Mgr. Maksimus Regus: Gereja Lokal Labuan Bajo Akan Kuat Bila Imam dan Umatnya Berjalan Bersama

Manggarai Barat, Katolikana.com – Paroki Santo Martinus Bari merayakan Misa Krisma yang dirangkaikan dengan pembaruan  janji imamat serta syukur perak imamat pada Jumat (10/042026), dalam suasana penuh iman, syukur, dan harapan. Perayaan ini menjadi momen istimewa bagi seluruh umat di Paroki St. Martinus Bari Kecamatan Macang Pacar Kabupaten Manggarai Barat untuk  mengalami kembali makna pengurapan dan panggilan sebagai Gereja yang hidup di tengah dunia.

Dalam perayaan tersebut, para imam memperbarui janji imamat mereka sebagai tanda kesetiaan kepada Kristus Sang Imam Agung dan komitmen untuk terus melayani umat dengan hati yang tulus. Momen ini sekaligus mengajak seluruh umat untuk merenungkankembali panggilan hidup masing-masing sebagai saksi kasih Allah di tengah berbagaitantangan zaman.

Secara khusus, umat juga bersyukur atas 25 tahun perjalanan imamat Mgr. Maksimus Regus, bersama Rm. Benediktus Hengki dan Rm. Charles Suwendi. Syukur ini menjadi kesaksiannyata bahwa panggilan Tuhan, ketika dijalani dengan setia, akan berbuah dalam pelayananyang menghidupkan Gereja dan masyarakat.

Dalam kotbahnya Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus menekankan bahwa yang diurapi hari ini agar selalu berjalan bersama, bersaksi dan menyampaikan kabar baik.

Mgr. Maksi menjelaskan bahwa hari ini Gereja partikular kita berkumpul di sekitar altar dan kursi uskup untuk merayakan salah satu liturgi yang paling kaya makna dalam seluruh tahun gerejawi adalah misa Pemberkatan Minyak dan Pembaharuan Janji Imamat.

Para imam di Keuskupan Labuan Bajo setelah perayaam pe,baruan janji imamat dan syukur pesta perak imamat. Foto: Vinsensius Patno

Di sini Gereja menampakkan wajahnya yang paling dalam yaitu Ecclesia uncta, Ecclesia missa yang artinya Gereja yang diurapi dan Gereja yang diutus.

Sabda Tuhan hari ini tidak hanya menjelaskan identitas Kristus, tetapi juga identitas Gereja dan kita para imam yang mengambil bagian dalam imamat-Nya.

Di tengah realitas pastoral kita hari ini, saya melihat ada tiga isu krusial yang sangat menentukan hidup Gereja yaitu Kehadiran, Kesatuan, dan Kesaksian. 

Isu pertama adalah kehadiran. Di zaman ini, banyak umat pertama-tama tidak hanya bertanya apakah Gereja memiliki program yang baik, tetapi apakah Gereja sungguh hadir dalam luka hidup mereka?

Nabi Yesaya memberi jawaban yang sangat menyentuh. “Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, untuk merawat orang-orang yang remuk hati”. Inilah praesentia misericordiae atau kehadiran belas kasih.

Kehadiran Gereja  pertama-tama bukan administratif, melainkan inkarnatif artinya hadir di rumah yang berduka, di keluarga yang retak, di kaum muda yang bingung, di mereka yang sakit, miskin, dan merasa tersisih.

Minyak orang sakit yang diberkati hari ini menjadi tanda konkret bahwa Tuhan tidak pernah jauh dari penderitaan umat-Nya. Maka para imam dan seluruh pelayan Gereja dipanggil menjadi kehadiran yang menyembuhkan; wajah Kristus yang datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan.

Isu kedua adalah kesatuan. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh generasi, kepentingan, bahkan cara pandang pastoral Gereja dipanggil untuk menampakkan communio. Wahyu mengingatkan kita. “Ia telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah”. Perhatikan kata “kita.”

Uskup Mgr. Maksi disambut umat Paroki Martinus Bari/Foto: Vinsensius Patno

Imamat tidak pernah individualistik. Tidak ada imam yang melayani sendirian. Hari ini, ketika para imam memperbarui janji imamat, yang kita rayakan bukan sekadar memori tahbisan, tetapi communio presbyterii kesatuan presbiterium dengan uskup. 

Inilah keindahan Misa Krisma yakni satu altar, satu uskup, satu presbiterium, satu umat. Disinilah Gereja menjadi tanda profetis bagi dunia. Perbedaan karisma, usia, paroki, dan medan pelayanan tidak memecah, tetapi memperkaya satu tubuh Kristus.

Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo, hanya akan kuat bila kita berjalan bersama dimana uskup bersama imam, imam bersama umat, umat bersama mereka yang paling kecil.

Isu ketiga adalah kesaksian. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan banyak kata, tetapi juga hidup yang dapat dipercaya. Wahyu menyebut Kristus adalah “Saksi yang setia”. Ia adalah testis fidelis atau saksi yang setia sampai wafat dan kebangkitan.

Dalam Injil Lukas, Yesus menutup pembacaan Yesaya dengan sabda yang sangat kuat bahwa“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk 4:21).

Kata hari ini menunjukkan bahwa Injil harus menjadi kenyataan yang tampak sekarang, bukan hanya konsep yang indah. Karena itu, jawaban atas krisis dunia modern bukan sekadar dokumen atau pidato, tetapi testimonium paschale atau kesaksian hidup yang lahir dari Kristus yang wafat dan bangkit.

Para imam memberi kesaksian melalui kesetiaan, kesederhanaan, dan sukacita pelayanan. Umat memberi kesaksian melalui keluarga yang hidup dalam kasih, kaum muda yang berani beriman, dan komunitas yang berpihak pada yang kecil. Kesaksian adalah Injil yang dapat dibaca dunia.

Hari ini Firman Tuhan menjawab tiga kebutuhan terdalam Gereja kita yaitu kehadiran dijawab oleh praesentia misericordiae, kesatuan dijawab oleh communio presbyterii, kesaksian dijawab oleh testimonium paschale 

Mgr. Maksi berharap ketika minyak diberkati dan janji imamat diperbarui, Gereja Labuan Bajo sungguh menjadi Gereja yang hadir, Gereja yang bersatu, dan Gereja yang memberi kesaksian. Benarlah sabda Tuhan bahwa Ia telah mengurapi kita dan Ia mengutus kita. Untuk kehadiran, untuk kesatuan dan untuk kesaksian. 

Perayaan ini dihadiri oleh hampir semua imam yang berkarya di Keuskupan Labuan Bajo, baik di paroki maupun di lembaga. Selain para imam hadir  juga para suster, bruder dan frater. Perayaan ini dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan dimeriahkan oleh paduan suara dari OMK Paroki St. Markus Pateng. 

Seluruh rangkaian perayaan mulai dari penerimaan Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan rombongan imam, misa dan agape diatur oleh Panitia Paroki St. Martinus Bari.  

“Biasanya misa krisma dan pembaruan janji imamat dilaksanakan di Gereja Katedral. Tetapi kali ini dilaksanakan di sebuah paroki di pesisir pantai utara. Dengan itu kami bisa melihat dan merasakan situasi umat di sini. Juga pergumulan pastoral dari rekan imam yg berkarya di sini. Kiranya hal spt ini dilanjutkan”, kata Rm. Servulus Juanda.

Sejak tahun lalu, Keuskupan Labuan Bajo memulai tradisi yang baru, yakni misa krisma dan pembaruan janji imamat dirangkaikan dengan perayaan syukur perak dan pancawindu dari para imam. 

“Ini akan menjadi tradisi untuk Keuskupan Labuan Bajo ke depan. Kita memberi apresiasi khusus untuk para imam yang telah melawati perak dan pancawindu penggembalaan. Hal ini juga dibuat sebagai wujud kesatuan dan persaudaraan imamat dalam pelayananan yg sama dalam penggembalaan Bapa Uskup”, kata Rm Frans Nala

Rm. Beni Hengki, Pastor Paroki Bari, mengapresiasi penunjukan  Uskup Labuan Bajo Mgr, Maksimus Regus kepada Paroki Bari sebagai tuan rumah pelaksanaan perayaan ini. 

“Ini sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi kami disini, karena pertama kali perayaan besar tingkat keuskupan diselenggarakan di tingkat paroki, apalagi di tempat kami yg sulit dalam banyak hal seperti akses, penerangan, jaringan internet, dan lain-lain. Semoga ini membawa berkat perubahan bagi kami disini”.

Melalui pengurapan minyak krisma, Gereja menegaskan identitasnya sebagai umat yang diurapi dan diutus. Tidak hanya para imam, tetapi seluruh umat dipanggil untuk “mengurapi dunia dengan kasih” melalui tindakan nyata yaitu menghadirkan pengampunan, keadilan, dan kepedulian di tengah kehidupan sehari-hari.

Mengurapi dunia dengan kasih melalui pembaruan janji sebagai jalan kesaksian menjadiundangan sekaligus tantangan. Kesaksian iman tidak berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Pembaruan janji bukan sekadar ritual, melainkankomitmen untuk terus setia berjalan bersama Kristus dan menghadirkan terang-Nya bagidunia.

Perayaan ini meneguhkan kembali bahwa Gereja hidup dari kesetiaan yaitu kesetiaan para imam dalam panggilannya, dan kesetiaan umat dalam menghidupi iman. Dari altar, umat diutus untuk menjadi saksi kasih, membawa harapan, dan menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih di tengah dunia.

Penulis adalah kontributor Katolikana.com di Labuan Bajo.

Keuskupan Labuan BajoMgr. Maksimus Regus
Comments (0)
Add Comment