Katolikana.com – Ketika menghadapi suatu permasalahan hidup yang berat dan rasanya mustahil diselesaikan, seringkali menimbulkan ketakutan.
Merasa kecil, tak berdaya, merasa tidak pantas dan tidak mampu berbuat apa-apa.
Melihat masalah seperti hantu
Terbentur fokus pada sesuatu yang buruk, segala sesuatu yang kurang dan salah menyebabkan memiliki pandangan yang sempit. Terhimpit. Seperti melihat hantu.
Merasa terganggu oleh hembusan angin, kata-kata orang, senyum sinis, kesuksesan orang lain dan perasaan sendiri, sehingga membuat “terombang-ambing” dan nyaris tenggelam.
Melihat Tuhan berjalan di atas air
Mulanya tidak mengenali, terkaburkan, gelisah namun setelah itu tersadar dan berteriak minta tolong “Tuhan tolonglah aku!”
Setiap masalah akan ada jalan keluarnya. Pertolongan tangan Tuhan akan ikut menyelesaikan persoalan, asal percaya dan menyandarkan diri pada-Nya.
Tuhan hadir di tengah badai. Kini Tuhan hadir dalam komuni. Hosti Suci. Menyatu dalam tubuh dan jiwa bagi yang percaya dan menerima sakramen.
Inilah terjadinya mukjizat. Mulai dari hirupan nafas setiap detik dan terbukanya mata di pagi hari. Juga saat melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama.
Dokter yang bertindak terbaik bagi keselamatan pasien yang kritis. Pasangan suami istri yang memperjuangkan hidup perkawinan dan membahagiakan keluarga.
Orang-orang yang menebarkan pengharapan dalam suasana yang sedang tidak baik-baik saja.
Hidup sebagai bahtera
Hidup bagai sebuah bahtera. Bagian haluan adalah tanggal lahir, dan bagian buritan adalah tanggal kematian. Tiap bagian dalam kapal adalah tiap hari dalam hidup.
Selalu tersedia lautan untuk dijelajahi dengan kompas yang benar sambil memperbaiki diri hingga sampai di dermaga tujuan akhir nanti. Bahtera inilah yang akan dibawa sebagai pertanggungjawaban di waktu akhir kelak.
“Tuhan, Engkau dimana?” Yesus segera menyapa “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” (Matius 14:27).
Sikap percaya, tidak takut, mendorong untuk memiliki sikap pasrah. Pasrah segala sesuatu yang terjadi karena kehendak-Nya.
Membebaskan diri dari pasar transaksional
Membangun sikap doa. Hening. Mengosongkan Bait Allah dalam diri, dan membebaskan kebisingan pasar transaksional dalam hati.
Percaya secara penuh. Mindfullness. Menyadari kehadiran Tuhan. “Aku ini, jangan takut!”
(Direfleksikan dari Homili Misa Minggu, 9-8-2026, pukul 17.00, Romo Hibertus Hartono, MSF di Gereja St. Paulus Kleco Solo.)
Yoke Harsari Untoro – Umat Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta, gemar menulis.
Katekis di Paroki Kleco, Surakarta