meletakkan kendaraannya di tempat yang mereka suka—dekat dan teduh—dengan mengabaikan arahan petugas untuk lebih dulu mengisi tempat yang kosong—dengan risiko jauh dan panas. Juga ada yang ketika keluar dari kompleks gereja, setiba di pinggir jalan raya untuk menyeberang atau membelok, tidak menyalakan lampu sein sehingga petugas tidak mengetahui arah yang mau dituju dan tidak tahu tindakan apa yang mesti dibuat—hanya umat dan Tuhan Allah yang tahu arahnya.

“Tenang,” nasihat seseorang kepada kami. Tentu kami menganggukkan kepala dalam-dalam. Bukan hanya setuju, kami memiliki ketenangan yang luar biasa: salah satu koordinator kami bernama Pak Tenang.

Begitu akhirnya. Selain dengan ketenangan, kami juga melepas ketegangan dengan guyon. Setiap peristiwa emosional kami bawa dalam sikap netral, meminjam kata-kata Yesus, “Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kami tempatkan kata-kata itu pada diri kami sendiri, lalu kami sesuaikan, “Mereka tidak perlu tahu apa yang kita perbuat.”

Dari sebagian pengalaman ini saya belajar apa yang dikenalkan Santo Ignatius dari Loyola tentang menemukan Tuhan dalam segala (finding God in all things). Mungkin refleksi ini terlalu dangkal, dalam arti yang saya temukan bukan Tuhan, melainkan pertanyaan, “Apa kehendak Tuhan lewat peristiwa-peristiwa ini?” Lanjut lagi, mungkin juga ini belum menyentuh aspek refleksi iman, melainkan baru refleksi motivasi manusiawi, “Tidak boleh kalah dari rasa lelah.”

Selamat Paskah!

Tim Komunikasi LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang), Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia, dan Enam Mata Co & Solutions.

Comments (0)
Add Comment