Surakarta, Katolikana.com- Rangkaian Pameran Mukjizat Ekaristi dan Ziarah Relikui Santo Carlo Acutis hari kedua yang diselenggarakan Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik (BP PKK) bekerja sama dengan Obor Media di Gereja Santo Paulus Kleco, Sabtu (2/5/2026) menggelar Talkshow Kudus di Era Digital, Belajar dari Carlo Acutis.
Sedikitnya 187 umat di Kevikepan Surakarta yang terdiri dari anak-anak, orang muda, dewasa dan adiyuswa terlihat memenuhi Ruang Berthier Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta.
Hadir dalam talkshow
Hadir pula Moderator BP PKK Kevikepan Surakarta Romo Fransciskus Anggras Prijatno, MSF., Vikep Kevikepan Surakarta Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr., Komisi Kepemudaan Romo Fransiskus Yunarvian Dwi Putranto, Pr., Komisi Kerasulan Mahasiswa Romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, SJ.,
Juga hadir Direktur Penerbit dan Toko Buku Obor Romo Antonius Gregorius A Lalu Pr , Penerjemah Buku dan Penggiat Orang Muda Katolik Heryawan Cahyana, dana dari Penerbit dan Toko Buku Obor Prasetyo.
Penerbit buku Obor
Nara sumber dalam acara Talkshow Romo Antonius Gregorius A Lalu Pr (akrab dipanggil Romo Steven A Lalu), Heryawan Cahyana (Penerjemah Buku Rahasia Carlo Acutis) dan RP Antonius Bagas Prasetya Adi Nugroho, SJ. dari Paroki Santo Antonius Padua Purbayan Surakarta.
Moderator dalam acara ini Cecylia Florens Adela dengan MC Ramohan YMS dan Ansie Ancika.
Kudus di era digital
Santo Carlo Acutis, santo milenial, pelindung internet, kaum muda dan pemrograman komputer. Ia dijuluki “God influencer”, influencernya Tuhan.
Siapa Carlo Acutis?
Menurut Romo Steven A Lalu, besok jika Carlo Acutis belum meninggal Minggu, 3 Mei 2026 berusia 35 tahun, namun ia hanya hidup 15 tahun. Carlo Acutis seorang muda, yang biasa, yang mencintai komputer dan internet. Yang luar biasa dari Carlo Acutis, menurut ibunya, menempatkan arah dan tujuan, fokus hidupnya pada Tuhan Yesus. Ini merupakan kunci kekudusan, yang disebut Gereja sebagai orang kudus.
Secara manusiawi ia juga berdosa. Menjadi orang kudus karena ia fokus kepada Tuhan. Segala sesuatu diarahkan kepada Tuhan. “Poinnya bukan apa yang dibuat Carlo Acutis yang menjadikannya kudus, tetapi bagaimana ia mengarahkan diri dan hidupnya kepada Tuhan”, kata Romo Steven A Lalu.
Dalam buku “Rahasia Carlo Acutis”, sebuah buku biografi Carlo Acutis, mengisahkan visi seorang santo muda. Dalam buku ini yang menceritakan ibu dari Carlo Acutis sehingga buku ini berjudul “Rahasia Carlo Acutis, mengapa putra saya dianggap orang kudus?”
Harapannya dengan buku yang menuliskan cerita Antonia, ibu Carlo Acutis, banyak yang terinspirasi karena mengetahui kisah hidup Carlo Acutis.
Memaknai Ekaristi
Heryawan Cahyana mengajak audience memaknai ekaristi dengan memperdengarkan lagu “Pie Pelicane” karya Mgr. Yohanes Pujasumarta. Dalam terjemahan :
O pelikan yang baik,
dengan darah Tuhan darah-Mu bersihkanlah aku
Setetes darah-Mu
sudah cukup untuk menghapus dosa seluruh dunia.
Lagu ini menyiratkan hubungan dengan Tuhan melalui Ekaristi.
Melalui perayaan Ekaristi, dalam buku, Antonia, mengajak untuk memaknai Ekaristi. Evangelisasi dalam buku ini evangelisasi untuk mencintai Ekaristi.
Evangelisasi, hubungan dengan Tuhan dan kaum muda
Romo Bagas dalam talkshow menyampaikan Carlo Acutis umur 5 tahun sudah akrab dengan bacaan yang cukup berat dan setiap hari melakukan jurnaling, menulis apa yang ia rasakan ketika bertemu dengan Tuhan dan berbagai hal.
Catatan-catatan Carlo Acutis dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku. Ketika ibu Carlo Acutis mengumpulkan tulisan-tulisan Carlo Acutis dan memori-memorinya, ibunya dengan mudah menemukan catatan-catatan itu.
Buku Rahasia Carlo Acutis
Catatan-catatan itu bisa ditemukan di “Buku Rahasia Carlo Acutis” pada bagian Mukjizat Ekaristi. Menurut Carlo Acutis “Ekaristi adalah jalan tol menuju surga”.
Carlo Acutis berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika masih kecil sudah membaca buku tentang Santo Benedictus, Santo Ignatius dari Antiokia dan sudah tahu banyak tentang bahasa Latin.
Carlo Acutis merupakan pribadi yang seimbang antara kuantitas dan kualitas. Dengan kuantitas ia melihat Yesus setiap hari dalam Misa Kudus. Akhirnya kualitas hubungannya dengan Yesus terbentuk. Tresna jalaran saka kulina. Cinta itu hadir karena kebiasaan yang dibentuk. Ada percakapan dan komunikasi yang dibentuk.
Dekat dengan Tuhan
Kuantitas mengikuti perayaan Ekaristi diperlukan. Kita dilahirkan original, tetapi hidup dan meninggal seperti fotocopi. Kebanyakan orang memaknai hidup seadanya, “hidup sehidup-hidupnya”.
Kalau mau hidup dan mau memiliki kualitas yang baik dengan Tuhan maka harus dekat dengan Tuhan.
Carlo Acutis menulis :”Kalau hadir dalam Ekaristi tabernakel itu adalah bagian yang paling kudus dari Tuhan”.
Bahasa tubuh saat di gereja
Carlo Acutis juga menulis :”Jika kamu hadir dalam gereja, tubuhmu harus baik posisinya, menyembah dengan baik, berlutut dengan baik, berdoa dengan khusuk. Posisi tubuh menentukan, dengan siapa kita berbicara”.
Carlo Acutis, susah diteladani bagi yang “mager” atau malas gerak. Namun jika mau berubah, mau ketemu Yesus, kalau mau sungguh-sungguh bisa merasakan Ekaristi, mari belajar meneladan dari Carlo Acutis.
Hidup dengan baik
“Jika kamu mau mencintai hari esokmu, hiduplah dengan baik hari ini.”
Hidup dengan baik adalah dengan bertemu Tuhan dalam Ekaristi seperti yang Carlo Acutis lakukan.
Bagaimana menyikapi teknologi digital di era milenial sekarang? Bagaimana kaum muda membangun kerinduan untuk mengikuti Ekaristi?
Video Talkshow memberikan gambaran akan jawaban pertanyaan diatas.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta